Kisah pelarian Keluarga Kudus ke Mesir adalah sebuah narasi tentang ketaatan yang sunyi di bawah langit malam yang mencekam. Sering kali kita membayangkan padang gurun sebagai tempat yang selalu panas membara, namun kenyataannya, jika kita mengikuti garis waktu kelahiran Yesus di bulan Desember, perjalanan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus justru terjadi di tengah puncak musim dingin yang menusuk tulang. Di siang hari, matahari mungkin bersinar terang di langit biru gurun yang luas, namun suhu di wilayah Yudea hingga melintasi Semenanjung Sinai menuju Mesir di bulan Desember dan Januari bisa sangat ekstrem. Angin dingin yang kering berembus kencang, dan saat malam tiba, suhu padang gurun bisa merosot drastis hingga mendekati titik beku. Yusuf harus segera berkemas setelah mimpi yang mengagetkan itu, membawa Maria yang masih lemah dan bayi Yesus yang masih sangat merah untuk menembus kegelapan di tengah suhu malam yang menggigit.
Perjalanan dari Betlehem menuju wilayah perbatasan Mesir bukanlah perjalanan yang mudah; mereka harus menempuh jarak sekitar 400 hingga 500 kilometer. Jika mereka berjalan kaki atau menggunakan seekor keledai, perjalanan ini memakan waktu setidaknya tiga hingga empat minggu yang sangat melelahkan. Mereka tidak melewati jalan raya utama "Via Maris" yang biasa dilalui kafilah dagang karena rute itu dijaga ketat oleh patroli tentara Herodes. Yusuf memilih jalur-jalur tikus yang sunyi di pinggiran gurun, di mana tantangannya bukan hanya suhu dingin yang ekstrem di malam hari, tetapi juga ancaman binatang buas dan perampok. Yusuf, sang pelindung, harus memastikan bayi Yesus tetap hangat di balik jubah tebal Maria, sementara ia sendiri menahan dinginnya angin gurun sambil terus waspada. Mereka adalah pengungsi dalam arti yang paling murni: tidak punya jaminan keamanan, hanya berbekal janji Tuhan.
Berapa lama mereka tinggal di sana? Meskipun Alkitab tidak merincinya, tradisi lisan yang dipegang teguh oleh Gereja Koptik di Mesir meyakini bahwa Keluarga Kudus menetap sebagai orang asing selama kurang lebih tiga setengah tahun. Selama masa itu, Yusuf tidak tinggal diam. Sebagai seorang tukang kayu yang terampil, ia kemungkinan besar mencari nafkah dengan bekerja keras di antara komunitas Yahudi yang cukup besar di Mesir saat itu, terutama di wilayah Babilon, yang sekarang dikenal sebagai Kairo Lama. Pemberian emas dari para Majus sebelum keberangkatan mereka menjadi cara Tuhan yang sangat logis untuk menjamin finansial mereka di negeri asing, membantu biaya perjalanan yang mahal, serta biaya hidup awal di tanah pengasingan. Mesir, yang dulu adalah tempat perbudakan bagi leluhur Israel, kini justru menjadi rahim yang melindungi Sang Mesias dari pedang kekuasaan.
Jejak kehadiran mereka masih terasa sangat kental jika kita mengunjungi Mesir hari ini. Salah satu tempat yang paling mengharukan adalah Gereja Abu Serga di Kairo. Di bawah bangunannya yang megah, terdapat gua kecil yang sempit dan lembap, tempat yang dipercaya menjadi tempat persembunyian Yusuf, Maria, dan Yesus. Tak hanya itu, ada sebuah fenomena yang selalu diceritakan oleh penduduk lokal: hampir di setiap titik tempat mereka beristirahat, selalu muncul mata air yang menyegarkan. Logikanya, kehadiran Yesus yang adalah "Air Hidup" memberikan berkat bagi tanah yang mereka pijak. Mata air ini bukan sekadar keajaiban fisik, melainkan simbol bahwa di mana pun Tuhan hadir, kehidupan akan selalu muncul, bahkan di tengah gersangnya pasir dan dinginnya cuaca musim dingin yang mereka lalui.
Pesan iman dari pelarian ini sungguh mendalam bagi kita yang hidup di masa kini. Kisah ini mengingatkan kita bahwa rencana Tuhan sering kali melibatkan "jalan memutar" yang tidak nyaman dan penuh ketidakpastian. Kita sering mengeluh saat hidup membawa kita ke tempat yang asing atau sulit, padahal mungkin itu adalah cara Tuhan menjauhkan kita dari "Herodes" yang ingin menghancurkan jiwa kita. Yusuf mengajarkan kita tentang ketaatan tanpa banyak bicara; ia tidak memprotes mengapa Sang Raja harus lari dalam kedinginan malam, ia hanya melangkah karena percaya pada suara Tuhan. Bagi siapa pun yang merasa lelah dan terasing, ingatlah bahwa Yesus pun pernah menjadi pengungsi yang kedinginan di padang gurun. Kesucian sebuah keluarga tidak diukur dari kemewahan rumah mereka, melainkan dari kesetiaan untuk tetap bersama dan taat di tengah badai kehidupan. Situasi yang paling pahit sekalipun, jika dijalani bersama Tuhan, akan memunculkan mata air berkat yang baru.
Merry Christmas
(30122025)(TUS)