Senin, 29 Desember 2025

Sudut Pandang Yohanes 1:(1-9) 10-18, (Minggu II Sesudah Natal, Tahun A), Natal belum usai

Sudut Pandang Yohanes 1:(1-9) 10-18, (Minggu II Sesudah Natal, Tahun A), Natal belum usai

PENGANTAR
Hari ini masih dalam masa raya Natal. Masa raya Natal dimula Malam Natal dan berakhir pada Epifania 6 Januari, bahkan sampai hari Minggu 11 Januari 2026, Minggu Pembaptisan Yesus. Koq lama ya? 

Itulah yang membuat saya tidak habis pikir mengapa cukup banyak orang Kristen kebelet merayakan Natal pada masa Adven. Mereka adalah orang Kristen yang kerap berdalih sok rohani bahwa Natal mesti dihadirkan setiap hari di hati. Dalih ini sebenarnya omong kosong. Pertama, apakah mereka masih punya tenaga untuk menyampaikan pesan Natal dalam masa raya Natal ini? Tampaknya mereka sudah lupa akan Natal yang justru masih dalam masa raya Natal. Kedua, dalih itu keliru (kalau tak mau disebut menyesatkan).

Ada dua praktik ibadah dalam jemaat Kristen mula-mula. Jemaat Kristen dari kalangan Yahudi di Tanah Palestina (Yerusalem) beribadah pada Sabat (Sabtu) di sinagoge dan sesudah itu mereka berkumpul di rumah-rumah untuk memecah-mecah roti serta mendengar pengajaran para rasul. Bagi Gereja Kristen-Yahudi mula-mula hari pertama (atau yang kemudian disebut Minggu) dipandang sebagai hari kebangkitan Kristus  sehingga menjadi pelengkap ibadah pada Sabat/Sabtu. Jemaat Kristen di luar Tanah Palestina lazim mengadakan ibadah pada hari pertama (Echad/Ahad), karena mereka merayakan kebangkitan Kristus pada hari pertama (dalam sepekan) yang kemudian disebut dengan (hari) Minggu.

Praktik ibadah Kristen pada Sabat di Tanah Palestina ternyata menimbulkan konflik dengan orang-orang Yahudi. Korban konflik yang terkenal adalah Stefanus seperti dalam narasi Kisah Para Rasul 6:8 – 8:1a. Lambat laun ibadah mereka bergeser pada hari Pertama atau Minggu. Ibadah Minggu menjadi istimewa karena perayaan kebangkitan Kristus. Umat merayakan kebangkitan Kristus setiap pekan dalam ibadah atau kebaktian Hari Pertama yang disebut dengan Minggu. 

Hari Minggu kemudian menjadi poros ibadah harian. Maksudnya ialah setiap ibadah Kristen berpusat pada kebangkitan Kristus yang secara tradisi diimani oleh Gereja sejak mula-mula terjadi pada Hari Pertama atau Minggu. Dengan demikian yang harus dihadirkan di dalam hati umat Kristen setiap hari adalah kebangkitan Kristus atau Paska, bukan Natal. Dari kesaksian akan kebangkitan Kristus itu tercerminlah seluruh karya Allah lewat Yesus Kristus.

Memang tidak ada hukum Kristen yang melarang umat memaknai dan menghayati secara pribadi simbol-simbol perayaan hari raya gerejawi. Meskipun demikian umat tidak boleh menafikan penjelasan objektif dari suatu simbol dalam perayaan hari raya gerejawi. Simbol bergawai menjembatani umat masa kini dan umat masa lalu di segala abad. Kita hadir ke masa lalu dan umat masa lalu terasa hadir pada masa kini. Kita beribadah pada Minggu agar umat bisa hadir pada peristiwa kebangkitan Kristus sekitar dua milenium silam dan kita merasa umat masa silam di segala abad juga hadir di tengah-tengah kita. Itulah sebabnya sebelum kita mengulang mengucap syahadat dalam ibadah, pemimpin berkata: “Bersama gereja dari segala abad dan tempat, marilah …”


PEMAHAMAN 
Bacaan Injil secara ekumenis Minggu ini diambil dari Yohanes 1:(1-9), 10-18. Dalam ayat 11 dikatakan “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” Meski ada penjelasan objektif (atau setidaknya lewat tafsir akademis), tetapi ayat ini bagi saya sangat mengena atau menohok situasi saat ini. Kata seorang senior saya dari STTBII (Indonesian Evangelical Baptist Theological Seminary) dan STTBRI (Indonesian Reformed Baptist Theological Seminary), menurut UU No. 24/2007 apabila kepala daerah atau pemimpin pemerintahan tidak menetapkan status Bencana Nasional, maka secara hukum bencana banjir longsor di Sumatera adalah hoax. Sampai sekarang Gabener, pemimpin pemerintahan tidak mau menerima bahwa bencana nasional sudah datang di tengah-tengah warga Sumatera, terlihat dari cara penanganan yang serba kacau, tindakan-tindakan penanganan yang tidak termanajemen atau terkelola dengan baik, belum lagi tebar pesona dan pencitraan para pejabat, tidak ada penetapan status Bencana apalagi status Bencana nasional, penolakan bantuan asing, dlsb. Kejahatan dan kedegilan Gabener menutup matahatinya untuk mengakui dan menerima.

Pada masa raya Natal ini harusnya kita masih mengingat homili atau khotbah Malam Natal. Maria membaringkan anak yang baru dilahirkan di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Luk. 2:6). Pesan ini bukan untuk romantisme, tetapi kritik bagi kita agar memberikan tempat kepada para pengungsi  dan korban banjir longsor di masa raya Natal itu. Jangan sampai ada yang melahirkan di atas perahu atau gerobak. Melalui peristiwa kelahiran Yesus, jemaat diajak untuk dapat menghayati bahwa kelahiran Yesus menjadi awal mula pemulihan manusia. Dipulihkan dari dosa, dipulihkan dari relasi 
yang rusak antara manusia dengan Allah, juga relasi antar sesama manusia. Kelahiran Yesus juga menjadi sebuah lambang bahwa manusia pun turut “lahir” menjadi manusia baru, yang 
telah dipulihkan. Setelah manusia “lahir baru”, maka akan dapat mewujudnyatakan kasih Kristus pada sesama dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. anak Allah pun kita diundang untuk turut serta mengambil bagian di dalam-Nya. Yohanes memberitahukan pada kita bahwa Allah yang disebut “Firman” itu merupakan pencipta dan sumber segala 
kehidupan. Sayangnya, para ciptaan-Nya begitu jauh dari Sang Pencipta, sehingga tidak mengenal-Nya, demikian para ciptaanNya tidak mengasihi dan mengenali sesamanya. Maka Allah hadir lahir untuk memulihkan manusia. Pemulihan ini bukan semata-mata karena 
keinginan kita (manusia) sendiri, tetapi karena cinta kasih Allah dan anugerah-Nya yang dicurahkan untuk kita. Bahkan Ia hadir 
ke dunia dan mengambil rupa manusia supaya kita dapat “mengalami” Allah dalam wujud yang dapat dilihat dan dipahami, Demikianlah halnya, kita diajak berbela rasa, berbagi rasa, serta turut merasakan kedukaan, luka batin, kesedihan bahkan sukacita dan kebahagiaan sesama kita.


Quote of the day:
WARNING: The consumption of alcohol may cause you to think you can sing.

(29122025)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...