Kejahatan Onan dan Asal Usul Istilah Onani.
Kisah Onan tercatat dalam Kejadian 38. Setelah Er, kakaknya, mati karena kejahatannya di hadapan Tuhan, Onan menerima kewajiban pernikahan levirat: ia harus menghampiri Tamar, janda kakaknya, untuk memberikan keturunan bagi Er. Namun sejak awal Onan tahu, anak yang lahir bukan akan dianggap miliknya, melainkan milik kakaknya. Di sinilah masalah dimulai—bukan pada relasi suami-istri itu sendiri, melainkan pada sikap hati yang penuh perhitungan dan penolakan tanggung jawab.
Alkitab mencatat bahwa Onan sengaja menggagalkan tujuan pernikahan itu. Ia menikmati haknya sebagai suami, tetapi menolak kewajiban yang menyertainya. Ia mengambil kenikmatan, namun menolak konsekuensi; menerima keuntungan, tetapi menghindari tanggung jawab.
Tindakan ini dilakukan berulang dan dengan sadar. Karena itulah perbuatannya dipandang jahat di mata Tuhan, bukan sekadar karena aspek fisiknya, melainkan karena unsur penipuan, egoisme, dan pembangkangan terhadap ketetapan ilahi serta keadilan bagi Tamar.
Dari kisah inilah kemudian muncul istilah “onani” dalam tradisi dan bahasa umum, yang merujuk pada tindakan seksual yang berpusat pada diri sendiri. Namun penting dipahami, Alkitab tidak sedang membahas praktik medis atau psikologis modern, melainkan menyoroti sikap hati Onan.
Inti dosanya bukan semata tindakan biologis, tetapi motivasi yang salah: ia menggunakan tubuh orang lain untuk kepentingannya sendiri sambil merampas hak hidup dan masa depan yang seharusnya diberikan kepada Tamar.
Kisah Onan mengajarkan bahwa Tuhan menilai manusia secara utuh—tindakan lahiriah dan niat batin. Dosa sering kali tidak tampil sebagai kejahatan kasar, tetapi sebagai penolakan halus terhadap tanggung jawab, dibungkus dengan kenyamanan pribadi.
Onan menjadi gambaran manusia yang ingin berkat tanpa komitmen, kenikmatan tanpa ketaatan, dan hak tanpa kewajiban.
Karena itu, kisah ini bukan sekadar asal-usul sebuah istilah, melainkan cermin rohani. Ia mengingatkan bahwa iman sejati menuntut integritas: keselarasan antara apa yang kita terima dan apa yang kita tanggung. Tuhan tidak berkenan pada hidup yang hanya mengambil, tetapi memuliakan mereka yang setia memikul tanggung jawab, sekalipun itu menuntut pengorbanan.
Kata Alkitab
Kejadian 38:9-10
Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.
Tuhan Yesus memberkati 🙏