Sabtu, 10 Januari 2026

SUDUT PANDANG PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO ADALAH BENTUK INKULTURISASI

Keterangan Gambar:
Tablet paku tentang akun pembayaran esru (persepuluhan) dari arsip Ebabbar (sumber: en.wikipedia/tithe)

SUDUT PANDANG PERSEPULUHAN DALAM SEJARAH KUNO ADALAH BENTUK INKULTURISASI 
==================================

PENGANTAR
Pada artikel saya kali ini, saya tidak membahas tentang persepuluhan dari satu perspektif, alias perspektif Alkitabiah, melainkan juga berdasarkan perspektif sejarah kuno, apa yang saya geluti tentang sastra, sejarah, dan arkeologi alkitab.
SIAPA YANG BERHAK ATAS PERSEPULUHAN?
Persembahan Persepuluhan berakar dari Taurat, dan asal muasal sejarahnya adalah dari praktik Esretu, pajak persepuluhan di Ugarit (Kanaan) dan Babilonia (Mesopotamia). Abraham yang datang dari Ur di Mesopotamia lalu menetap di Kanaan tentunya mengetahui praktik ini sehingga tidak mengherankan jika dia berinisiatif memberikan sepersepuluh dari pampasannya pada Melkisedek. 
Acuan utama Kekristenan tentang Persepuluhan adalah Taurat, sehingga seharusnya pada praktiknya Persepuluhan tidak mutlak harus dibawa ke gereja dan tidak mutlak juga semuanya adalah hak para pendeta/gembala jemaat. Persepuluhan diatur untuk diberikan pada para pendeta/gembala namun juga adalah hak para pekarya gereja non-pendeta, orang-orang asing yang kesulitan, anak-anak yatim, dan para janda yang membutuhkan, jemaat sekeng di gereja.

Dalam Taurat, hakikat Persepuluhan adalah Persembahan Kudus sehingga merupakan milik Tuhan sepenuhnya (Imamat 27:30), dan penyalurannya adalah untuk orang Lewi (semua pekarya gereja, pendeta dan non-pendeta), orang asing, anak-anak Yatim, dan para janda. Aturan ini sangat jelas tertulis dalam Ulangan 26:12. Sehingga, jika ingin memberikan Persepuluhan maka boleh dibawa ke gereja, tapi selain membawakannya di gereja, juga bisa langsung memberikannya pada kelompok-kelompok yang sudah disebutkan diatas atau gereja mengatur persembahan tsb (sudah banyak sistim Manajemen gereja dan sistim kepemimpinan dan pengelolaan Gereja modern)

Imamat 27:30 mencantumkan tentang kekudusan Persembahan Persepuluhan, sedangkan Ulangan 26:12 mencantumkan bagaimana Persembahan Persepuluhan itu disalurkan. Sayangnya, saat ini sebagian besar hanya mengingatkan isi Imamat 27:30 dan tidak menjelaskan detail yang tertulis dalam Ulangan 26:12. Perkara persepuluhan, adalah perkara pilihannya sebuah manajemen gereja, tetapi sebaiknya argumentasi cukup kuat untuk umat, karena dalam PB, Yesus mendobrak pemahaman taurat PL termasuk dalam kasus persepuluhan.


PEMAHAMAN
Bagi pemerhati sastra, sejarah dan arkeologi Alkitab, saya yakin ada yang bertanya-tanya,

"Apakah ada catatan atau keterangan historis terkait kira-kira Abraham mendapat ide dari mana untuk membawa sepersepuluh tersebut kepada Melkisedek?" 

"Bukankah tidak ada catatan tentang perintah Ilahi pada Abraham saat itu?" 

"Apakah memang di jaman itu betul-betul sudah menjadi tradisi memberikan sepersepuluh dari pendapatan?"

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jawaban historis. 

Kebiasaan memberi persepuluhan dengan tidak dimulai oleh Taurat Musa dan bukan kebiasaan khas para leluhur Israel, karena, persepuluhan dilakukan juga oleh bangsa-bangsa kuno lainnya.

Ada kekeliruan khotbah dan pemahaman tentang persepuluhan. Kata yang benar adalah "Persepuluhan" yang artinya "sepuluh persen dari pendapatan" adalah milik Tuhan. Kata ini entah mengapa menjadi populer sebagai "Perpuluhan" yang berarti "berpuluh-puluh", sehingga ada beberapa pendeta yang membenarkan konsep bahwa jemaat membawa 20% bahkan 90 sekian persen dari hasil pendapatannya, bahkan ada yang mengatakan kalau 100% bisa kenapa harus dibatasi 10%? Ada yang menekankan ini PERINTAH TUHAN pada umatnya,  Ini keliru dan akan terus keliru jika khotbah tentang persepuluhan selalu menitik beratkan jumlah bukannya cara dan peruntukannya. Selain itu, banyak yang mengira bahwa dalam Alkitab persepuluhan hanya dipungut dan diberikan kepada rumah Tuhan dan untuk para imam (terumah) dan orang Lewi (persepuluhan pertama), juga untuk janda serta kaum fakir miskin, ini tidak sepenuhnya benar sebab persepuluhan juga dipungut dan diberikan kepada raja (1Samuel 8:15,17). Narasi dalam kitab Samuel jika dipadukan dengan pemberian persepuluhan oleh Abraham maka bisa dilihat bahwa persepuluhan sejak awal bukan bersifat kerohanian saja tapi juga sekuler yang berdasarkan pada kekuasaan teritorial, lebih tepat kalau dikatakan sebagai sistim pajak kuno.

Menariknya, ada naskah kuno diluar Alkitab tentang persepuluhan. Ada penemuan arkeologinya,  tepatnya melalui dokumen-dokumen pada tablet cuneiform (tulisan paku).

Praktik persepuluhan mirip dengan praktik Esretu – "ešretū", yaitu pajak sepersepuluh Ugarit dan Babilonia. Ugarit adalah sebuah kota Fenesia pada pantai Siria utara, saat ini namanya Ras Syamra. 

Di bawah ini tercantum beberapa contoh spesifik dari persepuluhan Mesopotamia, saya ambil dari The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4 "E" hal. 369 yang diambil dari salah-satu tablet cuneiform.

[Mengacu pada pajak sepuluh persen yang dikenakan pada pakaian oleh penguasa setempat:] 

"Istana telah mengambil delapan pakaian sebagai persepuluhan Anda (pada 85 pakaian)"

"... sebelas pakaian sebagai persepuluhan (pada 112 pakaian)"..

" ... (dewa matahari) Shamash menuntut persepuluhan..."

"empat mina perak, persepuluhan [para dewa] Bel, Nabu, dan Nergal..."

"... dia telah membayar, selain persepuluhan untuk Ninurta, pajak gardiner"

"... persepuluhan kepala akuntan, dia telah menyerahkannya kepada [dewa matahari] Shamash"

"... mengapa kamu tidak membayar persepuluhan kepada Nyonya Uruk?"

... (seorang pria) berutang jelai dan kurma sebagai keseimbangan persepuluhan dari   tahun tiga dan empat "

"... persepuluhan raja di jelai kota..."

"... berkenaan dengan tua-tua kota yang (raja) telah dipanggil untuk (membayar) persepuluhan ..."

"... kolektor persepuluhan negara Sumundar..."

"... (Ebabbar resmi di Sippar) yang bertanggung jawab atas persepuluhan


Sebagai catatan, yang dimaksudkan dengan Nyonya Uruk adalah Innana, dewi cinta Mesopotamia kuno. Oleh orang Akkadia, Babilonia, dan Assiria dikenal dengan nama Ishtar.

Dimasa Abraham, persepuluhan adalah suatu kebiasaan Ugarit (sekitar Kanaan) dan Proto-Babel (Mesopotamia), oleh karena itu, Abraham yang berasal dari Mesopotamia, dan Melkisedek yang adalah imam di Salem yang ada di Kanaan dan dekat dari Ugarit, tentu familiar dengan persepuluhan yang saat itu peruntukannya kepada raja dan pihak kuil. Teks 1 Samuel mengacu pada kebiasan ini. Dikemudian hari, oleh Musa, pemungutan dan peruntukan persepuluhan diatur lebih rapih.

Jika merujuk kepada tindakan Abraham (Kejadian 14:17-20) dan ramalan Samuel tentang persepuluhan (1 Samuel 8:15,17), terlihat ada perbedaan motivasi. Abraham memberi dengan dorongan hati tetapi dalam 1 Samuel 8:15,17 rakyat  diramalkan akan dipaksa untuk memberikan persepuluhan pada raja. Abraham jelas memberikan dengan kerelaan hati padahal dia tidak diwajibkan secara adat dan teritorial (karena dia bukan orang Salem), sedangkan, untuk kasus 1 Samuel ini merupakan kewajiban rakyat pada raja yang mengacu pada adat istiadat dijaman itu (beda dengan persepuluham Musa yang motivasi dan peruntukannya adalah kerohanian). 

Tindakan spontan Abraham dan perkataan Samuel tentang pemberian persepuluhan pada raja mungkin sulit dipahami, tetapi, penemuan-penemuan arkeologi dan manuskrip kuno tentang kebiasaan pemberian persepuluhan kuno di Kanaan dan Mesopotamia telah membantu memecahkan pertanyaan-pertanyaan dalam Alkitab terkait sejarah persepuluhan. Ini seperti sejarah sunat, yang mana tradisi ini dikenal Abraham dari Mesir. 

Seperti yang sering saya katakan, Tuhan mampu dan berhak menggunakan kebiasaan tradisional untuk memuliakan namaNya, inkulturisasi adalah hal yang lumrah dalam perjalanan hidup manusia terlebih dalam sejarah agama-agama di dunia.

Penolakan persepuluhan sebagai kewajiban mutlak di gereja Kristen dapat didasarkan pada analisis teologi Perjanjian Baru yang menekankan pemberian sukarela daripada hukum ritual Perjanjian Lama. Praktik ini bukan dosa karena tidak ada perintah eksplisit dalam ajaran rasul yang mengikat orang percaya di bawah kasih karunia Kristus. Pendekatan kritis ini membebaskan jemaat dari legalisme sambil mendorong penatalayanan total hidup. Konteks Perjanjian Lama
Persepuluhan diatur beragam dalam Taurat, seperti hasil bumi untuk Lewi (Bil. 18), dimakan komunal (Ul. 14:22-27), atau untuk yatim piatu setiap tiga tahun (Ul. 14:28-29), menunjukkan fungsi sosial-teokratis bukan pajak tetap 10% uang modern. Kritik nabi seperti Amos 4:4 menyoroti legalisme yang kehilangan makna sosial, sementara Maleakhi 3:10 adalah panggilan kesetiaan Israel pra-Kristus, bukan formula "beri untuk terima" bagi orang percaya. Diamnya Perjanjian Baru
Perjanjian Baru hanya sebut persepuluhan tiga kali: Yesus kritik Farisi yang obsesi ritual tapi abaikan keadilan (Mat. 23:23), Farisi sombong (Luk. 18:12), dan Ibrani 7 bandingkan Melkisedek dengan Kristus tanpa perintah baru. Paulus ajarkan pemberian mingguan sukarela (1 Kor. 16:2), murah hati (2 Kor. 9:7), bukan 10% tetap; rasul di Kis. 15:28-29 bebaskan non-Yahudi dari hukum Musa termasuk persepuluhan. Bukan Dosa, Tapi Disiplin Sukarela
Tidak memberi persepuluhan bukan dosa karena orang percaya dibebaskan dari hukum (Kol. 2:16-23; Gal. 5:1), dengan fokus 100% hidup sebagai persembahan (Rm. 12:1). Sejarah gereja awal tanpa persepuluhan wajib hingga abad ke-6 Katolik perkenalkan sebagai dukungan klerus, ditolak Reformator seperti Luther. Memberi sukarela hindari "pencurian Tuhan" interpretasi salah Maleakhi untuk PB. Implikasi Praktis Gereja
Gereja tolak persepuluhan wajib dorong pemberian kasih untuk kebutuhan saudara (2 Kor. 8-9), transparansi, dan hindari eksploitasi. Praktik ini tetap boleh sebagai disiplin rohani pribadi, tapi legalisme rusak stewardship (pengelola) total dan semangat kasih Kristus.
___________________
Oleh (11012026)(TUS)

Referensi:
1. Andrew E. Hill & John H. Walton, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi ketiga.

2. A. Leo Oppenheim (editor in charge), "The Assyrian Dictionary of the Oriental Institute of the University of Chicago, Vol. 4", The Oriental Institute, Chicago, 2004

3. R. F. Bhanu Victorahadi Pr., "Buku Ajar Eksegese: Perjanjian Lama Nabi-Nabi", UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 2022.

4. David F. Hinson, "Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab", BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004.

5. Ensiklopedia Alkitab

6. Gleason L. Archer, "Encyclopedia of Bible Difficulties", Zondervan Publishing House, Michigan,  1982.

7. Josephus, "Antiquities of the Jews".

8. Robert H. Gundry, "A survey of Old Testament", Zondervan, edisi kelima.

9. Susan Wise Bauer, "Sejarah Dunia Kuno", Elex Media Komputindo, 2007.

10. William Stanford LaSor, David Allan Hubbard, Frederick Wm. Bush; "Old Testament Survey", Wm. B. Eerdmans Publishing, Cambridge, 1996.

11. Walter C. Kaiser Jr., Peter H. Davids, F.F. Bruce, Manfred T. Brauch, "Hard Saying of the Bible", InterVarsity Press, Illinois,  1996.

12. W. J. Martin, "Stylistic Criteria and the Analysis of the Pentateuch", 1955.

SUDUT PANDANG 1 PETRUS 2:17, HARGAILAH SESAMAMU

SUDUT PANDANG 1 PETRUS 2:17, HARGAILAH SESAMAMU PENGANTAR Menghargai bisa berarti memandang penting, bermanfaat dan berguna. Ketika seseoran...