Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶
PENGANTAR
Perjumpaan dramatik simbolik antara Allah dan umat. Dlm perjumpaan ada rasa yg tak terungkap lewat kata dan simbol, ada dialog. Dialog ada kata ada simbol, yg pasti saling atau timbal balik dua arah. Ada protokol bakunya ada unsur bakunya. (walaupun bisa diubah tetapi tidak boleh sembarangan). Siapa yg tidak membolehkan ? Nah... 🤭 .... tetapi bukan itu pertanyaan bakunya, apakah penyusunan liturgi menggunakan ilmu liturgi. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘐𝘣𝘢𝘥𝘢𝘩? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘯𝘴𝘦𝘳? 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘦𝘬𝘴 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘨𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯? 𝘚𝘪𝘮𝘢𝘬 𝘷𝘪𝘥𝘦𝘰 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵. Begitu kira-kira bunyi kalimat promosi dari suatu lembaga yang mendaku menawarkan pembinaan dan pelayanan musik gereja.
Musik gereja itu 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 musik liturgi. Tentu saja musik gereja boleh dimainkan di berbagai tempat, bahkan dilombakan. Musik gereja dapat dipelajari pada sekolah-sekolah musik dan untuk itulah musik gereja dapat dipentaskan di berbagai panggung dan dilombakan. Para pemusik pun, bahkan penyanyinya, tidak harus beragama Kristen. Kalimat-kalimat promosi di atas secara tersirat menyampaikan bahwa lembaga tersebut tidak mengerti musik gereja. Ia tidak mengerti bahwa musik gereja berbeda dari musik liturgi.
Beberapa tahun lalu seorang yang mendaku ahli musik klasik mementaskan orkestra dengan menampilkan nyanyian-nyanyian GKI. Warga Gereja (dari Sinwil Jatim?) bereaksi cepat dengan membuat promosi atas konser itu.
Warga gereja acap cepat terpesona oleh pendapat orang yang mendaku musikus klasik tentang musik gerejawi. Dibilang saat ini musik di GKI tidak agung lagi, tidak menggairahkan lagi, dst.
Saya tidak pernah mengatakan bahwa musik di GKI sudah bagus. Yang hendak saya katakan di sini apakah yang ditampilkan itu dapat menjadi musik liturgi?
Yang patut diingat adalah liturgi tetap dapat berjalan, tetap dapat dirayakan, meskipun tanpa kehadiran alat musik. Dari sini sangat jelas bahwa pemusik melayani liturgi dan harus tunduk kepada liturgi. Pemusik liturgi tanpa dibekali pengetahuan liturgi hanya akan mementingkan 𝘱𝘦𝘳𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘯𝘤𝘦 mereka sendiri. Musik tidak boleh menenggelamkan para peraya liturgi bernyanyi.
Alat-alat musik seperti apa yang sesuai dengan liturgi?
𝗣𝗲𝗺𝘂𝘀𝗶𝗸 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶
Pada mulanya tidak ada musik khusus yang lahir dari rahim Gereja. Tradisi musikal Yahudi mengisi kegiatan berdoa bersama dalam Gereja perdana. Tidak ada musik khusus untuk kegiatan warga Gereja. Kata-kata yang diberi nada lalu menjadi nyanyian vokal sederhana mewarnai peribadatan Gereja. Itulah awal mula kelahiran musik liturgi. Belum digunakan alat musik pengiring. Praktik ini berlangsung sampai sekitar abad ke-8. Sesesudah itu perkembangan musik sungguh luar biasa.
Untuk memudahkan pengulasan musik dibagi ke dalam dua kelompok besar: musik gereja dan musik sekular. Musik gereja sendiri digolongkan ke dalam dua kelompok besar: musik liturgi dan musik bukan-liturgi yang kemudian musik bukan-liturgi ini dihaluskan menjadi musik spiritual. Contoh, lagu-lagu gerejawi yang dipentaskan dalam konser.
Kehadiran musik dalam liturgi memang tak terbantahkan membuat liturgi punya nilai lebih. Namun, perlu dicatat liturgi tetap dapat berjalan, liturgi tetap dapat dirayakan, meskipun tanpa kehadiran musik liturgi. Musik untuk liturgi harus menyatu dengan tindakan liturgis, menopang liturgi agar dapat menyatakan makna utuh dari bagian-bagian liturgi. Rangkaian nada membantu menghidupkan ritual dan teks liturgis. Teks berkarakter aklamatif sepatutnya diberi nada yang membangkitkan ungkapan sukacita. Musik yang memasukkan nada tidak sesuai dengan karakter teks liturgis dan menenggelamkan para peraya liturgi tidak dapat disebut sebagai musik liturgi. Musik mencemari dan merendahkan martabat liturgi. Musik liturgi adalah pelayan liturgi. Musik liturgi merupakan musik ritual yang secara khusus diciptakan untuk melayani perayaan liturgi.
Liturgi itu suci, maka musik untuk liturgi harus suci juga. 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗺𝗮𝘁𝗿𝗮 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹. Tujuan musik liturgi sama dengan tujuan liturgi, yaitu memuliakan Allah dan menguduskan umat. Para pemusik berlaku sebagai pelayan liturgi dan tidak patut menjadikan liturgi sebagai ajang aktualisasi diri dengan berpamer bahwa ia mahir bermain alat musik. Pemusik, penyanyi, kelompok paduan suara jangan menjadikan diri sebagai pusat perhatian umat. Mereka tidak boleh menenggelamkan para peraya liturgi bernyanyi.
Jika liturgi dan musik liturgi itu suci, maka para pemusik harus mengerti menghayati dan menghidupinya. Dalam praktik Gereja lebih mementingkan kemampuan teknikal bermusik kepada para pemusik. Bila perlu para pemusik dikirim berkursus agar lebih mahir. Belum pernah saya melihat para pemusik liturgi diberi bekal pengetahuan liturgi dan spiritual. Para pemusik perlu memahami konteks pelayanan perayaan liturgi yang ragawi dan rohani, duniawi dan surgawi, manusiawi dan ilahi. Untuk itu para pemusik harus diberi bekal pengetahuan liturgi. 𝘙𝘦𝘵𝘳𝘦𝘢𝘵 (Belanda: 𝘳𝘦𝘵𝘳𝘢𝘪𝘵𝘦) secara berkala dapat menjadi pilihan untuk pembinaan mental dan spiritual para pemusik.
Dari ulasan di atas kita dapat menalikan bahwa ciri utama musik liturgi adalah ia tidak menenggelamkan peraya liturgi. Apabila kita melihat dan mendengar musik pada 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘭 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 di GKI Kebayoran Baru dan 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭-𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭 lain di Gereja-Gereja Kharismatik, tidak tampak dan tidak terdengar ia adalah musik liturgi. Oleh karena bukan musik liturgi, maka musik itu hadir bukan untuk liturgi.
Dengan kata lain 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘭 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 di GKI Kebayoran Baru dan 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭-𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭 lain di Gereja-Gereja Kharismatik itu bukan liturgi, bukan suatu kebaktian. Itu hanyalah sekelompok orang yang hendak mendengarkan ceramah agama yang dimeriahkan dengan musik spiritual. Sesudah mendengar ceramah, para pendengar membayar. Ada yang memasukkan ke kantong-kantong penagihan, ada yang langsung mengirim uang lewat QRIS.
PEMAHAMAN
Reformasi liturgi dalam Gereja Katolik terinspirasi dari Gereja Protestan. Pembaruan pertama dan utama liturgi dalam Gereja Katolik adalah partisipasi umat.
Ironisnya Gereja Protestan, baik arus-utama maupun evangelikal dan kharismatik, malah berjalan mundur, membungkam partisipasi umat. Tidak percaya? Perhatikan saja besok dalam kebaktian Minggu. Partisipasi umat lewat nyanyian jemaat dibungkam dan ditenggelamkan oleh 𝘴𝘰-𝘤𝘢𝘭𝘭𝘦𝘥 𝘴𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘢𝘥𝘦𝘳𝘴 atau 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘤 𝘣𝘢𝘯𝘥 lewat 𝘭𝘰𝘶𝘥 𝘴𝘱𝘦𝘢𝘬𝘦𝘳𝘴 mereka.
𝗛𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴
Dalam liturgi ada satu anasir sangat penting yang merupakan bagian integral, tetapi tidak atau kurang diperhitungkan sebagai suatu unit ritus dalam struktur ibadah. Apa itu? Keheningan atau saat diam.
Hening dalam perayaan liturgi dapat beraneka arti dan makna. Di bawah atmosfer dunia profan yang gaduh dan riuh serta serba tergesa-gesa, kejap, dan dangkal, umat merindu saat hening. Liturgi dapat menyediakannya, meskipun tidak perlu berlama-lama. Liturgi menyediakan momen bagi umat untuk sekadar mereguk kelembutan nafas ilahi.
Di Gereja Protestan pada umumnya ada ritus 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘥𝘶𝘩 bagi umat sesudah mendengarkan khotbah untuk merenung sejenak. 𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘥𝘶𝘩 disediakan hendaklah bukan untuk basa-basi. Sebagai contoh, sesudah pendeta mengatakan “Amin” ketika menutup khotbahnya, dalam hitungan kurang daripada 5 detik penatua minta umat berdiri untuk mengucapkan 𝘚𝘺𝘢𝘩𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭𝘪.
Berapa lama durasi ideal untuk saat teduh? Idealnya ½ - 1 menit.
𝗕𝘂𝗸𝘂 𝗡𝘆𝗮𝗻𝘆𝗶𝗮𝗻
Dulu, sebelum ada FB, forum diskusi mengandalkan milis. Dalam satu kesempatan saya melayangkan keresahan saya melihat banyak Gereja mula meninggalkan buku nyanyian seperti KJ dan menggantinya dengan tayangan projektor di layar. Menurut saya ini merugikan Yamuger. Waktu itu seorang anggota Yamuger berkomentar 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘱𝘢. Waduh, dalam hati saya, 𝘵𝘪𝘸𝘢𝘴 𝘮𝘣e𝘭𝘢𝘯𝘪 ternyata Yamuger tidak butuh duit.
Dengan perkembangan multi-media sekarang penayangan di layar dalam kebaktian sudah makin canggih. Bukan saja menyajikan teks nyanyian, tayangan dilengkapi ilustrasi gambar, bahkan animasi. Pendeta pun memanfaatkan teknologi ini untuk ilustrasi khotbahnya.
Secara fungsional upaya modernisasi ini barangkali efektif dan praktis, tetapi berisiko mengganggu kekhidmatan merayakan liturgi. Pandangan umat tertuju pada layar. Sampai sekarang saya belum pernah melihat gedung gereja arus-utama dirancang untuk ruang ibadah sekaligus untuk ruang seminar atau ruang rapat, kecuali di gereja saya sendiri .... Xi ..... Xi. Penempatan layar sudah pasti dipaksakan posisinya sehingga merusak estetika interior-arkitektural. Selain itu tayangan teks nyanyian tidak disertai notasi dan informasi lain tentang nyanyian seperti tercetak dalam buku nyanyian.
Jadi, bagaimana 𝘥𝘰𝘯𝘨 agar tetap tampak modern tanpa merusak estetika? Buat saja monitor-monitor kecil di setiap punggung kursi seperti di dalam pesawat Garuda. Mahal 𝘣𝘰? Kalau mau murah dan khidmat, ya kembalikan lagi umat diminta membawa buku nyanyian. Pandangan ini tentunya akan bertabrakan dengan pandangan modern generasi muda yang semuanya mengambil point' kemudahan.
Ciri utama musik liturgi adalah ia tidak menenggelamkan peraya liturgi. Apabila kita melihat dan mendengar musik pada 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘭 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 di GKI Kebayoran Baru dan 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭-𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭 lain di Gereja-Gereja Kharismatik, tidak tampak dan tidak terdengar ia adalah musik liturgi. Itu bukan musik liturgi. Oleh karena bukan musik liturgi, maka musik itu hadir bukan untuk liturgi.
Dengan kata lain 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘭 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 di GKI Kebayoran Baru dan 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭-𝘬𝘢𝘱𝘢𝘭 lain di Gereja-Gereja Kharismatik itu bukan liturgi, bukan suatu kebaktian. Itu hanyalah sekelompok orang yang hendak mendengarkan ceramah agama yang dimeriahkan dengan musik spiritual. Sesudah mendengar ceramah, para pendengar membayar. Ada yang memasukkan ke kantong-kantong penagihan, ada yang langsung mengirim uang lewat QRIS.
𝗠𝘂𝘀𝗶𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗔𝗱𝘃𝗲𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮
Sudah banyak Gereja Protestan menerapkan tahun liturgi, seperti pembabakan Adven dan Pra-Paska. Namun, cukup banyak pula yang latah. Mereka meniru, ikut-ikutan, agar terlihat Kristen. Padahal mereka tidak mengerti makna teologis dan liturgis Adven dan Pra-Paska.
Saya berikan contoh nyata. Satu Gereja menerapkan masa Adven, tetapi mereka merayakan Natal pada masa Adven. Ada lagi Gereja yang merayakan Kamis Putih, tetapi mereka menghelat Perjamuan Kudus pada Jumat Agung. Itulah contoh nyata Gereja yang latah.
Secara historis penetapan masa Pra-Paska lebih tua daripada Adven. Tujuannya mirip, yakni memersiapkan diri untuk menyambut. Pada masa Pra-Paska umat memersiapkan diri untuk menyambut kematian dan kebangkitan Yesus, pada masa Adven umat memersiapkan diri untuk menyambut Yesus secara historis (kelahiran) sekaligus eskatologis (kedatangan kembali).
Ada kesamaan lain masa Pra-Paska dan Adven yang jarang diketahui orang, yaitu tentang musik liturgi. Selama masa Pra-Paska dan Adven alat musik tidak boleh dimainkan secara instrumentalia dalam liturgi. Musik dimainkan hanya untuk intro dan mengiringi umat bernyanyi.
Sebagai contoh dalam sesi kolekte sering semua bait lagu sudah dinyanyikan, tetapi peredaran kantong kolekte masih berlangsung. Musik instrumentalia kemudian mengisi jeda itu. Di Gereja Kharismatik sering juga terjadi pendeta berdoa dilatari musik instrumentalia. Praktik seperti ini tidak diperkenankan dalam masa Adven dan Pra-Paska. Mengapa begitu?
Dalam tradisi liturgi Gereja musik instrumentalia yang mandiri menyimbolkan kepenuhan sukacita, kemuliaan, dan perayaan. Musik instrumentalia tanpa nyanyian sama dengan suasana pesta eskatologis. Padahal dalam Adven dan Pra-Paska pesta sukacita itu masih “ditunda”.
Kontras liturgis ini memang disengaja dan sangat pedagogis.
𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶
Tempo hari saya pernah menulis takrif liturgi. Saya ulangi saja. Liturgi bukan ritual, melainkan lebih luas daripada itu. Dalam teologi Kristen liturgi ditakrifkan sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilakukan oleh Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Liturgi mencakup komunikasi dua arah, Allah yang menguduskan dan menyelamatkan manusia (𝘬𝘢𝘵𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴) dan sekaligus manusia yang menanggapi pengudusan Allah itu dengan memuliakan-Nya (𝘢𝘯𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴). Kedua gerakan itu adalah dua anasir yang tidak dapat dipisahkan, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴-𝘢𝘯𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴. Liturgi selalu bermatra 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹. Subjek liturgi adalah Kristus dan Gereja. Liturgi merupakan tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja.
Pengertian di atas tentu dari titik pandang teologis yang abstrak. Dari titik pandang praktis bagaimana kita dapat melihat liturgi dalam suatu kebaktian atau misa Gereja sebagai suatu bangunan liturgi?
Sekarang kita membayangkan suatu rangkaian ibadah secara lengkap, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kita buat pembabakannya sbb.:
𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 – 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽
Ritus dalam makna liturgis ditakrifkan sebagai tata cara atau pola tindakan simbolik yang terstruktur yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh Gereja. Dalam satu ritus terdapat beberapa bagian. Misal, ritus pembuka ada bagian atau sesi perarakan Injil, votum, dan salam. Jadi, perarakan Injil yang sering diiringi dengan nyanyian jemaat belum disebut liturgi.
Apa perbedaan ritual dan ritus? Ritual merupakan rangkaian beberapa ritus.
Dalam Liturgi Sabda ada beberapa ritus yang berjalan membentuk satu ritual. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Dalam Liturgi Ekaristi jumlah ritus lebih banyak, yang tentu saja ada ritus persembahan. Persembahan selalu berpautan dengan Ekaristi atau Perjamuan Kudus.
Dalam Liturgi Ekaristi kolekte dapat dimasukkan sebagai bahan lain persembahan. Bahan utama persembahan adalah roti dan anggur, yang kemudian sesudah 𝘋𝘰𝘢 𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 dan 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘪𝘵𝘶𝘴𝘪 menjadi (simbol) kurban tubuh dan darah Kristus. Bahan-bahan lainnya adalah minyak, lilin, dan dapat disertakan kolekte. Apabila hanya Liturgi Sabda, maka kolekte menjadi bagian dalam 𝘳𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱.
Dalam Gereja Protestan tidak setiap Minggu merayakan Liturgi Ekaristi. Dengan demikian pada umumnya kebaktian Minggu dalam Gereja Protestan pembabakannya dibuat sbb.:
𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮 – 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽
Apabila bangunan liturgi seperti itu, maka tidak ada ritus persembahan, karena tidak ada perayaan Ekaristi. 𝘓𝘩𝘢 kolekte? Kolekte bukanlah persembahan sehingga ia adalah bagian atau sesi dalam ritus penutup. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Bacaan-bacaan Alkitab dan nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dalam Liturgi Sabda. Homili, Syahadat, dan Doa memerdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sungguh keliru menempatkan Mazmur dalam ritus pembuka seperti yang terjadi di beberapa Gereja Protestan.
Bacaan-bacaan Alkitab dihidangkan kepada umat sehingga harta Gereja dibuka selebar-lebarnya bagi mereka. Diperlukan penataan bacaan yang bersistem dan berstruktur agar tampak jelas kesatuan Perjanjian Lama-Perjanjian Baru dengan sejarah keselamatan. Untuk itulah kepentingan penerapan bacaan ekumenis RCL (𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺) agar bacaan seturut tahun liturgi dan tidak mengikuti selera dan ideologi pendeta.
Gereja berwatak injili dalam arti selalu mewartakan Injil (injili di sini bukan maksudnya aliran Evangelikal). Pembacaan Injil adalah puncak Liturgi Sabda. Pembacaan Injil merupakan simbol kehadiran Kristus di tengah-tengah umat beriman dan pada gilirannya mereka memberitakan Injil Kristus.
Ritus penutup pada umumnya terdiri atas bagian atau sesi kolekte, pengutusan, dan berkat.