PENGANTAR
Pada Minggu, 18 Januari 2026, bacaan ekumenis mengenai 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪𝘢𝘯 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘬𝘳𝘶𝘵𝘮𝘦𝘯 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 menurut Injil Yohanes (Yoh. 1:29-42). Para pengkhotbah hendaknya cermat dalam menyampaikan homili. Jangan sampai pra-paham Injil sinoptik dan Sekolah Minggu digunakan untuk menafsir bacaan Minggu ini seperti yang dilakukan oleh banyak pengkhotbah.
Yohanes Pembaptis tidak membaptis Yesus dalam Injil Yohanes. Murid kesatu Yesus adalah Andreas dan sosok tanpa nama, bukan Petrus. Andreas dan sosok tanpa nama itu sebelum mengikut Yesus adalah murid-murid Yohanes Pembaptis. Karakter Yohanes Pembaptis dalam kisah-kisah yang beredar dibunuh oleh petulis Injil Yohanes. Peran Petrus dalam Injil Yohanes juga tidak menonjol karena Petrus sangat Yudaik dalam arti amat taat kepada adat-istiadat Yahudi. Namun, bukan berarti petulis Injil Yohanes tidak Yudaik. Teologi Injil Yohanes justru sangat Yudaik. Yohanes memutuskan untuk menerima panggilan sebagai “orang yang berseru-seru di padang gurun” menyiapkan jalan bagi Tuhan. Ini ia lakukan sekalipun belum memiliki pengenalan tentang Yesus. Namun, oleh karena Roh Kudus ia menjadi mengerti. Hal yang sama juga dilakukan oleh Andreas, Simon, dan murid yang lain (tanpa nama). Bermula dari kesediaan untuk mempercayai apa yang didengar tentang Yesus, lalu mencari tahu tentang apa yang mereka percayai itu. Mengenal dan mengikut Yesus adalah sebuah perjalanan untuk “datang”, “melihat”, "belajar", "bertanya" dan “mengalami” sendiri. Perjalanan yang ditempuh tidak selalu mudah. Kerap berjumpa dengan kelemahan manusiawi seperti yang diakui oleh hamba Tuhan dalam Kitab Yesaya. Namun, menyadari kelemahan dan bersedia untuk datang kepada Tuhan yang mengutus akan memulihkan dan meneguhkan kembali panggilan, bahkan kemampuan bertanya itu kekuatan pencarian yang meneguhkan. Untuk itu, diperlukan keterbukaan hati untuk mengalami hidup bersama Tuhan sebagaimana disaksikan oleh Pemazmur, perlu kemampuan bahkan keberanian bertanya dan mempertanyakan, dalam perjalanan kehidupan mengarah ke Kristus.
PEMAHAMAN
Pertanyaan di atas dapat dikembangkan: untuk apa murid belajar? Apakah murid ingin menjadi pandai? Tujuan pendidikan ialah menolong anak menjadi pribadi dewasa-mandiri sehingga ia tahu keunggulan dan kelemahannya. Sekolah menolong orangtua dalam hal yang tidak dapat dikerjakan oleh mereka dengan membantu murid mendapatkan aras kepandaian menurut kemampuan intelektualnya.
Pendidikan membentuk anak menjadi dewasa, bukan dewasa kecil menjadi dewasa besar. Yang dibentuk adalah manusia merdeka, bukan manusia rekaan orangtua. Persoalan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia ialah pada umumnya orangtua tidak menerima takrif di atas. Orangtua menuntut agar anak-anak di TK diajarkan membaca dan berhitung, di SD diajarkan bahasa Inggris, sedang bahasa Indonesia yang digunakan sebagai media alih-pengetahuan dari pengajar kepada murid justru dilalaikan. Sejak SD anak-anak dipaksa ikut les musik atau tari, meski tak berbakat. Bukan itu saja orangtua memaksa anak ikut les bahasa Inggris dan matematika di luar jam sekolah. Lebih mengenaskan lagi kepala sekolah yang didukung oleh banyak guru melayani tuntutan orangtua.
Dari uraian singkat di atas kita bisa menguak jawaban untuk apa menjadi murid tidak lain dan tidak bukan adalah demi ambisi orangtua. Murid dipaksa menjadi manusia rekaan orangtua dan guru. Anak menjadi objek pameran orangtua. Orangtua kemudian mendapat banjir pujian dari teman-teman dan handai-taulan. Anak menjadi murid bukan untuk menjadi pribadi dewasa-mandiri, melainkan untuk gengsi orangtua.
Anak tidak sanggup menerima beban pelajaran sehingga merasa frustrasi belajar dituduh malas oleh orangtua dan guru. Murid tidak diberi ruang untuk berbuat kesalahan. Setiap kesalahan murid atau anak langsung ditindak. Ini membuat murid menjadi penakut dalam menyatakan pendapat, takut bertanya, takut kritis dan hanya membebek apa yang dikatakan oleh orangtua dan guru. Anak tumbuh dengan kerendahhatian yang palsu penuh kemunafikan.
Padahal menjadi pribadi dewasa-mandiri itu mau dan mampu menerima keunggulan dan kelemahannya. Murid menjadi sadar dan bangga atas kepribadiannya yang akan berfaedah bagi banyak orang. Ia pantang menyerah meski ia ada kekurangan, karena ia yakin akan keunggulannya yang membantunya dalam mengatasi masalah.
Kita acap terjebak dalam anggapan bahwa suatu pemikiran baru pastilah paut dengan masa kini dibandingkan dengan pemikiran dari berabad-abad sebelumnya yang dianggap usang. Kita terjebak dalam rasa pesona bahwa suatu pemikiran yang hebat dan menarik pastilah pemikiran yang terandalkan. Misal, parenting. Dengan penggunaan istilah Inggris akan tampak hebat dan original, terus buru-buru kaum muda mau menikah atau baru menikah belajar parenting.
Mengaji sejarah pendidikan menolong kita keluar dari jebakan-jebakan seperti itu. Sejarah pendidikan menolong kita menengok bahwa banyak pemikiran pedagogis dari masa lampau yang dianggap usang sebenarnya lebih terandalkan ketimbang pemikiran mutakhir.
Bacaan ekumenis pada Minggu ini diambil dari Yohanes 1:29-42. Dalam narasi, selain mengisahkan kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, terdapat kisah proses perekrutan murid Yesus. Dikisahkan Yohanes Pembaptis berkata kepada dua orang muridnya, “Lihatlah Anak Domba Alllah!” Yohanes Pembaptis menunjuk Yesus. Kedua murid Yohanes itu adalah dua bersaudara Andreas dan Simon, yang kemudian dikenal dengan Petrus. Kedua murid Yohanes Pembaptis itu mengikuti Yesus hendak menjadi murid-Nya. Yesus menoleh ke belakang dan berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu cari?”
Pertanyaan Yesus hendak mengungkapkan untuk apa menjadi murid. Pada masa kini pertanyaan itu secara umum ditujukan kepada pengikut Kristus. Secara khusus pertanyaan itu ditujukan kepada “para guru” yaitu pejabat atau pemimpin gerejawi yang mendidik para murid. Didikan mereka apakah membuat umat menjadi pribadi dewasa-mandiri atau menjadi tua tetapi tidak pernah dewasa-mandiri sehingga para murid tetap kekanak-kanakan membebek para guru? Berani kah mendidik umat untuk cerdas bertanya, untuk kritis, atau malah pinginnya membuat umat bodoh, malas bertanya atau tidak enak untuk bertanya alias membebeki, damai palsu.
Menjadi murid Yesus berarti bersedia untuk mengikuti jalan hidup Yesus. Menjadi murid Yesus adalah sebuah proses dalam suatu perjalanan yang tidak berujung bersama dengan Yesus. Keputusan untuk mengikut dan menjadi murid Yesus tidak selalu didahului oleh pengenalan atau pengetahuan tentang Yesus. Kerendahan hati untuk “datang”, “melihat”, "belajar", "bertanya" dan “mengalami” adalah awal “perjalanan” untuk menjadi pengikut/murid Yesus.
(14013026)(TUS)