Sabtu, 17 Januari 2026

SUDUT PANDANG TENTANG BAPTISAN ULANG

SUDUT PANDANG TENTANG BAPTISAN ULANG


PENGANTAR
Apa yang Dimaksud Baptisan Ulang? Baptisan ulang adalah praktik membaptis seseorang kembali, padahal ia sudah pernah dibaptis secara sah di dalam gereja Kristen, dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Baptisan ulang sering dilakukan karena alasan:
a. Merasa iman dulu belum sungguh-sungguh
b. Pindah gereja atau aliran/denominasi
c. Menganggap baptisan sebelumnya tidak sah
d. Tekanan rohani dari kelompok tertentu
Padahal, Alkitab dengan jelas berkata:
“Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.”
(Efesus 4:5)
Nama komitmen sakral ya sekali seumur hidup, kalau diulang sudah tidak sakral lagi dong .... Wk .... Wkwkwk. baptisan ulang, Baptisan ulang, atau rebaptism, merujuk pada praktik dalam beberapa denominasi Kristen yang melakukan pembaptisan kedua bagi seseorang yang telah dibaptis sebelumnya, sering karena dianggap baptisan awal tidak sah. Praktik ini umum di kalangan gereja-gereja Pentakosta kharismatik, yang menekankan baptisan dewasa bagi orang yang sadar percaya, dan baptisan Roh sebagai baptisan yang lebih tinggi dari baptisan air (dasar argumentasi nya kurang kuat juga, tolak ukurnya darimana?). Dasar Teologis
Gereja-gereja yang mempraktikkannya berargumen bahwa baptisan harus dilakukan setelah pertobatan dan iman pribadi, seperti pada Kisah Para Rasul 19 : 1-7, di mana Paulus membaptis ulang murid-murid Yohanes karena baptisan mereka dianggap tidak lengkap, harus dipahami dalam konteks tradisi budaya pada zaman itu, Baptisan itu juga tanda masuk ke dalam suatu golongan dalam masyarakat Yahudi, inisiasi. Mereka adalah murid Yohanes yang artinya golongan eseni versi Yohanes bukan golongan Yesus. Mereka menolak istilah "baptis ulang" dan menyebutnya sebagai baptisan pertama yang sah, dengan rumusan yang lebih  benar, karena baptisan Roh lebih tinggi derajatnya daripada baptisan air. Pandangan Berbeda
Sebaliknya, gereja-gereja Protestan Reformir seperti Lutheran, calvin atau Reformed tradisional menganggap baptisan awal sah jika dilakukan dengan rumusan Tritunggal, sehingga baptisan ulang tidak diperlukan dan berpotensi memusuhi sakramen. Gereja Katolik dan Ortodoks menekankan validitas baptisan satu kali seumur hidup, melihat rebaptism sebagai kesalahan teologis. Praktik di Indonesia
Di Indonesia, beberapa gereja sering menerapkan kebijakan ini untuk anggota baru dari gereja lain dengan baptisan air atau rumusan tidak standar, meski menimbulkan perdebatan tentang kesatuan gereja.  Diskusi ini mencerminkan perbedaan doktrinal mendasar tentang esensi baptisan sebagai tanda iman atau sakramen ilahi.


PEMAHAMAN
Makna Baptisan dalam Iman Kristen, Baptisan bukan terutama tindakan manusia, tetapi tindakan Allah.
Dalam baptisan:
a. Allah menyatakan anugerah-Nya
b..Allah mengikat perjanjian-Nya dengan umat
c. Manusia menerima, bukan menciptakan keselamatan

Yesus memerintahkan:
“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”
(Matius 28:19)
 Artinya, baptisan adalah:
a. Perbuatan Allah Tritunggal
b. Meterai kasih dan janji Allah
c. Tanda masuk ke dalam persekutuan tubuh Kristus
Mengapa Baptisan Tidak Perlu Diulang?
Karena:
a. Allah setia, tidak berubah
b..Janji Allah tidak tergantung perasaan manusia
c. Keselamatan bukan hasil usaha ulang manusia

Seperti kelahiran jasmani:
a. Manusia lahir sekali
b. Tidak perlu dilahirkan ulang secara fisik

Demikian juga baptisan:
a. Dilakukan sekali
b..Berlaku sepanjang hidup
Dampak Negatif Baptisan Ulang terhadap Penghargaan/Penistaan  kepada Allah Tritunggal

a. Meragukan Kesetiaan Allah Bapa
Baptisan ulang seolah berkata:
“Janji Allah dulu belum cukup.”
Padahal:
Allah Bapa setia pada perjanjian-Nya
Allah tidak membatalkan janji-Nya karena kelemahan manusia
Baptisan ulang dapat merendahkan kesetiaan Allah Bapa.

b. Meremehkan Karya Penebusan Kristus
Dalam baptisan:
Kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus
(Roma 6:3–4)
Baptisan ulang seolah menyatakan:
Karya Kristus perlu “diperbarui” berkali-kali
Salib belum cukup kuat
Ini menggeser iman dari Kristus kepada pengalaman pribadi.

c. Mengaburkan Pekerjaan Roh Kudus
Roh Kudus:
Memeteraikan iman
Menumbuhkan pertobatan sepanjang hidup
Baptisan ulang membuat seolah:
Roh Kudus gagal bekerja sejak baptisan pertama
Pertumbuhan iman harus dimulai dari nol
Padahal pertobatan sejati adalah proses seumur hidup, bukan alasan untuk baptisan ulang.

d. Menggeser Baptisan Menjadi Prestasi Manusia
Baptisan ulang sering menekankan:
Kesadaran iman
Kesungguhan pribadi
Pengalaman rohani
Akhirnya baptisan dipandang sebagai:
Bukti kualitas iman manusia
Tindakan manusia, bukan anugerah Allah
Ini berbahaya karena:
Keselamatan bukan oleh usaha, tetapi oleh anugerah.

5. Dampak Pastoral bagi Jemaat
Fenomena baptisan ulang dapat:
a. Membingungkan jemaat sederhana
b. Memecah kesatuan gereja
c. Membuat orang meragukan keselamatannya
d. Menghakimi baptisan gereja lain

Akibatnya:
Jemaat hidup dalam ketakutan
Fokus iman bergeser dari Allah kepada diri sendiri

6. Sikap Gereja yang Sehat

Gereja perlu menegaskan bahwa:
a. Baptisan sah cukup sekali
b .Pertobatan adalah proses hidup, bukan pengulangan sakramen
c. Iman bertumbuh melalui firman, doa, dan persekutuan

Jika seseorang jatuh dalam dosa:
Ia dipanggil untuk bertobat
Bukan untuk dibaptis ulang

7. Penutup
Baptisan adalah:
a. Tanda kasih Allah
b. Janji Allah Tritunggal
c. Anugerah yang tidak diulang

BAPTISAN ULANG BUKAN TANDA IMAN YANG LEBIH DEWASA, TETAPI SERINGKALI MENJADI TANDA IMAN YANG BELUM MEMAHAMI ANUGERAH ALLAH.

Marilah kita:
a. Menghormati karya Allah Tritunggal
b. Memelihara iman dalam ketaatan
c. Hidup setia pada janji baptisan kita

Baptisan seharusnya tidak diulang karena merupakan sakramen yang unik dan permanen, melambangkan persatuan sekali untuk selamanya dengan kematian serta kebangkitan Kristus.  Pandangan ini didukung kuat oleh teologi Reformed, Katolik, dan Ortodoks yang menekankan validitas baptisan asli selama dilakukan atas nama Tritunggal. Analisis kritis akademik menolak rebaptisan sebagai bentuk keraguan terhadap efikasi karya Kristus yang sempurna. Dasar Alkitabiah Efesus 4:5 menyatakan "satu Tuhan, satu iman, satu baptisan," yang menegaskan baptisan sebagai elemen tunggal dalam kesatuan gereja universal, bukan yang dapat diulang. Roma 6:3-4 menggambarkan baptisan sebagai identifikasi definitif dengan kematian dan kebangkitan Kristus, menghasilkan hidup baru yang tidak perlu "dikubur ulang." Kisah Para Rasul tidak mencatat preseden rebaptisan kecuali untuk konversi dari baptisan Yohanes non-Trinitarian, bukan untuk baptisan Kristen yang sah. Perspektif Teologi Reformed
Dalam tradisi Reformed, baptisan Kudus bersifat sakramental permanen, mirip sunat Perjanjian Lama yang sekali seumur hidup, menandai masuknya ke dalam perjanjian Allah. Rebaptisan menyiratkan penolakan terhadap otoritas gereja universal dan karya Roh Kudus yang mengikat semua baptisan Trinitarian, termasuk baptisan bayi atau dewasa asli. Konfirmasi iman atau peneguhan cukup untuk dewasa yang bertumbuh, tanpa mengulang sakramen. Kritik terhadap Rebaptisan
Praktik rebaptisan ala Anabaptis mengabaikan esensi baptisan sebagai tindakan ilahi yang transenden, bukan sekadar simbol subjektif pertobatan pribadi. Secara historis, ini memecah kesatuan gereja, bertentangan dengan Efesus 4 yang menuntut "menjaga kesatuan Roh." Kritik akademik menyoroti bahwa rebaptisan merendahkan kedaulatan Allah atas sakramen, menggantikannya dengan pengalaman manusiawi yang fluktuatif. 
Bagaimana gereja menentukan validitas baptisan sebelumnya

Gereja menentukan validitas baptisan sebelumnya berdasarkan kriteria teologis seperti rumusan baptis, usia penerima, dan keyakinan pribadi, yang bervariasi antar denominasi. Kriteria utama meliputi penggunaan rumus Tritunggal yang benar ("dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus") serta baptisan bagi orang percaya dewasa yang sadar atau anak/bayi yg diserahkan dalam tanggung jawab orang tuanya, air, percik, selamat, celup, dlsb, bukan materi utama. Kriteria Katolik dan Protestan Reformir Tradisional serta orthodoks, Gereja Katolik memvalidasi baptisan non-Katolik jika memenuhi materia (air) dan forma (rumus Tritunggal), dibuktikan via surat baptis, tidak perlu baptisan ulang. Gereja Protestan Reformir Tradisional umumnya menerima baptisan sebelumnya sah jika sesuai firman Tuhan, dalam nama Tritunggal mahakudus, fokus pada institusi ilahi bukan pelayan, atau disebut gereja se azas. Gereja Ortodoks mensyaratkan baptisan oleh imam dengan rantai apostolik; sebetulnya rantai apostolik ini dalam pemahaman modern kurang lebih dipahami sebagai gereja se azas, baptisan di luar dianggap tidak sah, sehingga membutuhkan baptisan penuh meski ada baptisan darurat dalam dogma orthodoks.

(18012026)(TUS)




Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 MATIUS 5 :13-20, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗘𝗽𝗶𝗳𝗮𝗻𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗴𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮

Sudut   𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 MATIUS 5 :13-20,  [ 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗘𝗽𝗶𝗳𝗮𝗻𝗶, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘀𝘂𝗿𝘂...