"RABU ABU, JANGAN ABU-ABU FERGUSO?"
Tokoh:
MDS (Mbah Dukun Sesat)
Raka (remaja kritis, banyak baca medsos).
Mira (remaja reflektif, jujur bertanya).
(Suasana kelas katekisasi sore hari. Beberapa kursi melingkar. Raka angkat tangan lebih dulu.)
Raka:
Mbah … saya mau tanya agak serius nih.
Kenapa sekarang gereja kita ikut-ikutan Rabu Abu?
Di medsos ada yang bilang: “Protestan sudah mulai balik ke Katolik.”
Itu benar nggak sih, Pak?
(Mira ikut angkat tangan, agak ragu.)
Mira:
Iya, Mbah … saya juga bingung.
Dulu katanya Protestan anti ritual.
Sekarang kok malah pakai abu di dahi?
Takutnya ini jadi formalitas kosong.
(MDS tersenyum, menarik kursi sedikit ke depan.)
1. MDS : Meluruskan dari awal
MDS :
Pertanyaan kalian bagus. Dan jujur, banyak orang dewasa pun bertanya hal yang sama.
Jawaban singkatnya begini:
Rabu Abu bukan milik Katolik, dan bukan juga syarat keselamatan.
Sekarang kita pelan-pelan ya.
2. Asal-usul Rabu Abu
MDS :
Tradisi abu lebih tua dari Katolik Roma dan Protestan.
Jauh sebelum gereja terpecah, umat Kristen sudah memakai abu sebagai tanda pertobatan.
Dalam Alkitab:
Ayub bertobat dalam debu dan abu. Orang Niniwe bertobat dengan abu. Abu selalu bicara tentang satu hal:
“Aku ini rapuh, berdosa, dan butuh Tuhan.”
Jadi abu itu seperti bahasa tubuh iman.
Raka:
Jadi bukan ritual baru?
MDS :
Bukan. Ini tradisi gereja purba, bukan tren modern.
3. Ilustrasi: Cermin di Pagi Hari
MDS :
Begini ilustrasinya.
Pagi hari kalian bercermin, kan?
Mira:
Jelas, Pak… kalau nggak, bisa diketawain.
MDS (tersenyum):
Cermin itu tidak membersihkan wajah, tapi menunjukkan bahwa wajah perlu dibersihkan.
Nah, abu itu seperti cermin.
Ia tidak menghapus dosa,
tapi berkata jujur: “Hatiku perlu dibersihkan Tuhan.”
4. Lalu kenapa dulu Protestan tidak melakukannya?
Raka:
Nah ini, Pak. Katanya Reformasi menolak semua ini.
MDS :
Bukan menolak simbolnya, tapi menolak penyalahgunaannya.
Pada abad ke-16, Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther menghadapi gereja yang:
Menjadikan ritual seolah-olah membeli keselamatan Menggantikan pertobatan hati dengan formalitas luar. Maka banyak ritual disingkirkan sementara, supaya Injil berdiri tegak kembali.
Mira:
Jadi sebenarnya bukan karena salah, tapi karena rawan disalahgunakan?
MDS :
Tepat sekali.
5. Kenapa sekarang sebagian gereja Protestan melakukannya?
MDS :
Karena gereja belajar bersikap dewasa. Sekarang kita bisa membedakan:
Ritual sebagai alat atau
Ritual sebagai pengganti iman.
Rabu Abu dipakai bukan sebagai kewajiban, tapi undangan:
Undangan untuk refleksi
Undangan untuk pertobatan
Undangan untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah.
Raka:
Jadi bukan berarti semua gereja Protestan wajib ya?
MDS :
Tidak. Sama sekali tidak wajib.
Dan yang tidak melakukannya tidak kurang rohani.
6. Ilustrasi: Jaket Tim Sekolah
MDS:
Bayangkan jaket tim sekolah.
Kalau kalian pakai jaket OSIS tapi:
malas melayani, sombong, cuek,
jaket itu jadi kosong makna.
Tapi kalau hati kalian sungguh mau melayani, jaket itu jadi pengingat komitmen. Begitu juga abu. Masalahnya bukan di abu, tapi di hati.
7. Menjawab tuduhan “Protestan balik ke Katolik”
Mira:
Kalau ada yang bilang kita meniru Katolik, jawabnya gimana, Pak?
MDS :
Jawab dengan tenang dan rendah hati:
“Tradisi gereja purba milik seluruh tubuh Kristus.
Kami tidak mengambil dogma Katolik,
kami memakai simbol dengan penafsiran Injili.”
Tidak perlu defensif.
Kebenaran tidak butuh teriak-teriak.
8. Pesan penutup Mbah Dukun Sesat
Mbah Dukun Sesat (nada lebih lembut):
Anak-anak, Tuhan tidak pernah terkesan dengan tanda di dahi,
kalau hati kita keras.
Tapi Tuhan sangat berkenan pada hati yang:
mau dikoreksi, mau dikritik, tidak menulikan diri
mau bertobat, sadar akan kerapuhan diri
mau diubah, mau bertobat.
Kalau abu menolong kita mengingat itu—baik.
Kalau tidak—tidak masalah untuk tidak memakainya.
Karena pada akhirnya,
yang Tuhan cari bukan abu di kepala,
tetapi hati yang kembali kepada-Nya.
(Kelas hening sejenak. Raka mengangguk pelan.)
Raka:
Mbah … sekarang saya lebih tenang.
Ternyata bukan soal ikut siapa,
tapi ikut Kristus.
Mira (tersenyum):
Iya… iman itu bukan soal simbol,
tapi simbol bisa menolong iman kalau dipakai dengan benar.
Mbah Dukun Sesat (MDS):
Nah. Itu katekisasi hari ini.
Iman yang dewasa—
kritis, rendah hati, dan berakar pada kasih Kristus.
Soli Deo Gloria.
(21022026)(TUS)