Sabtu, 21 Februari 2026

SUDUT PANDANG KHOTBAH KUASA ROH KUDUS


SUDUT PANDANG KHOTBAH KUASA ROH KUDUS

PENGANTAR
Khotbah yang penuh kuasa Roh Kudus bukan diukur dari volume suara, teknik retorika, atau berapa banyak yang tersentuh secara emosional, ada yang menggelepar, ada yang menangis. Roh Kudus tidak bekerja sebagai pengatur sensasi. Dalam Injil Yohanes 16:8, Yesus berkata bahwa ketika Roh itu datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Kata “menginsafkan” (ἐλέγχω / elenchō) berarti menegur dengan bukti, membongkar kesalahan sampai orang tidak bisa lagi bersembunyi di balik pembenaran diri. Itu pekerjaan forensik, bukan sentimental. Roh Kudus menembus hati, bukan sekadar menggetarkan perasaan, Roh Kudus membuat orang merenung dan bertobat.


PEMAHAMAN
ROH KUDUS SELALU MEMULIAKAN KRISTUS 
Dalam Injil Yohanes 16:14, Yesus menegaskan: “Ia akan memuliakan Aku.” Jadi tanda utama khotbah yang diurapi Roh bukanlah audiens yang terharu, menangis, menggelepar tetapi Kristus yang ditinggikan, memompa semangat meneladan Kristus dan menghikmati ajaranNya. Roh Kudus tidak pernah mempromosikan pengkhotbah. Ia tidak membangun merek pribadi. Ia menyinari Kristus dan bersinar bagi Kristus.

Karena itu, khotbah yang penuh Roh akan:

- Menyingkapkan dosa dalam terang salib.
- Menunjukkan kebenaran Allah yang sempurna dalam pribadi Kristus.
- Mengingatkan realitas penghakiman dan urgensi pertobatan.

Kalau khotbah hanya membuat orang merasa lebih baik tentang diri mereka, uforia sesaat, tanpa memperhadapkan mereka pada kekudusan Allah, itu mungkin menghibur, tapi bukan karya Roh.

KRISTOSENTRIS, BUKAN ANTROPOSENTRIS
Khotbah yang berpusat pada manusia biasanya berbunyi seperti ini: “Anda bisa… Anda mampu… Anda luar biasa…” Khotbah yang berpusat pada Kristus berkata: “Tanpa Dia, kamu binasa. Di dalam Dia, kamu diperdamaikan.”
Rasul Paulus menegaskan dalam 1 Korintus 2:2 bahwa ia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan. Ini bukan anti-intelektual; ini prioritas teologis. Salib adalah pusat sejarah penebusan. Roh Kudus bekerja melalui pemberitaan Kristus yang disalibkan dan bangkit.
Kalau Kristus hanya disebut sekilas sebagai “penutup doa”, itu bukan khotbah yang penuh Roh—itu TED Talk rohani dengan ayat tempelan.

BUAHNYA : PERTOBATAN DAN KEKUDUSAN
Roh Kudus bukan hanya membuat orang sadar bahwa mereka berdosa, tetapi juga menarik mereka kepada kebenaran Kristus. Itu berarti ada perubahan arah hidup. Dalam Kisah Para Rasul 2, ketika Petrus berkhotbah, orang banyak “terharu” (tertusuk hatinya). Tetapi mereka tidak berhenti pada perasaan. Mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat?” Lalu mereka bertobat. MENINGGALKAN HIDUP LAMA, MENJALANI  KONSEKUENSI PRTANGGUNGAN JAWAB HIDUP BARU itu karya Roh Kudus, jatuh bangun berproses meneladan Kristus dan menghikmati ajaran Kristus, itu karya Roh Kudus.
Itulah tanda kuasa Roh:
- Ada pengakuan dosa.
- Ada keputusan meninggalkan dosa.
- Ada langkah nyata dalam ketaatan.
Kalau seseorang menangis, menggelepar, hari Minggu tetapi kembali hidup sama saja hari Senin, mungkin yang tersentuh adalah emosinya, bukan nuraninya.

EMOSI ITU NETRAL, TRANSFORMASI ITU ESENSIAL 
Jangan salah paham—emosi bukan musuh. Allah menciptakan emosi. Bahkan banyak kebangunan rohani dalam sejarah disertai tangisan. Tetapi tangisan bukan bukti otomatis kehadiran Roh Kudus. Banyak pembicara motivasi, bahkan tanpa Kristus, bisa membuat orang menangis.
Pertanyaannya bukan: “Apakah saya tersentuh?”
Pertanyaannya: “Apakah saya bertobat? Apakah saya makin membenci dosa? Apakah saya makin mengasihi Kristus? Apakah saya berproses meninggalkan kehidupan lama? apakah saya berproses meneladan Kristus? apakah saya berproses menghikmati ajaranNya?”
Roh Kudus menghasilkan buah (Gal. 5:22-23), bukan sekadar sensasi. Buah itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari—di rumah, di kantor, di ruang publik.

DOSA, KEBENARAN DAN PENGHAKIMAN
Mari kembali ke Yohanes 16:8-11
Dosa: inti dosa yang disingkapkan Roh adalah ketidakpercayaan kepada Kristus (ay. 9). Jadi persoalannya bukan sekadar perilaku moral yang salah, tetapi sikap hati yang menolak Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Roh Kudus menelanjangi akar ini—bahwa semua pemberontakan bermuara pada tidak mau tunduk kepada Kristus.
Kebenaran: kebenaran dinyatakan dalam pribadi dan karya Kristus yang kembali kepada Bapa (ay. 10). Kenaikan-Nya menegaskan bahwa Ia benar dan dibenarkan oleh Allah. Dengan demikian, standar kebenaran bukan ditentukan zaman, opini publik, atau arus budaya, melainkan oleh siapa Kristus itu.
Penghakiman: penguasa dunia ini telah dihukum (ay. 11). Artinya, kemenangan akhir sudah dipastikan. Sejarah bergerak menuju pengadilan Allah, bukan menuju kekosongan moral. Hidup manusia berlangsung di bawah realitas eskatologis, ada pertanggungjawaban yang tak terhindarkan.
Jadi, ya! Khotbah yang tidak mendorong pertobatan dan kekudusan serta proses meneladan Kristus juga menghikmati ajarannya bahkan menghidupi ajaranNya, memang tidak berguna secara rohani. Itu mungkin menghibur, mungkin viral, mungkin dikagumi. Tapi kalau tidak membuat orang semakin serupa Kristus, itu gagal mencapai tujuan ilahi.
Dan ini juga jadi cermin bagi kita sebagai pendengar. Jangan hanya mencari khotbah yang “enak didengar”. Carilah yang membuat kita tidak nyaman, cari khotbah yang tidak nyaman juga membuat kita introspeksi melihat diri, karena dosa kita disingkapkan—namun sekaligus dihibur oleh anugerah Kristus.
Kuasa Roh Kudus bukan soal suasana.
Itu soal salib.
Dan salib selalu mengubah hidup serta menghidupkan.
(22022026)(TUS)

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup PENGANTAR Pencobaan/Godaan yang Yesus alami bukanlah pencobaan untuk memperoleh sesuatu. Yesus suda...