Bacaan Injil secara ekumenis untuk Minggu I Pra-Paska (22/2) diambil dari Matius 4:1-11. LAI memberi judul π ππ΄π’π΄ π₯ππ€ππ£ππͺ π₯π ππ’π₯ππ―π ππΆππΆπ. Penjudulan oleh LAI sebenarnya kurang akurat. Mengapa? Kisah ππ¦π―π€π°π£π’π’π― ada dalam Injil sinoptik, tetapi kisahnya berbeda.
PEMAHAMAN
Perbedaan utama antara Matius 4:1–11 dan Lukas 4:1–13 bukan pada isi tiga pencobaan (sama), tetapi pada urutan, penekanan teologis, dan cara masing‑masing Injil “mengarahkan” cerita untuk menonjolkan tema khas mereka.
- Matius: 1) batu–roti; 2) bubungan Bait Allah; 3) semua kerajaan dunia (di gunung yang sangat tinggi).
- Lukas: 1) batu–roti; 2) semua kerajaan dunia; 3) bubungan Bait Allah (Jerusalem).
- Banyak penafsir melihat Matius memakai urutan yang “menaik” secara psikologis (dari kebutuhan tubuh, ke religiositas spektakuler, ke puncak godaan kuasa dunia), sedangkan Lukas menyusun secara geografis/topikal: padang gurun → seluruh dunia (visi) → puncak Bait Allah di Yerusalem (kota kunci dalam Injil Lukas–Kisah Para Rasul).
- Matius sangat menyukai motif “gunung” (khotbah di bukit, gunung transfigurasi, gunung amanat agung); karena itu ia menutup dengan pencobaan di “gunung yang sangat tinggi” sebagai antisipasi konflik tentang otoritas Mesias atas segala bangsa.
- Lukas sangat berfokus pada Yerusalem sebagai titik pusat kisah: Injilnya bergerak menuju Yerusalem, Kisah Para Rasul bergerak keluar dari Yerusalem; karena itu ia menutup pencobaan di bubungan Bait Allah untuk mengarahkan perhatian pembaca pada kota itu sebagai panggung besar drama keselamatan.
- Dengan demikian, pada Matius, puncak konflik adalah: apakah Yesus akan mengambil jalan pintas politik‑kerajaan dunia; pada Lukas, puncaknya adalah: apakah Yesus akan menyalahgunakan status Anak Allah dalam konteks pusat ibadah Israel (Yerusalem/Bait Allah).
- Keduanya sama‑sama menekankan bahwa Yesus dipimpin Roh dan dicobai Iblis selama empat puluh hari; Markus hanya menyebutkan secara sangat singkat.
- Beberapa tafsiran mencatat bahwa Matius memakai penanda urutan yang lebih jelas (“kemudian”, “lagi pula”), sehingga dibaca lebih kronologis; sementara Lukas banyak memakai “dan”, sehingga lebih mudah dipahami sebagai susunan tematis, bukan kronologis ketat.[6][9]
- Keduanya mengutip tiga teks Ulangan yang sama (Ul 8:3; 6:16; 6:13), sehingga perbedaan bukan pada teologi firman, melainkan pada cara masing‑masing penginjil memosisikan cerita itu dalam keseluruhan narasi Injil mereka.
- Analisis Matius cenderung menonjolkan Yesus sebagai Israel sejati dan Raja Mesianik yang menolak model kerajaan dunia, konsisten dengan tema “Yesus Anak Daud” dan Amanat Agung kepada segala bangsa.
- Analisis Lukas menyorot Yesus sebagai Anak Allah yang taat di dalam dan terhadap rencana Allah yang berpusat di Yerusalem, yang nanti akan menderita, mati, dan bangkit di sana; perikop ini menjadi pembuka bagi perjalanan naratif menuju kota itu.
- Perbedaan urutan bukan kontradiksi, melainkan pilihan penyuntingan teologis: satu tradisi peristiwa yang sama “diatur ulang” untuk menegaskan fokus masing‑masing Injil (gunung–segala bangsa pada Matius, Yerusalem–sejarah keselamatan pada Lukas).
(21022026)(TUS)