PENGANTAR
Kata apologetika berasal dari bahasa Grika ๐ข๐ฑ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐จ๐ช๐ข (แผฯฮฟฮปฮฟฮณฮฏฮฑ) yang secara umum berarti ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ข๐ฏ. Dalam agama Kristen apologetika adalah upaya memertahankan dan menjelaskan iman dan kepercayaan Kristen. Pelakunya disebut apologet. Apologet klasik legendaris dalam kekristenan adalah Yustinus Martir. Apologetika dalam kekristenan modern tampaknya sudah bergeser menjadi arena perdebatan dogmatik kaum fundamentalis Katolik vs. Ortodoks vs. Protestan ๐ท๐ช๐ค๐ฆ ๐ท๐ฆ๐ณ๐ด๐ข. Lucunya saat berhadapan dengan Kristen “liberal” atau Islam, kaum Kristen fundi ini mendadak bersatu. Ekumenis ๐ฃ๐บ ๐ข๐ค๐ค๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต. Wkwkwkwk
PEMAHAMAN
Saya dulu aktif dalam apologetika dalam makna Kristen modern. Lama-lama saya cabut karena argumen yang dibangun tak jarang menggunakan ๐ฑ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฅ๐ฐ๐ด๐ค๐ช๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ alias ilmu gadungan. ๐๐ฐ๐ฐ ๐จ๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ต๐ฐ ๐ฃ๐ฆ ๐ต๐ณ๐ถ๐ฆ. Membohongi diri sendiri demi kepuasan sendiri. Kadang kesimpulan sudah ditentukan dulu, lalu data dicari belakangan untuk membenarkannya.
Saya akhirnya memilih (sampai sekarang) jalan “liberal”. Posisi ini membuat saya rileks dalam berdiskusi (atau debat) teologi. Mengapa bisa rileks? Saya tidak dibebani kewajiban untuk selalu “menang” atau selalu “membela”. Saya akan selalu menanggapi dengan tafsir jujur sejauh yang saya ketahui. Malahan Pdt. Budhi Purwosuwito menyebut saya terlalu jujur. Wkwkwkwk
Saya berikan contohnya :
๐๐ฒ๐๐ฎ๐๐. ๐ ๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ถ๐บ๐ฎ ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ ๐ฐ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐๐ฎ ๐๐ป๐ท๐ถ๐น
Cerita keempat Injil kanonik berbeda. Saya menerimanya. Saya tidak mau mengharmoniskan cerita Injil karena justru akan mengaburkan pesan utama Injil masing-masing.
Ada yang mencoba menganalogikan empat kamera dari sudut berbeda untuk menyorot objek yang sama. Saya menolak analogi ini, karena rekaman empat kamera itu dapat saling-melengkapi. Padahal kisah kelahiran Yesus dalam Injil Matius dan Lukas tidak dapat saling-melengkapi. ๐๐ฉ๐ข ๐ธ๐ฐ๐ฏ๐จ dunia ceritanya memang berbeda.
Dalam Matius:
▶️ Yesus lahir pada zaman Herodes Agung,
▶️ keluarga tinggal di Betlehem,
▶️ lalu mengungsi ke Mesir.
Dalam Lukas:
▶️ Yesus lahir saat sensus Kirenius,
▶️ keluarga berasal dari Nazaret,
▶️ lalu kembali damai-damai saja ke Nazaret.
Dua dunia cerita ini tidak bisa dipaksa menjadi satu kronologi harmonis tanpa menjahit sana-sini. Kitab Injil ditulis bukan untuk orang Kristen Indonesia abad ke-21. Kitab Injil ditulis untuk menjawab pergulatan jemaat tertentu atas pertanyaan besar: ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข ๐๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ด ๐ฎ๐ข๐ต๐ช? Para petulis Injil lalu menyusun kisah teologis (bukan laporan jurnalistik modern) untuk mengajar, menghibur, dan menggembala komunitasnya dengan membawa tekanan teologi masing-masing. Para petulis Injil bukanlah rasul-rasul Yesus, tetapi mereka jelas orang Kristen (kemungkinan generasi kedua) yang sangat terpelajar dan sangat menguasai Kitab Suci Yahudi. Perbedaan kisah ini justru seharusnya diterima dengan rasa syukur oleh umat Kristen modern. Itu berarti Yesus tidak dipenjarakan oleh satu tafsir tunggal yang akhirnya berubah menjadi ideologi. Injil kaya akan perspektif dan teologi.
๐๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ. ๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐๐ฏ๐ฟ๐ฎ๐ต๐ฎ๐บ ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ต๐ถ๐๐๐ผ๐ฟ๐ถ๐
Saya memandang kisah Abraham dalam Kitab Kejadian bukan kisah historis. Tokoh cerita Abraham, Ishak, dan Ismael tidak ada secara historis. Ini mitos.
Kata ๐ฎ๐ช๐ต๐ฐ๐ด di sini jangan buru-buru dipahami sebagai “dongeng bohong”. Dalam studi agama mitos adalah genre sastra untuk mengungkapkan realitas ilahi dan identitas suatu komunitas. Untuk itulah kisah Abraham lebih penting dibaca sebagai narasi teologis ketimbang laporan sejarah arkeologis. Di sini perlu diluruskan dulu bahwa dalam studi agama dan antropologi, “mitos” tidak berarti “dongeng bohong” atau “sekadar cerita khayalan”. Mitos adalah cara suatu komunitas mengungkapkan kebenaran eksistensial, identitas kolektif, relasi dengan Allah, asal-usul, dan makna hidup melalui narasi simbolik-teologis.
Contoh sederhananya: kisah orang Samaria yang baik hati. Jelas sekali ini bukan kisah nyata. Tapi kisah itu menyampaikan kebenaran yang sangat hakiki tentang kasih kepada sesama manusia. Nilai kebenarannya tidak bergantung pada ada-tidaknya dokumen sejarah tentang orang Samaria itu.
Jadi, ketika saya menyebut kisah Abraham sebagai mitos, saya tidak sedang mengejek atau merendahkan Kitab Suci. Saya sedang memakai kategori ilmiah dalam studi agama.
Memang benar dalam Alkitab Abraham diperlakukan sebagai figur nyata oleh para petulis biblis. Tapiii itu tidak otomatis menyelesaikan pertanyaan historis modern mengenai apakah Abraham dapat diverifikasi sebagai tokoh sejarah sebagaimana dipahami historiografi modern.
Saya pada pendirian bahwa Abraham dalam kitab Kejadian bukan tokoh historis. Fungsi utama kisah Abraham dalam Alkitab bukan memberi laporan arkeologis, tapi mau menyampaikan identitas iman Israel dan teologi perjanjian, saya dulu pernah membahas ttg ini dengan mahasiswa phd ukdw, sewaktu mencari penjelasan mengenai mengenai sekian banyak hal dalam perjanjian lama. Saya langsung wow. Ziziziii.. sekian banyak tokoh dan kisah ternyata ga bisa dianggap riil seperti yg tertulis. Apalagi kisah Abraham dst. Karena kitab2 itu ditulis sebagai cara untuk membentuk identitas Israel sebagai bangsa monoteis di lingkungan politeis pada saat itu. Identitas yang memisahkan umat Elohim/YHWH dari sekian banyak sesembahan di sekitar Isreal, iya, menariknya justru ketika dibaca sebagai teologi identitas, teks-teks itu menjadi jauh lebih kaya drpd sekadar diburu cocok-tidaknya dengan historiografi modern. Cahyono S W
Pertama, saya tidak pernah mengatakan: “tidak dapat diverifikasi maka pasti tidak historis.”
Posisi saya lebih sederhana: kisah Abraham lebih tepat dibaca sebagai narasi teologis-identitas daripada historiografi modern. Itu berbeda.
Kedua, saya juga tidak menyamakan begitu saja genre Abraham dengan perumpamaan Orang Samaria. Contoh Samaria saya pakai hanya untuk menunjukkan bahwa nilai kebenaran religius tidak selalu bergantung pada historisitas literal. Jadi, jangan dibaca terlalu harfiah seolah saya berkata: “Abraham = tokoh perumpamaan.” Bukan itu poin saya.
Ketiga, benar bahwa petulis Alkitab PB memerlakukan Abraham sebagai figur nyata. Tapi itu tidak otomatis mengakhiri diskusi historis modern. Dalam dunia kuno sejarah, teologi, memori kolektif, identitas bangsa, bahkan kepentingan politik memang bercampur menjadi satu.
Kita jangan lupa bahwa Alkitab juga lahir dari pergulatan sosial-politik Israel: soal tanah, identitas umat pilihan, legitimasi keturunan, sentralisasi ibadah, relasi dengan bangsa lain, sampai trauma pembuangan.
Jadi, narasi leluhur seperti Abraham bukan sekadar “biografi tokoh”, tapi fondasi identitas nasional-teologis Israel.
Keempat, saya justru bersetuju dengan anda bahwa dalam tradisi Yahudi kuno sejarah dan teologi menyatu. Tapi masalahnya “sejarah” dalam dunia kuno tidak identik dengan historiografi kritis modern. Petulis kuno tidak bekerja dengan standar verifikasi akademik abad ke-21.
Bagi saya pertanyaan paling penting bukan: “apakah Abraham bisa difoto?” melainkan: “mengapa Israel merasa perlu menceritakan Abraham dengan cara seperti itu?”
Di sini saya cukup dipengaruhi Robert B. Coote dan beberapa penghampiran studi biblika modern yang melihat teks bukan terutama sebagai arsip kronologi, tetapi sebagai kesaksian iman, memori kolektif, dan konstruksi identitas umat.
Jadi saya tidak sedang “menghancurkan” teologi Alkitab. Saya membaca Alkitab sebagai teks religius kuno yang lahir dari sejarah, politik, iman, dan pergulatan manusia yang sangat kompleks.Cahyono S W
Posisi saya sudah jelas sejak awal: Abraham dalam Kitab Kejadian bukan tokoh historis.
Mau gamblang lagi: Abraham dalam Kitab Kejadian BUKAN tokoh nyata!
Jangan dibalik seolah saya sedang berkata: “teologis = otomatis ahistoris.” Bukan.
Yang saya maksud: kisah Abraham lebih tepat dipahami sebagai narasi teologis-identitas Israel ketimbang laporan sejarah literal tentang satu individu yang dapat diperlakukan sebagai figur historis modern.
Jadi, saya tidak sedang “melunak”, memang dari awal posisi saya begitu!
Jadi kalau ada debat panas: ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฃ๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ? ๐๐ด๐ฉ๐ข๐ฌ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐๐ด๐ฎ๐ข๐ฆ๐ญ?
Saya ๐ด๐ช๐ฉ cuma ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ข๐ฎ-๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ saja. Wkwkwkwk (yang dikurbankan bukan Ishak atau Ismail tetapi APBN, kasus kurban 100 miliar atas nama presiden pakai dana APBN, hari raya idul adha 2026 ... Wk ..... Wk ..... Wk)
Oh ya, di atas saya menyebut bahwa kaum fundi yang gemar “berapologetika” sering bersatu saat menghadapi Kristen “liberal”. Tempo hari saya membuat ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ต tentang apologet ahlinya ahli bahasa Ibrani Rita Wahyu yang melakukan ๐ค๐ฐ๐ค๐ฐ๐ฌ๐ญ๐ฐ๐จ๐ช bahwa tanggal 25 Desember memang tanggal lahir Yesus sesuai kisah Injil. Di situ lucu ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต melihat berbagai kubu fundi mendadak kompak membela Rita Wahyu, pdhl sebelumnya mereka berseberangan .... Wk ..... Wk.
(28052026)(TUS)