Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, Bagian 2
𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮: 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗻𝗴𝗴𝗶𝗹?
Ibadah tidak pernah dimula dari titik nol. Kalau begitu, pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: Ketika ibadah dimula, siapa yang lebih dahulu bertindak?
Banyak kebaktian dibuka dengan kalimat netral dan sosial:
▶️ “Selamat pagi, jemaat yang dikasihi Tuhan.”
▶️ “Marilah kita bersama-sama memula ibadah ini.”
Kalimat-kalimat itu tampak biasa-biasa saja. Namun, ia menyimpan asumsi seolah-olah ibadah adalah pertemuan yang kita inisiasi. Seolah-olah kita yang mengaktifkan ruang kudus.
Padahal dalam struktur klasik Gereja ibadah dimula dengan panggilan:
▶️ Allah yang lebih dahulu menyapa.
▶️ Allah yang lebih dahulu mengundang.
▶️ Allah yang lebih dahulu bertindak.
Di sanalah letak makna teologis 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢. Ia bukan formalitas, melainkan pemakluman tentang arah relasi.
Jika umat dibiasakan memula, maka mereka belajar bahwa iman adalah inisiatif manusia. Jika umat dibiasakan dipanggil, maka mereka belajar bahwa iman adalah tanggapan. Beda tipis, tetapi dampak teologisnya besar.
𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 pada umumnya memuat:
▶️ Votum,
▶️ Salam anugerah,
▶️ Pengakuan dosa, dan
▶️ Pemberitaan pengampunan dosa.
Struktur di atas bukanlah kebetulan. Ia membentuk pola batin. Jika dibuat bagan alirnya:
𝗗𝗶𝗽𝗮𝗻𝗴𝗴𝗶𝗹 → 𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗼𝘀𝗮 → 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗮𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵 → (baru kemudian) 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮.
Tanpa struktur itu ibadah dapat berubah menjadi:
Hadir → mendengarkan ceramah → pulang.
Liturgi yang miskin pembukaan teologis akan menghasilkan iman yang miskin kesadaran relasional. Ketika 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 dipersingkat demi efisiensi, yang dipotong bukan sekadar waktu, melainkan proses pembentukan kesadaran bahwa kita berdiri di hadapan Allah, bukan sekadar berada di dalam ruangan gereja.
Yang disebut dengan miskin pembukaan teologis bukan soal durasi dalam 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢. Sebagai contoh ada kebaktian yang begitu banyak menampilkan nyanyian dalam arahan 𝘸𝘰𝘳𝘴𝘩𝘪𝘱 𝘭𝘦𝘢𝘥𝘦𝘳 dengan durasi yang amat panjang. 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 yang diperpanjang tanpa struktur akan membentuk iman yang bergantung pada suasana. Ia mengganti hadirat Allah dengan intensitas pengalaman.
Ketika ibadah dimula, apakah umat merasa sedang memula sesuatu untuk Allah atau sedang ditarik masuk ke dalam karya Allah? Jawaban atas pertanyaan itu menentukan jenis iman yang dibentuk setiap Minggu.
(Bersambung)
1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
3. https://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html