Kamis, 19 Februari 2026

Sudut Pandang Liturgi : 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 dan Hening

Sudut Pandang Liturgi : 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 dan Hening

PENGANTAR
Perjumpaan dramatik simbolik antara Allah dan umat. Dlm perjumpaan ada rasa yg tak terungkap lewat kata dan simbol,  ada dialog. Dialog ada kata ada simbol, yg pasti saling atau timbal balik dua arah. Ada protokol bakunya ada unsur bakunya. (walaupun bisa diubah tetapi tidak boleh sembarangan). Siapa yg tidak membolehkan ? Nah... 🤭 .... tetapi bukan itu pertanyaan bakunya, apakah penyusunan liturgi menggunakan ilmu liturgi.Reformasi liturgi dalam Gereja Katolik terinspirasi dari Gereja Protestan. Pembaruan pertama dan utama liturgi dalam Gereja Katolik adalah partisipasi umat. Ironisnya Gereja Protestan, baik arus-utama maupun evangelikal dan kharismatik, malah berjalan mundur, membungkam partisipasi umat. 

PEMAHAMAN 
Tempo hari saya pernah menulis takrif liturgi. Saya ulangi saja. Liturgi bukan ritual, melainkan lebih luas daripada itu. Dalam teologi Kristen liturgi ditakrifkan sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilakukan oleh Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Liturgi mencakup komunikasi dua arah, Allah yang menguduskan dan menyelamatkan manusia (𝘬𝘢𝘵𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴) dan sekaligus manusia yang menanggapi pengudusan Allah itu dengan memuliakan-Nya (𝘢𝘯𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴). Kedua gerakan itu adalah dua anasir yang tidak dapat dipisahkan, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴-𝘢𝘯𝘢𝘣𝘢𝘵𝘪𝘴. Liturgi selalu bermatra 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹. Subjek liturgi adalah Kristus dan Gereja. Liturgi merupakan tindakan Kristus dan sekaligus tindakan Gereja. Pengertian di atas tentu dari titik pandang teologis yang abstrak. Dari titik pandang praktis bagaimana kita dapat melihat liturgi dalam suatu kebaktian atau misa Gereja sebagai suatu bangunan liturgi? Sekarang kita membayangkan suatu rangkaian ibadah secara lengkap, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kita buat pembabakannya sbb.:

𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶 – 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

Ritus dalam makna liturgis ditakrifkan sebagai tata cara atau pola tindakan simbolik yang terstruktur yang telah ditetapkan dan diwariskan oleh Gereja. Dalam satu ritus terdapat beberapa bagian. Misal, ritus pembuka ada bagian atau sesi perarakan Injil, votum, dan salam. Jadi, perarakan Injil yang sering diiringi dengan nyanyian jemaat belum disebut liturgi.
Apa perbedaan ritual dan ritus? Ritual merupakan rangkaian beberapa ritus. 
Dalam Liturgi Sabda ada beberapa ritus yang berjalan membentuk satu ritual. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Dalam Liturgi Ekaristi jumlah ritus lebih banyak, yang tentu saja ada ritus persembahan. Persembahan selalu berpautan dengan Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Dalam Liturgi Ekaristi kolekte dapat dimasukkan sebagai bahan lain persembahan. Bahan utama persembahan adalah roti dan anggur, yang kemudian sesudah 𝘋𝘰𝘢 𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 dan 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘪𝘵𝘶𝘴𝘪 menjadi (simbol) kurban tubuh dan darah Kristus. Bahan-bahan lainnya adalah minyak, lilin, dan dapat disertakan kolekte. Apabila hanya Liturgi Sabda, maka kolekte menjadi bagian dalam 𝘳𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱.
Dalam Gereja Protestan tidak setiap Minggu merayakan Liturgi Ekaristi. Dengan demikian pada umumnya kebaktian Minggu dalam Gereja Protestan pembabakannya dibuat sbb.:

𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗸𝗮 – 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮 – 𝗥𝗶𝘁𝘂𝘀 𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

Apabila bangunan liturgi seperti itu, maka tidak ada ritus persembahan, karena tidak ada perayaan Ekaristi. 𝘓𝘩𝘢 kolekte? Kolekte bukanlah persembahan sehingga ia adalah bagian atau sesi dalam ritus penutup. Liturgi Sabda tidak sama dengan khotbah atau homili. Bacaan-bacaan Alkitab dan nyanyian tanggapannya merupakan bagian pokok dalam Liturgi Sabda. Homili, Syahadat, dan Doa memerdalam Liturgi Sabda dan menutupnya. Sungguh keliru menempatkan Mazmur dalam ritus pembuka seperti yang terjadi di beberapa Gereja Protestan. Bacaan-bacaan Alkitab dihidangkan kepada umat sehingga harta Gereja dibuka selebar-lebarnya bagi mereka. Diperlukan penataan bacaan yang bersistem dan berstruktur agar tampak jelas kesatuan Perjanjian Lama-Perjanjian Baru dengan sejarah keselamatan. Untuk itulah kepentingan penerapan bacaan ekumenis RCL (𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺) agar bacaan seturut tahun liturgi dan tidak mengikuti selera dan ideologi pendeta.
Gereja berwatak injili dalam arti selalu mewartakan Injil (injili di sini bukan maksudnya aliran Evangelikal). Pembacaan Injil adalah puncak Liturgi Sabda, perarakan sabda pun dimaknai perakan injil. Pembacaan Injil merupakan simbol kehadiran Kristus di tengah-tengah umat beriman dan pada gilirannya mereka memberitakan Injil Kristus, kenapa itu khotbah harus berpuncak pada bacaan injil.Ritus penutup pada umumnya terdiri atas bagian atau sesi kolekte, pengutusan, dan berkat.

𝗛𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴
Dalam liturgi ada satu anasir sangat penting yang merupakan bagian integral, tetapi tidak atau kurang diperhitungkan sebagai suatu unit ritus dalam struktur ibadah. Apa itu? Keheningan atau saat diam. Hening dalam perayaan liturgi dapat beraneka arti dan makna. Di bawah atmosfer dunia profan yang gaduh dan riuh serta serba tergesa-gesa, kejap, dan dangkal, umat merindu saat hening. Liturgi dapat menyediakannya, meskipun tidak perlu berlama-lama. Liturgi menyediakan momen bagi umat untuk sekadar mereguk kelembutan nafas ilahi. Di Gereja Protestan pada umumnya ada ritus 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘥𝘶𝘩 bagi umat sesudah mendengarkan khotbah  untuk merenung sejenak. 𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘥𝘶𝘩 disediakan hendaklah bukan untuk basa-basi. Sebagai contoh, sesudah pendeta mengatakan “Amin” ketika menutup khotbahnya, dalam hitungan kurang daripada 5 detik penatua minta umat berdiri untuk mengucapkan 𝘚𝘺𝘢𝘩𝘢𝘥𝘢𝘵 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭𝘪. Berapa lama durasi ideal untuk saat teduh? Idealnya ½ - 1 menit.

(20022026)(TUS)


Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup PENGANTAR Pencobaan/Godaan yang Yesus alami bukanlah pencobaan untuk memperoleh sesuatu. Yesus suda...