Minggu, 22 Februari 2026

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 3

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 3

𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗮𝗻 𝗗𝗼𝘀𝗮: 𝗛𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗿𝗺𝗮𝗹𝘂𝗸𝗮𝗻?

Dalam beberapa Gereja Protestan (kalau tak mau disebut banyak) 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 menghilang. Kalau pun masih ada, bagian ini dipersingkat. Kadang diganti dengan doa umum yang samar atau dilebur begitu saja dalam nyanyian. Alasannya beraneka: terlalu muram, terlalu repetitif, kurang relevan, membuat suasana turun, dlsb.

Pertanyaannya: Apa yang sedang dibentuk? 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 bukan ritual rasa bersalah. Ia merupakan momen kesadaran. Tanpa kesadaran akan dosa, anugerah sekadar slogan. Tanpa 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 pengampunan berubah menjadi basa-basi.

Liturgi menempatkan 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 pada bagian awal 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 bukan untuk memermalukan umat, melainkan untuk menempatkan semua orang pada posisi yang sama: tidak ada yang datang sebagai orang benar. Di sini tidak ada hierarki moral. Pendeta dan umat berdiri setara di bawah pengakuan yang sama.

Apabila bagian itu dihapus, maka terjadi pergeseran halus sehingga umat belajar hal yang tidak pernah diucapkan:
▶️ bahwa kita cukup baik untuk langsung mendengarkan firman.
▶️ bahwa kita tidak perlu direndahkan untuk diangkat.
▶️ bahwa anugerah bukan kebutuhan mendesak.

Ada juga bentuk lain yang lebih problematis. 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 dipertahankan, tetapi nadanya berubah menjadi performatif, sekadar pertunjukan, sehingga terlalu cepat, tanpa jeda hening, dan tanpa bobot pedagogis. Ia tidak lagi membentuk kesadaran, hanya memenuhi kewajiban selebrasi.

Padahal secara pedagogis 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 sangat penting. Ia melatih kerendahhatian, kejujuran, kesadaran bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia. Tanpa pelatihan itu iman mudah berubah menjadi legalitas tanpa kesadaran dosa sehingga mudah berubah menjadi keangkuhan religius.

Jika 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘴𝘢 hanya performatif, apakah kita benar-benar mengizinkan umat belajar kerendahhatian dan kesadaran akan keterbatasan diri, atau justru membiarkan keangkuhan religius berakar di ruang kudus?

(Bersambung)

1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
2.  http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html


Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup

Sudut Pandang Matius 4:1-11, Serba Cakup PENGANTAR Pencobaan/Godaan yang Yesus alami bukanlah pencobaan untuk memperoleh sesuatu. Yesus suda...