SUDUT PANDANG TRI HARI SUCI GKJ SIDOMUKTI
Memaknai Tri Hari Suci (Triduum)
Galatia 6:14
“Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam Salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”
Kidung Jemaat 169 Memandang Salib Rajaku
Memandang Salib Rajaku yang mati bagi dunia
Kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya
Tak boleh aku bermegah selain di dalam salibMu
Kubuang nikmat dunia demi darahMu yang kudus
Berpadu kasih dan sedih mengalir dari lukaMu
Mahkota duri yang pedih menjadi keagunganMu
Melihat darah lukaNya membalut tubuh Tuhanku
Ku mati bagi dunia dan dunia mati bagiku
Andaikan jagad milliku dan kuserahkan padaNya
Tak cukup bagi Tuhanku, diriku yang dimintaNya.
Perhatikan, bagaimana Pdt. Isaac Watts menafsirkan Galatia 6:14 dengan amat mendalam. Makna Salib dan panggilan hidup bagi Dia adalah kesatuan tak terputus. Demikianlah tata ibadah Kamis Putih dibuka dengan antiphonal berdasarkan Galatia 6:14 sebagai tanda dimulainya tri hari suci (triduum) yang menyuarakan dengan megah: Selayaknya kita bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, Juru Selamat kita, kehidupan kita, dan kebangkitan kita, melalui Dia kita dibebaskan dan diselamatkan.
Tri Hari Suci dalam Sejarah
Tri hari suci adalah rangkaian tiga hari utama sebagai puncak masa raya Paskah yang dimulai dari perayaan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi - Minggu Paskah (Vigili Paskah). Memaknai ketiga hari tersebut tidak bisa dilepaskan dari penghayatan seminggu sebelum Paskah. Hingga akhir abad ke-4, Augustinus menetapkan hari-hari prosesi Paskah selama sepekan yaitu Minggu Palmarum, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Minggu Paskah. Reformasi abad ke-16 tidak menghapus seluruh struktur pekan suci. Martin Luther tetap mempertahan-kan perayaan Jumat Agung dan Paskah, bahkan menyusun liturgi revisi. Sementara John Calvin sangat menyederhanakan kalender gerejawi, tetapi tetap mengakui pentingnya peringatan kematian dan kebangkitan Kristus. Istilah triduum sendiri tidak selalu dipakai dalam gereja Protestan klasik. Namun nampak cukup kuat bagaimana Luther mempertahankan struktur Pekan Suci. Banyak gereja Lutheran modern merayakan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah. Sementara dalam tradisi Calvin rangkaian prosesi Paskah lebih umum pada Jumat Agung dan Minggu Paskah (penyederhanaan Kalender Gerejawi). Namun demikian gerakan pembaruan liturgi memengaruhi banyak gereja Protestan. Melalui dialog ekumenis dan pengaruh pembaruan Katolik setelah Sacrosanctum Concilium (1963), banyak gereja Protestan menghidupkan kembali Vigili Paskah, menekankan kesatuan misteri Paskah, dan penggunaan simbol-simbol Paskah (mis: lilin Paskah). Jadi, triduum bukan hanya milik Gereja Katolik namun kekayaan Rohani Gereja yang berasal dari warisan gereja purba.
Memaknai Tri Hari Suci
Kamis Putih
Ada dua unsur dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir dan pembasuhan kaki didasarkan pada Yohanes 13. Injil Yohanes tidak secara eksplisit mengisahkan perjamuan malam namun mandat penting yang disampaikan oleh Tuhan Yesus sangat ditonjolkan di sini yaitu membasuh kaki, saling mengasihi tanpa batas. Membasuh kaki merupakan disiplin spiritualitas yang menggambarkan saling melayani dan saling mengampuni. Sejak Kamis Putih tidak ada lagi perayaan perjamuan di dalam liturgi Jumat Agung dan selama Vigili Paskah. Oleh karena tidak dilayankan perjamuan kudus pada hari-hari ini maka umat diundang menghayati sengsara dan pengorbanan Kristus melalui puasa, hari-hari ini merupakan puncak masa puasa (bisa seharian atau 48 jam).
Jumat Agung
Pada hari ini Gereja ikut serta pada detik-detik sengsara dan wafat Kristus. Jumat Agung bukan hari perkabungan yang dipenuhi kemurungan dan dukacita, melainkan hari kontemplasi penuh cinta akan Kristus yang mengurbankan diri untuk menyelamatkan umat manusia. Oleh karenanya hari ini merupakan pengenangan kesengsaraan melalui pembacaan kisah sengsara dan kematian Kristus. Tidak ada perayaan perjamuan kudus dalam ibadah ini.
Sabtu Sunyi - Paskah
Setelah ibadah Jumat Agung, gereja tetap menjaga keheningan. Umat Tuhan mengenangkan Kristus yang berada di alam maut. Menjelang tengah malam penghayatan Sabtu Sunyi berakhir dan dilanjutkan ibadah Paskah malam. Pada tradisi Gereja protestan lebih memilih Paskah fajar (subuh). Pada kedua tradisi dicirikan hal yang sama yakni pesta cahaya (Kristus Sang Surya Sejati) dan pembaharuan janji baptisan/pelayanan baptis, serta dilanjutkan perjamuan kudus. Inilah perjamuan kudus pertama yang merupakan pesta kemenangan, tidak lagi berpuasa.
Penegasan:
Liturgi tri hari suci merupakan kesatuan liturgi dalam tiga tahap. Kesatuan liturgi oleh karena sejak Kamis Putih hingga Sabtu Sunyi, ibadah merupakan satu kesatuan sehingga Kamis Putih dimulai tanpa berkat penutup. Jumat Agung juga tidak memiliki berkat penutup seperti biasa. Perayaan misteri Paskah mencapai klimaks dan penutupnya dalam Paskah. Karena itu, secara simbolik dan teologis, ini adalah satu tindakan liturgis yang berkesinambungan. Kesatuan ini penting karena Salib tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan, keheningan Sabtu Suci adalah bagian dari misteri keselamatan. Misteri Paskah adalah satu Gerak antara penderitaan - wafat - keheningan - kebangkitan.
Dalam rangka hal tersebut maka pada tahun 2026, Sakramen Perjamuan Kudus tidak dilayankan pada Kamis Putih dan Jumat Agung, melainkan pada Ibadah Paskah. Umat diundang untuk menghayati tri hari suci secara lengkap. Ingat; ibadah Kamis, Jumat, dan Sabtu merupakan kesatuan tindakan liturgis berkesinambungan. Berkat penutup diterimakan pada ibadah Paskah. Bayangkan Triduum seperti sebuah drama dengan tiga babak: babak pertama (Kamis Putih) mempersiapkan cerita, babak kedua (Jumat Agung) adalah klimaks penderitaan, dan babak ketiga (Vigili Paskah/Minggu Paskah) adalah kemenangan dan kebahagiaan. Jika hanya mengikuti satu babak, kisah itu tidak akan lengkap.
Bahan referensi:
1. Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi, Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, BPK Gunung Mulia, 2001
2. Emanuel Martasudjita, Liturgi, Pengantar Untuk Studi dan Praksis Liturgi, Kanisius, 2011
Rasid Rachman, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi, BPK Gunung Mulia, 2012
(Komisi Pengajaran)