Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 4
𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗦𝗮𝗯𝗱𝗮: 𝗣𝘂𝗻𝗰𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵
Dalam pemahaman liturgi yang utuh 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢 tidak berpuncak pada khotbah. Anasir utamanya adalah pembacaan Kitab Suci, yang dalam tradisi Gereja disusun berstruktur:
▶️ Bacaan kesatu,
▶️ Mazmur Tanggapan,
▶️ Bacaan kedua, dan
▶️ pembacaan Injil sebagai puncaknya.
Struktur di atas bukan variasi teknis. Ia menyatakan sesuatu yang mendasar: Allah berbicara terlebih dahulu melalui Kitab Suci. Khotbah tidak menggantikan Sabda. Khotbah memerdalam Sabda. Ia bukan pusat, melainkan pelayanan penjelasan. Jika khotbah dianggap sebagai klimaks, maka secara tidak sadar pusat otoritas berpindah dari Sabda kepada pengkhotbah. Dari Kitab Suci kepada penafsirnya. Di situlah terjadi pergeseran yang halus tetapi serius.
Dalam 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢 yang utuh pembacaan Injil diberi kehormatan khusus, karena ia merupakan simbol kehadiran Kristus menyapa umat-Nya. Umat berdiri, kadang dinyanyikan aklamasi, kadang diiringi tanggapan. Itu semua bukan dekorasi. Itu merupakan pembentukan kesadaran bahwa kita sedang mendengarkan kesaksian tentang Kristus sendiri.
Injil menjadi klimaks liturgi bukan berarti Injil “lebih berotoritas”, melainkan karena ia memuat 𝘷𝘦𝘳𝘣𝘢 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪 dalam bentuk naratif. Ini 𝗮𝗸𝘀𝗲𝗻𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 kristologis.
Setelah Sabda dibacakan, dimaknai, dan diperdalam melalui homili, umat tidak berhenti pada penjelasan. Mereka menanggapi lewat:
▶️ Syahadat, sebagai pengakuan iman bersama, dan
▶️ doa umat, sebagai tindakan konkret yang lahir dari Sabda yang didengar.
Dengan demikian 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢 membentuk pola:
𝗠𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 → 𝗠𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 → 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂𝗶 → 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗼𝗮𝗸𝗮𝗻.
𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 hanya Mendengar → Mengomentari → Selesai.
Jika struktur itu diabaikan, maka 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢 dapat meluntur menjadi satu sesi ceramah. Ketika itu terjadi, umat belajar bahwa iman terutama adalah menerima penafsiran, bukan mengalami perjumpaan dengan Sabda yang hidup. Padahal dalam teologi 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢 bukan informasi, melainkan peristiwa. Homili merupakan upaya Gereja membantu umat masuk lebih dalam ke peristiwa itu.
Pertanyaannya bukan 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪, melainkan 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘤𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢, 𝘥𝘪𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘣𝘥𝘢? Di situlah pembentukan iman terjadi.
(Bersambung)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html