Sudut Pandang tentang Teguran
PENGANTAR
Ada godaan besar ketika seseorang menegur sesamanya: narsisme moral. Seringkali, teguran diberikan bukan untuk memulihkan orang lain, melainkan untuk meneguhkan superioritas moral diri sendiri. Dalam Perjanjian Baru tindakan menegur atau memperingatkan sering menggunakan dalam bahasa Yunani kata 'noutheteō'.
PEMAHAMAN
1. Noutheteō (Menegur dengan Pikiran Kristus)
Kata noutheteō berasal dari dua kata: nous (pikiran) dan tithēmi (menempatkan). Jadi, menegur secara alkitabiah berarti "menempatkan pikiran yang benar" ke dalam diri seseorang.
Jika kita menegur agar "kita dipandang benar," maka kita sebenarnya sedang melakukan pemujaan diri (idolatry). Kita menempatkan pikiran kita sendiri sebagai standar tertinggi, bukan pikiran Kristus.
Penempatan pikiran ini harus bertujuan agar subjek yang ditegur melihat Kebenaran Objektif, yaitu Kristus, bukan kebenaran subjektif sang penegur.
2. Etika Elenchō (Membuka Tabir)
Dalam Matius 18:15, kata yang digunakan untuk "tegorlah dia" adalah 'elenchō'. Kata ini memiliki makna hukum yang tajam: membawa bukti ke depan cahaya (terang) agar kesalahan terlihat jelas.
Jika terang yang kita gunakan adalah "terang diri kita" (pencapaian moral kita), maka yang terjadi adalah penghakiman yang menghancurkan.
Jika terang yang digunakan adalah "Terang Dunia" Keteladanan dan hikmat pengajaran Kristus pusat nya (Yohanes 8:12), maka kesalahan itu ditelanjangi bukan untuk dipermalukan, melainkan untuk dikuduskan, untuk dipulihkan, jalannya adalah pengampunan dan pertobatan, rangkulan atas kerapuhan manusiawi bukan penghakiman.
Ketika kita menegur hanya supaya kita terlihat benar, kita sebenarnya sedang melakukan kudeta rohani. Kita mencoba merebut takhta Tuhan sebagai satu-satunya Hakim dan satu-satunya Standar Kebenaran. Rasul Paulus menyebut perilaku ini sebagai kenodoxia (Filipi 2:3), yang artinya "Kemuliaan yang Kosong."
Kenapa disebut kosong?
- Kebenaran kita "kosong" karena ia tidak berdiri sendiri; kita hanya merasa benar karena ada orang lain yang lebih salah.
- Kita semua orang berdosa, hanya kita menyukai dosa kita, sedangkan kita tidak menyukai dosa orang lain
- Kita menggunakan kesalahan sesama sebagai latar belakang hitam supaya "kesucian" kita terlihat bersinar. Tanpa kesalahan orang lain, kita tidak punya apa-apa untuk dipamerkan.
Mencari pembenaran diri lewat kesalahan orang lain adalah tanda bahwa kita sedang menyembah diri sendiri. Kita tidak sedang meninggikan Kristus, kita hanya sedang membangun monumen untuk harga diri kita di atas keruntuhan orang lain.
Koreksi tanpa Kristosentrisme (berpusat pada Kristus) hanyalah bentuk lain dari kekerasan verbal atau kesombongan rohani. Mengoreksi agar "Yesus dipandang benar" berarti kita siap untuk tidak dianggap, bukan kita yang dimegahkan atas suatu kritisi tetapi Kristus yang dimegahkan, siap untuk tidak dihargai, siap disingkirkan dunia dan bahkan siap terlihat "salah" di mata dunia, asalkan karakter Kristus tetap tegak.
Pertanyaan reflektif untuk kita:
Apakah saya merasa "puas" setelah menegur seseorang karena saya merasa lebih suci, ataukah saya merasa "gentar" karena menyadari bahwa saya pun hanya debu yang dibenarkan oleh anugerah-Nya?
Kiranya Tuhan Yesus Memberkati kita semua.
(24022026)(TUS)