Selasa, 24 Februari 2026

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 5 𝗔𝗹𝘁𝗮𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗺𝗯𝗮𝗿: 𝗞𝗲 𝗠𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗮𝘁𝗮 𝗨𝗺𝗮𝘁 𝗗𝗶𝗮𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻?

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻, bagian 5
𝗔𝗹𝘁𝗮𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗺𝗯𝗮𝗿: 𝗞𝗲 𝗠𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗮𝘁𝗮 𝗨𝗺𝗮𝘁 𝗗𝗶𝗮𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻?

Interior gedung gereja pada dasarnya tidak dirancang sebagai ruang seminar. Arkitektur gereja, bahkan yang paling sederhana sekalipun, dibangun dengan orientasi simbolik: ada pusat, ada arah, ada fokus yang menuntun pandangan. Ruang kudus tidak netral, ia mengarahkan.

Ketika layar multimedia dipasang besar dan dominan di dalam ruang yang tidak dirancang untuk itu, sering yang kali pertama terganggu adalah estetika. Proporsi berubah. Pusat perhatian bergeser. Keselarasan visual rusak.

Persoalannya tidak berhenti pada estetika. Ruang adalah bahasa. Dalam tradisi Gereja altar (atau meja perjamuan) ditempatkan sebagai pusat perhatian visual. Mimbar hadir dalam relasi dengannya. Keduanya membentuk keseimbangan antara Sabda dan Sakramen. Namun, ketika layar menjadi unsur paling mencolok, pusat gravitasi ruang dapat bergeser tanpa disadari. 

Ke mana mata umat diarahkan? Di situlah teologi bekerja. Mari kita buat perbandingannya.

▶️ Jika altar menjadi pusat, maka umat belajar bahwa ibadah berorientasi pada misteri kehadiran Allah.
▶️ Jika mimbar menjadi pusat, maka umat belajar bahwa ibadah berorientasi pada penjelasan.
▶️ Jika layar menjadi pusat, maka umat belajar bahwa ibadah berorientasi pada informasi visual.

Perubahan ini kerap dibela sebagai tuntutan zaman. Yang jarang diketahui oleh pejabat gerejawi, apalagi umat, setiap tuntutan teknis membawa konsekuensi simbolik.

Ruang ibadah tradisional dibangun untuk menciptakan orientasi bersama: umat tidak saling menonton, melainkan bersama-sama menghadap satu arah. Ibadah bukan pertunjukan. Ia adalah pergerakan kolektif menuju Tuhan.

Ketika ruang menyerupai aula presentasi, umat mudah bergeser menjadi peserta seminar atau rapat besar. Ketika umat menjadi peserta, partisipasi berubah menjadi konsumsi. Ini bukan soal romantisme masa lalu. Ini kesadaran bahwa 𝘀𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗯𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗸𝘂𝗮𝘁 daripada argumentasi.

Sebuah khotbah dapat berbicara tentang kekudusan, tetapi tata ruang dapat berbicara sebaliknya. Umat lebih sering dibentuk oleh apa yang mereka lihat berulang-ulang daripada oleh apa yang mereka dengar sesekali. Apalagi kemampuan umat mencerna khotbah sangat beragam.

Pertanyaan reflektif, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘵𝘢 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵?
(24022026)(TUS)
Baca juga :
1. http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-1.html
2.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-2.html
3.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-3.html
4.
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/02/sudut-pandang-bagian-4.html





SUDUT PANDANG YOHANES 3:1-17

SUDUT PANDANG YOHANES 3:1-17 PENGANTAR Minggu 01 Maret 2026, Jargon 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯 𝘓𝘢𝘩𝘪𝘳-𝘉𝘢𝘳𝘶 (𝘉𝘰𝘳𝘯-𝘈𝘨𝘢𝘪𝘯 𝘊𝘩𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘢...