PENGANTAR
Dalam Alkitab, konsep kejujuran berakar pada kata Ibrani “’emet” (אֱמֶת) yang berarti kebenaran, keteguhan, sesuatu yang dapat dipercaya. Menariknya, ’emet tidak hanya berarti “tidak berbohong”, tetapi menunjuk pada karakter yang kokoh dan konsisten. Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani “aletheia” (ἀλήθεια) berarti kebenaran yang tersingkap, yang tidak tersembunyi. Jadi kejujuran secara biblika bukan sekadar berkata benar, tetapi hidup tanpa kepalsuan di hadapan Allah dan manusia.
PEMAHAMAN
Amsal 11:3 berkata, “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya.” Kata “ketulusan” di sini menunjuk pada integritas—keutuhan diri. Ketika hati berkata A tetapi tindakan berkata B, di situlah integritas retak. Secara psikologis, kebohongan menciptakan disonansi batin; seseorang harus menopang kepalsuannya dengan kepalsuan lain. Itu melelahkan dan perlahan mengeraskan hati. Tidak heran jika Yesus berkata dalam Yohanes 8:32, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kebebasan lahir ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.
Di Indonesia, kita punya teladan nyata dalam diri Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, Kapolri periode 1968–1971. Ia dikenal luas karena integritasnya yang tidak bisa dibeli. Salah satu kisah yang terdokumentasi adalah ketika anaknya pernah terlibat pelanggaran lalu lintas; Hoegeng tidak menggunakan jabatannya untuk membebaskan, melainkan membiarkan proses hukum berjalan. Ia juga menolak berbagai bentuk fasilitas dan intervensi yang berpotensi merusak integritas institusi. Bahkan setelah pensiun, ia hidup sederhana tanpa memanfaatkan kekuasaan masa lalunya untuk memperkaya diri. Dalam konteks kekuasaan yang sering menggoda, Hoegeng menunjukkan bahwa jabatan tidak boleh mengalahkan hati nurani. Kompas moralnya tetap menunjuk ke utara, sekalipun angin tekanan politik bertiup kencang.
Dalam dunia gereja dan teologi Indonesia, kita juga melihat teladan dalam diri alm Pdt. Eka Darmaputera, alm Pdt Brotosemedi, alm Romo Mangun Wijaya, dlsb. Sebagai teolog dan pendeta, mereka dikenal berani menyuarakan kebenaran, termasuk kritik sosial terhadap ketidakadilan, tanpa kehilangan sikap kasih dan dialog. Ia tidak membangun teologi yang aman dan nyaman, tetapi teologi yang jujur terhadap realitas bangsa. Kejujurannya bukan sekadar intelektual, melainkan moral—berani berdiri pada prinsip meski berisiko. Dalam konteks tekanan politik dan sosial, sikap ini menunjukkan bahwa iman tidak boleh dipisahkan dari integritas.
Alkitab juga memberi kita contoh konkret. Pertama, Yusuf dalam Kejadian 39. Ketika digoda istri Potifar, ia berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Yusuf bukan hanya takut pada konsekuensi sosial, tetapi sadar akan hadirat Allah. Kejujurannya lahir dari kesadaran bahwa hidupnya transparan di hadapan Tuhan. Ia memilih integritas meski harus masuk penjara.
Nabi Samuel dalam 1 Samuel 12:3, Samuel berdiri di hadapan bangsa Israel dan berkata, “Saksikanlah terhadap aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: lembu siapakah yang telah kuambil? keledai siapakah yang telah kuambil? siapa yang telah kuperas? siapa yang telah kutindas?” Dan bangsa itu menjawab bahwa Samuel tidak pernah menipu atau memeras mereka. Itu pernyataan yang berani. Ia berani diperiksa karena hidupnya bersih.
Daniel dalam Daniel 6. Para pejabat mencari-cari kesalahan administratif untuk menjatuhkannya, tetapi tidak ditemukan “kelalaian atau kecurangan” (Daniel 6:5). Ini luar biasa. Daniel hidup di sistem pemerintahan asing dan politis, namun tetap bersih. Integritasnya bukan kebetulan; itu hasil disiplin rohani yang konsisten. Ia tetap berdoa meski ada ancaman hukuman mati. Kejujuran dan kesetiaan berjalan bersama.
Rasul Paulus, dalam Kisah Para Rasul 20:33–34 ia berkata, “Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.” Paulus bahkan bekerja dengan tangannya sendiri supaya tidak menjadi beban dan supaya pelayanannya tidak dicurigai. Ia sadar bahwa Injil bisa dirusak oleh motif tersembunyi. Karena itu ia menjaga transparansi hidupnya. Dalam 2 Korintus 8:21 ia menulis bahwa ia berusaha melakukan apa yang benar “bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.” Itu integritas yang utuh—vertikal dan horizontal.
Natanael (Yohanes 1:47). Ketika Yesus melihatnya, Ia berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.” Kata “kepalsuan” di sini berkaitan dengan tipu daya atau kemunafikan. Artinya, Natanael dikenal sebagai pribadi yang lurus, tidak bermuka dua. Menariknya, kejujuran ini disebut bahkan sebelum ia menjadi murid aktif. Karakter mendahului pelayanan.
Puncak keteladanan adalah Tuhan Yesus sendiri. Dalam Yohanes 14:6 Ia berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Ia bukan hanya mengajarkan kebenaran; Ia adalah kebenaran (aletheia). Tidak ada manipulasi, tidak ada agenda tersembunyi. Bahkan ketika kebenaran itu membawa-Nya ke salib, Ia tidak mundur. Kejujuran-Nya bukan strategi, tetapi natur.
Kejujuran memang mahal. Kadang ia membuat kita kehilangan posisi, peluang, bahkan kenyamanan. Tetapi tanpa kejujuran, kita kehilangan diri sendiri. Integritas bukan dibangun di panggung besar, melainkan di keputusan kecil yang konsisten ketika tidak ada yang melihat.
Charles Spurgeon pernah berkata, “Kejujuran adalah kebijakan terbaik; dan ketika seorang Kristen jujur, ia tidak hanya bijak, tetapi ia juga sedang memuliakan Tuhannya.”
Kejujuran bukan hanya soal sopan santun atau aturan sosial. Kejujuran adalah bagian dari ibadah kita. Saat kita memilih untuk tetap jujur, kita sedang menunjukkan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang benar dan tidak pernah berdusta.
(25022026)(TUS)