DILEMA PENDETA: ANTARA LEMBUT ATAU TEGAS
Menjadi Pdt bukan hanya memasuki dunia berkhotbah. Menjadi Pdt berarti memasuki sebuah dunia dilema & kontroversi, khususnya dalam hal melayani & memimpin.
Pdt harus mampu berjalan di garis tipis antara kasih yang lemah lembut & kebenaran yang tegas & berotoritas. Ini bukan soal memilih gaya pelayanan, melainkan panggilan untuk dapat menyeimbangkan keduanya, sebab keduanya sama-sama adalah aspek hakekat karakter Allah yang Maha Tinggi yaitu MAHA KASIH sekaligus MAHA KUDUS.
TUHAN ITU LEMBUT SEKALIGUS TEGAS
"Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia." MAZMUR 86:15
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." 1 KORINTUS 13:4
Dari Allah yang tidak cepat marah & mengasihi dalam kesabaran, turunlah karakter pelayanan seorang hamba Tuhan yaitu kesabaran, kemurahan & kelemahlembutan.
"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!" WAHYU 3:19
Dari Allah yang juga mengasihi, muncul sebuah tanggung jawab lain yaitu teguran & pendisiplinan.
Seorang Pdt harus berani menegur yang salah. Teguran juga adalah wujud kasih, bukan kontradiksi kasih.
Alkitab tidak memilih antara lembut atau tegas, melainkan keduanya merupakan sifat Allah yang berjalan bersama. Pelayanan yang sehat dari seorang Pdt mesti mencerminkan hal yang sama.
Tuhan memanggil para Pdt untuk 'menggembalakan', yaitu disuatu waktu membalut & merawat luka domba gembalaan dengan penuh kasih sayang, namun di waktu lain 'memukul' domba yang keras kepala, sebab domba selalu ingin memisahkan diri dari kawanan sementara ia sendiri tak punya sistem perlawanan untuk menghadapi predatornya.
Gembala pada masa Alkitab menggunakan tongkat yang ujungnya melengkung & meruncing, supaya dapat menyeret paksa domba yang keluar kawanan. Saat domba 'nakal' terkena ujung runcing mungkin mereka sedikit kesakitan, namun itu membuat mereka bisa kembali ke kawanan dengan aman.
Domba adalah hewan yang mudah tersesat & tak punya pertahanan yang memadai. Domba adalah hewan herbivora yang tak memiliki cakar & taring. Mereka mudah dimangsa oleh binatang buas. Domba perlu selalu berada dalam kawanan dalam lindungan gembala.
Teguran & pendisiplinan adalah instrumen perlindungan bagi 'domba-domba' yang dipercayakan Tuhan kepada para Pdt untuk digembalakan & dipimpin, sehingga mereka tidak akan mudah dimangsa si jahat lewat godaan dosa, kedagingan, serangan kuasa gelap & ajaran sesat.
MENGAPA DILEMA INI MUNCUL?
1. Pelayanan sebagai panggilan Ilahi vs pelayanan sebagai pertunjukan rohani
Pertunjukan menuntut agar penonton wajib disenangkan. Pdt seringkali terjebak pada tuntutan & tekanan yaitu merasa harus disukai jemaat. Hal ini merupakan imbas dari kesalahan menganggap pelayanan sebagai pertunjukan bukan panggilan.
Panggilan pelayanan Pdt bukan untuk menyenangkan hati semua orang, melainkan menyenangkan hati Allah yang mengutusnya untuk menyelesaikan misiNya.
"Pelayanan bukan soal membuat orang nyaman, melainkan membawa mereka kepada Kristus, yang menuntut pertobatan bukan persetujuan." (John MacArthur)
2. Kebutuhan jemaat yang beragam
Jemaat yang hatinya rapuh butuh kelembutan. Tapi jemaat yang keras kepala butuh kebenaran yang tidak kompromi.
Tanpa keseimbangan, seorang Pdt bisa:
- Terlalu lembut, akibatnya jemaat jadi manja rohani.
- Terlalu tegas, akibatnya jemaat selalu merasa dihakimi bukan dikasihi.
Pdt yang lemah lembut memiliki ciri mengasihi, sabar, perhatian & penuh pengertian. Ini baik. Namun jika terlalu ekstrim, ibarat memanjakan anak, akan berakibat jemaat menjadi tidak disiplin & pemberontak.
Pdt yang tegas memiliki ciri disiplin, sering menegur & menegakkan kebenaran serta aturan. Ini juga baik. Namun jika terlalu ekstrim, dapat dianggap keras & tak berbelaskasihan.
Kasih Kristus menerapkan keduanya bersama-sama secara berimbang. Inilah yang paling ideal. Tak mudah, namun dengan hikmat dari Roh Allah bisa diterapkan.
"Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan." GALATIA 6:1
"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." 2 TIMOTIUS 4:2
"Seorang gembala bukanlah pemburu tepuk tangan, melainkan pengikut Yesus Kristus yang berani berkata 'benar' dan 'maaf' di waktu yang tepat." (Tim Keller)
PENERAPAN 'LEMBUT-TEGAS' DALAM PELAYANAN
Dalam mengatasi permasalahan jemaat, kelemahlembutan yang berlebihan akan menyebabkan masalah atau konflik tidak tuntas & berulang-ulang, sebab tidak ada keputusan yang konkrit & tegas.
Menerapkan ketegasan bisa saja 'makan korban'. Yang tak mau bertobat & tetap mengeraskan hati bisa saja tidak terima & akhirnya keluar & meninggalkan gereja. Namun itu jauh lebih baik daripada membiarkan 'rubah-rubah yang merusak kebun anggur' tetap berkeliaran yang lama-kelamaan dapat menghancurkan pelayanan jika tak ada ketegasan.
Namun ketegasan juga membutuhkan kasih Bapa di dalamnya. Ketika ada pertobatan & pengampunan, maka langkah pemulihan wajib dilakukan.
"Kasih tak membiarkan dosa berjalan terus. Namun kasih juga tak membiarkan orang yang berdosa tersingkir & terbuang." (Anonim)
Bagaimana seorang Pdt dapat menerapkan keseimbangan ini?
1. Banyak berdoa
Pdt yang berdoa akan selalu mendapat hikmat Allah untuk menghadapi hal-hal sulit & dilematis dalam pelayanan.
2. Teladani Yesus
Dalam pelayanannya, Yesus lembut kepada yang rapuh (orang sakit, menderita & yang butuh ditolong), tetapi tegas & keras kepada yang munafik (ahli Taurat & orang Farisi).
3. Konsisten pada Prinsip
Pdt tak boleh mengecilkan dosa atau kompromi dengan dosa, namun harus berbelaskasihan pada orang berdosa yang mau berubah.
KESIMPULAN:
Dilema “lembut atau tegas” bukan tentang memilih salah satu dari keduanya, tetapi tentang menyeimbangkan keduanya: lemah lembut kepada yang rapuh sekaligus tegas terhadap dosa, serta disiplin dalam kasih dengan semangat melihat perubahan & perbaikan bukan kehancuran.
Pada akhirnya, pelayanan seorang Pdt bukan tentang kenyamanan manusia, tetapi kesetiaan kepada kehendak Allah & kebenaranNya