PENGANTAR
Bacaan ekumenis untuk Minggu III Pra-Paska, 8 Maret 2026, diambil dari Injil Yohanes 4:5-42. Perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢. Perikop ini sarat muatan teologis. Judul dari LAI dapat “mengecoh” pengkhotbah untuk menampilkan isu remeh-temeh seperti kemampuan Yesus untuk mengungkap perempuan itu kawin-cerai dan sekarang “kumpul kebo”. Ini sangat kental dan khas karya sastra Yunani bahkan Ibrani kuno. Padahal dari keterangan waktu pukul 12 (siang) saja sudah hendak mengontraskan keterangan waktu dalam cerita 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘕𝘪𝘬𝘰𝘥𝘦𝘮𝘶𝘴 (bacaan Minggu II Pra-Paska). Kontras siang-malam menjadi unsur penting dalam Injil Yohanes. Perikop ini juga menegaskan bahwa dalam kekristenan tidak ada namanya 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙎𝙪𝙘𝙞. Klimaksnya sendiri bukan pada percakapan dengan perempuan Samaria itu, melainkan iman otentik menurut Injil Yohanes. Di ayat berapa?
PEMAHAMAN
Kerap kita melihat “kesaksian” orang-orang Kristen beribadah di “Tanah Suci” yang menampilkan seolah-olah tidak ada tempat beribadah yang lebih afdol daripada di sana. Dalam pada itu sebagian orang Kristen merasa bertambah tebal iman mereka sesudah melihat “kesaksian” murtadin baru.
Apa kata Injil Yohanes mengenai “Tanah Suci” dan penebalan iman karena melihat “kesaksian” murtadin baru?
Hari ini adalah Minggu ketiga masa Pra-Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 4:5-42 yang didahului dengan Keluaran 17:1-7, Mazmur 95, dan Roma 5:1-11.
Bacaan Injil Minggu ini, Yohanes 4:5-42, cukup panjang. LAI memberi judul 𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢 untuk perikop ini. Saya mengandaikan pembaca Sudut 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi ini sudah membaca perikop tersebut. Akan lebih baik kita membacanya dari ayat 1. Saya menyederhanakan bacaan cukup panjang ini ke dalam tiga pokok bahasan.
🔴 Air Hidup (Yoh. 4:4-19)
🔴 Tanah Suci (Yoh. 4:20-26)
🔴 Kesaksian (Yoh. 4:27-29, 39-42)
Dalam pasal-pasal sebelumnya pengarang Injil Yohanes menyampaikan alihrupa radikal dari agama Yahudi yang sudah mapan. Dikatakan bahwa Yesus Kristus merupakan pemenuhan dari tradisi Yahudi dan Perjanjian Lama (PL). Tentu saja ini sulit diterima dan menimbulkan perlawanan keras dari orang Yahudi.
Bacaan Minggu ini hendak menampilkan secara kontras antara perempuan Samaria dan Nikodemus, seorang cerdik pandai Yahudi yang penuh keraguan. Orang Samaria adalah bidah, bangsa campuran, dan dibenci oleh orang Yahudi. Kontras itu disajikan sejak awal. Nikodemus bercakap-cakap dengan Yesus pada waktu malam, sedang percakapan Yesus dengan perempuan Samaria pada siang hari, pukul dua belas.
Bacaan Minggu ini satu-satunya cerita tentang pelayanan Yesus di antara orang-orang Samaria. Dalam Injil Lukas diceritakan kegagalan misi ke Samaria (Luk. 9:52), sedang dalam Injil Matius Yesus melarang murid-murid-Nya pergi ke orang Samaria (Mat. 10:5).
𝗔𝗶𝗿 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽 (𝗬𝗼𝗵. 𝟰:𝟰-𝟭𝟵)
Mengapa Yesus ke Samaria? Dalam ayat 1-3 dikisahkan bahwa orang-orang Farisi makin membenci Yesus karena Ia lebih populer daripada Yohanes Pembaptis. Yesus pergi ke Galilea dan harus melintasi wilayah Samaria. Yesus beristirahat di Sumur Yakub dekat Kota Sikhar. Saat itu pukul dua belas. Datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.
Narasi pembuka perbincangan Yesus dengan perempuan itu mirip dengan percakapan Yesus dengan Nikodemus. Nikodemus sengaja dibuat terpeleset oleh Yesus dengan frase 𝘨𝘦𝘯𝘯o𝘵𝘩e 𝘢𝘯o𝘵𝘩𝘦𝘯, yang kemudian dicerap (𝘱𝘦𝘳𝘤𝘦𝘪𝘷𝘦𝘥) keliru oleh Nikodemus sebagai 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪.
Yesus meminta air kepada perempuan itu. Meminta air adalah hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah Yesus, orang Yahudi, meminta kepada perempuan Samaria. Yesus “melanggar” dua hal. Pertama, percakapan dengan perempuan asing sangat dilarang oleh para rabi (lih. ay. 27). Kedua, kontak dengan perempuan Samaria berisiko menjadi tidak tahir karena perempuan asing itu najis (Im. 15:19). Bahkan perempuan itu mengingatkan Yesus, “𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪, 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢?” (ay. 9, TB II 2023).
Peringatan sekaligus pertanyaan perempuan itu dijadikan pintu masuk Yesus untuk menyampaikan air yang lain, “𝘑𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: ‘𝘉𝘦𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮!’ 𝘯𝘪𝘴𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝙖𝙞𝙧 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥.” (ay. 10, TB II 2023). Di sinilah cerapan (𝘱𝘦𝘳𝘤𝘦𝘱𝘵𝘪𝘰𝘯) perempuan itu mirip dengan Nikodemus. Perempuan itu masih berpikir tentang air dari Sumur Yakub, “𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘢𝘪𝘳 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘪𝘵𝘶?” Bahkan perempuan itu meragukan Yesus lebih besar daripada Yakub, bapa leluhur perempuan itu.
Berbeda dari Nikodemus, perempuan itu diperikan sebagai orang cerdas yang mengejar penjelasan Yesus tentang air hidup sehingga ia tak perlu lagi menimba air dari Sumur Yakub. Yesus menaikkan aras diskusi lebih tinggi agar perempuan itu dapat memahami bahwa air hidup yang dimaksud oleh Yesus itu bukan air fisikal, melainkan air yang menghilangkan kehausan akan kebenaran, air yang adalah karunia untuk hidup kekal. Yesus membuka status pribadi perempuan itu yang sudah lima kali bersuami dan laki-laki yang hidup bersamanya sekarang bukanlah suaminya. Perempuan itu menanggapi, “𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘣𝘪.” (ay. 19, TB II 2023). Tanggapan perempuan itu mengingatkan kita pada perkataan Natanael dalam Yohanes 1:49.
𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗰𝗶 (𝗬𝗼𝗵. 𝟰:𝟮𝟬-𝟮𝟲)
Perbincangan meningkat lagi. Perempuan itu mengangkat pokok perdebatan antara orang Yahudi dan Samaria: 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵. Perempuan itu mengungkapkan bahwa orang Samaria menyembah di atas 𝘨𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪, sedang orang Yahudi di Yerusalem. 𝘎𝘶𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 tampaknya merujuk kenisah di Gunung Gerizim (lih. 2Raj. 17:28-41). Kenisah itu sendiri dihancurkan oleh Yohanes Hyrkanus, Raja Hasmonea Yahudi, pada 128 SZB.
Kembali Yesus menjadikan perdebatan ini sebagai pintu masuk untuk membongkar secara radikal tempat penyembahan. Di sini Yesus tidak lagi membedakan antara “kalian” dan “kami” serta tentu saja tidak ada lagi namanya 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗰𝗶 bagi “kalian” dan “kami”. Kata Yesus, akan datang masanya orang tidak perlu lagi menyembah Allah di Yerusalem dan di Gunung Gerizim. Allah itu Roh, maka Allah disembah dalam roh dan kebenaran. Roh dan kebenaran merujuk persahabatan yang terbangun dalam kuasa pencipta dan pemberi hidup yang membawa rahmat Allah yang tidak lagi diantarai dengan bentuk atau bangunan fisik di Yerusalem dan di Gunung Gerizim (bdk. Yoh. 1:17; 3:16).
Tidak seperti Nikodemus, pokok pembicaraan mengenai Tanah Suci ditutup oleh kesimpulan cerdas perempuan Samaria itu, “𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪. “ Kata Yesus kepadanya, “𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶.” (ay. 25-26, TB II 2023).
Dalam bacaan Minggu lalu Yesus mengatakan 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 kepada Nikodemus, tetapi Nikodemus mencerap 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. Frase 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 adalah hasil kekeliruan cerapan Nikodemus, tetapi malah ditiru oleh kalangan Kristen tertentu. Dalam bacaan Minggu ini Yesus mengatakan bahwa tidak perlu lagi datang ke Yerusalem dan Gunung Gerizim untuk beribadah. Dengan kata lain tidak perlu menjadikan Yerusalem dan Gunung Gerizim sebagai Tanah Suci. Namun, sebagian orang Kristen melawan Injil, yang kata mereka adalah firman Allah, dengan berbondong-bondong ke 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘓𝘢𝘯𝘥, Yerusalem, untuk menyembah Allah.
𝗞𝗲𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶𝗮𝗻 (𝗬𝗼𝗵. 𝟰:𝟮𝟳-𝟮𝟵, 𝟯𝟵-𝟰𝟮)
Sesudah mendengar pengakuan Yesus, perempuan itu meninggalkan tempayannya lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang di situ, ”𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴?”. Mereka pun pergi ke luar kota, lalu datang kepada Yesus (ay. 29-30).
[𝘈𝘺𝘢𝘵 31-38 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘪𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. 𝘈𝘺𝘢𝘵-𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘺𝘢𝘵 30 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘢𝘺𝘢𝘵 39.]
Dalam ayat 39-42 dikisahkan pada mulanya orang-orang Samaria itu datang menemui Yesus karena kesaksian perempuan itu. Mereka kemudian meminta Yesus untuk tinggal lebih lama lagi dan Yesus tinggal di sana selama dua hari. Yesus mengajar mereka. Orang yang percaya kepada Yesus makin bertambah. Mereka berkata lagi kepada perempuan itu, “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘋𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘑𝘶𝘳𝘶𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢.” (ay. 42).
Ada yang menarik pada ayat penutup bacaan Minggu ini (ay. 42):
🔴 Dalam Injil Yohanes hanya orang-orang Samaria yang mengakui Yesus dengan sebutan Juruselamat dunia. Sebutan Juruselamat dunia itu hanya satu-satunya di Injil Yohanes. Pernyataan tersebut bukan saja bermatra teologis, tetapi juga politis. Di ayat-ayat awal pasal 4 ini disebutkan bahwa Yesus kembali ke Galilea, yang harus melintasi Samaria, karena orang-orang Farisi tidak suka pada misi Yesus di lingkungan Yahudi. Komunitas Yohanes yang didera dan disingkirkan dari masyarakat Yahudi melakukan provokasi. Orang-orang Samaria yang adalah musuh bebuyutan Yahudi saja menerima Yesus dan bahkan mengakui Yesus Juruselamat dunia.
🔴 Pada sisi satu pengarang Injil Yohanes menayangkan perempuan sebagai model bagi orang Kristen dalam kesaksian yang penuh dengan keberanian seperti halnya Maria Magdalena (Yoh. 20:1-2, 11-18). Pada sisi lain penulis Injil Yohanes secara terang tidak mengharkat tinggi pada orang-orang yang percaya kepada Yesus hanya karena melihat mukjizat-mukjizat-Nya, hanya karena kesaksian orang lain. Tidak sedikit orang Kristen memuja-muja murtadin baru. Mereka merasa iman bertambah tebal melihat “kesaksian” murtadin baru. Padahal menurut Injil Yohanes orang percaya karena ia belajar lebih dalam lagi diharkat lebih matang dan autentik.
(12032023)(TUS)