PENGANTAR
Jabatan, titel, atau posisi rohani tidak otomatis mencerminkan kedewasaan karakter. Jika seseorang memiliki gelar rohani tetapi tidak memiliki integritas, maka gelar itu justru menjadi legitimasi untuk merusak gereja dari dalam.
“Gelar rohani” bisa berupa pendeta, penatua, gembala, pastor, penginjil, diaken, prodiakon, organis, Worship Leader, pemimpin pujian, atau aktivis gereja, dlsb.
“Tanpa integritas” berarti tidak hidup sesuai dengan kebenaran yang diajarkan—karakter tidak selaras dengan firman.
“Izin resmi untuk merusak gereja” artinya posisi itu memberi akses, pengaruh, dan kepercayaan.
Jika dipakai tanpa takut akan Tuhan, kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar karena dilakukan dari dalam sistem gereja sendiri.
PEMAHAMAN
Kerusakan itu bisa berupa:
Penyalahgunaan kuasa rohani.
Manipulasi ayat untuk kepentingan pribadi.
Penyimpangan moral yang ditutupi wibawa jabatan. Mengarahkan jemaat pada diri sendiri, bukan pada Kristus. Menutup dan membungkam keadilan, kebenaran serta menopengkan kasih.
Yesus sendiri sudah memperingatkan bahaya ini ketika mengecam kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi dalam Injil Matius 23—mereka memiliki otoritas agama, tetapi hatinya jauh dari Allah.
Integritas lebih penting daripada jabatan rohani. Karakter lebih penting daripada karisma. Tanpa integritas, gelar rohani bukan berkat bagi gereja—melainkan ancaman tersembunyi.
(11032026)(TUS)