Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Markus 6 : 30-44 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗫 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗕] 𝗜𝘀𝘁𝗶𝗿𝗮𝗵𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴, 𝗯𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗷𝗮𝘂𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴
PENGANTAR
Tahun B disebut juga Tahun Markus, meskipun pada Minggu-Minggu tertentu bacaan diisi dari Injil Yohanes. Injil Markus adalah narasi panjang pertama dan tertua mengenai Yesus. Petulis Injil Markus tidak mengandalkan misteri Natal, melainkan misteri Paska. Penujuannya kepada Mesias, Hamba Tuhan yang harus menderita, dibunuh, dan dibangkitkan Allah.
PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu kesembilan setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Markus 6:30-34, 53-56 yang didahului dengan 2Samuel 7:1-14a, Mazmur 89:20-37, dan Efesus 2:11-22.
Bacaan Injil hari ini mencakup satu setengah perikop. Perikop kesatu diberi judul oleh LAI 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨, tetapi bacaan tidak sampai ke peristiwa pemberian makan. Bacaan kemudian melompati perikop 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘪𝘳, menuju perikop kedua 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘪 𝘎𝘦𝘯𝘦𝘴𝘢𝘳𝘦𝘵. Markus menarasikan kegiatan dalam ketiga perikop itu seolah-olah satu hari.
Bacaan penuh gerak sekaligus ketegangan. Para rasul tampak lelah selepas menjalankan misi dari Yesus (lih. Mrk. 6:7-13), sedang orang banyak mencari mereka. Pengulasan bacaan dibagi ke dalam tiga tembereng:
🛑 Rencana istirahat (ay. 30-33)
🛑 Istirahat batal (ay. 34)
🛑 Mengenali Yesus (ay. 53-56)
𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗶𝘀𝘁𝗶𝗿𝗮𝗵𝗮𝘁 (ay. 30-33)
Dalam Markus 6:6b-13 Yesus mengutus ke-12 murid (yang disebut rasul-rasul) pergi berdua-dua untuk mewartakan Injil sama seperti yang Yesus lakukan pada pembukaan Injil (Mrk. 1:15.). Sekarang rasul-rasul kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan (ay. 30). Kata 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 dan 𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 merupakan ujud (𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘺) pewartaan Injil. Jadi, mewartakan Injil bukan berteriak-teriak kepada orang-orang, melainkan mengajar dan mengerjakan berita Injil. Apa yang dikerjakan? Seperti yang Yesus sudah lakukan sebelumnya: menyembuhkan banyak orang sakit, mengusir roh-roh jahat, dlsb. Berbelarasa dan memanusiakan manusia.
Misi mereka tampaknya sukses besar. Hal ini ditunjukkan dengan orang banyak datang silih berganti sehingga untuk makan pun mereka tidak sempat. Yesus berkata kepada mereka, “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬!” (ay. 31). Perkataan Yesus “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 … “ diterjemahkan dari 𝘋𝘦𝘶𝘵𝘦 𝘩𝘺𝘮𝘦𝘪𝘴 𝘢𝘶𝘵𝘰𝘪 𝘬𝘢𝘵’ 𝘪𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘦𝘪𝘴 𝘦𝘳e𝘮𝘰𝘯 𝘵𝘰𝘱𝘰𝘯 𝘬𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘱𝘢𝘶𝘴𝘢𝘴𝘵𝘩𝘦 𝘰𝘭𝘪𝘨𝘰𝘯 (anapausasthe oligon, bisa diartikan juga TIDURLAH SEGERA). Sila bandingkan tiga versi penerjemahan LAI:
▶ TB 1974 “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘺𝘪, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢!”
▶ TB II 1997 “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬!”
▶ TB II 2023 “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘯𝘢𝘬!”
Dalam bahasa aslinya tidak ada pronomina 𝘬𝘪𝘵𝘢 melainkan 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 (𝘩𝘺𝘮𝘦𝘪𝘴 𝘢𝘶𝘵𝘰𝘪). TB II 2023 mencoba memerbaiki dengan menghilangkan pronomina 𝘬𝘪𝘵𝘢, tetapi tidak menyurat subjeknya sehingga kalimat menjadi kabur. Sekarang bandingkanlah dengan versi bahasa Inggris:
▶ NRSV “𝘊𝘰𝘮𝘦 𝘢𝘸𝘢𝘺 𝘵𝘰 𝘢 𝘥𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘦𝘥 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦 𝘢𝘭𝘭 𝘣𝘺 𝙮𝙤𝙪𝙧𝙨𝙚𝙡𝙫𝙚𝙨 𝘢𝘯𝘥 𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘢 𝘸𝘩𝘪𝘭𝘦.”
▶ KJV “𝘊𝘰𝘮𝘦 𝘺𝘦 𝙮𝙤𝙪𝙧𝙨𝙚𝙡𝙫𝙚𝙨 𝘢𝘱𝘢𝘳𝘵 𝘪𝘯𝘵𝘰 𝘢 𝘥𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦, 𝘢𝘯𝘥 𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘢 𝘸𝘩𝘪𝘭𝘦.”
▶ ASV “𝘊𝘰𝘮𝘦 𝘢𝘸𝘢𝘺 𝘣𝘺 𝙮𝙤𝙪𝙧𝙨𝙚𝙡𝙫𝙚𝙨 𝘵𝘰 𝘢 𝘥𝘦𝘴𝘰𝘭𝘢𝘵𝘦 𝘱𝘭𝘢𝘤𝘦 𝘢𝘯𝘥 𝘳𝘦𝘴𝘵 𝘢 𝘸𝘩𝘪𝘭𝘦.”
Jadi, Yesus menyuruh para murid beristirahat. Bukan 𝘬𝘪𝘵𝘢, melainkan 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. Yesus memandang mereka butuh istirahat, Yesus memahami kemanusiaan para murid, kerapuhan para murid, kelelahan itu wajar, lumrah dan manusiawi, kalau manusia bisa tidak lelah maka itu bukan manusia tapi robot, lelah adalah keniscayaan manusia, maka istirahat adalah hal yang lumrah, manusiawi. Ini sisi pastoral Yesus yang harus diteladani gereja, masak ada orang datang dg problem atik, lelah akan kehidupan pernikahannya, mosok mau bilang "tak lelah atau tak boleh lelah" itu tidak manusiawi, ya .... boleh lelah, ya ..... boleh istirahat tetapi janganlah menyerah, itu baru pastoral. Dalam terjemahan bebas, “𝘈𝘺𝘰, 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘤𝘪𝘭!” Nah ...... Yesus saja begitu, mosok kita tidak meneladan Dia, Kristus. Hanya di Injil Markus Yesus menyuruh para murid beristirahat. Di Injil Matius dan Lukas tidak ada. Markus melihat istirahat sebagai hal yang serius, karena itu keniscayaan, konteks sesuai zaman nya, bagaimana Kristus dan para rasul berdiri berpihak pada orang-orang yang sudah lelah tertindas kekuasaan dan kesewenangan, mengakui kelelahan itu tetapi memompa harapan untuk tidak menyerah, latar belakang jemaat Markus yg tertindas penjajahan Romawi dan kesewenang-wenangan para pejabat agama zaman itu. Dalam versi Markus ini Yesus pergi ke tempat terpencil agar para murid-Nya dapat beristirahat sejenak, sebuah pengakuan akan kelelahan itu bagian manusiawi yg rapuh tapi harus dirangkul, bukan menolak keniscayaan akan kelelahan. Bandingkan dengan Injil Matius. Yesus menyingkir ke tempat terpencil karena mendengar berita pembunuhan Yohanes Pembaptis (lih. Mat. 14:13), beda lagi konteksnya.
Mereka berangkat dengan perahu menyendiri ke tempat terpencil (ay. 32). Pada waktu mereka bertolak, banyak orang melihat dan mengenali mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka (ay. 33).
Di sini kita sudah dapat membayangkan bahwa rombongan Yesus naik perahu di danau, bukan sungai. Namun, kita tidak perlu merasionalisasi alasan rombongan orang banyak itu dapat mendahului perahu. Yang perlu diperhatikan adalah frase 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘰𝘵𝘢 yang hendak menyimbolkan kehadiran seluruh orang Israel. Hal ini berpautan dengan adegan selanjutnya dalam peristiwa pemberian makan kepada lima ribu orang (lih. ay. 35-44). Markus sedang menyiapkan panggungnya.
𝗜𝘀𝘁𝗶𝗿𝗮𝗵𝗮𝘁 𝗯𝗮𝘁𝗮𝗹 (ay. 34)
Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka (ay. 34).
Rencana istirahat tampaknya batal. Bukan kali itu saja Yesus dan para murid didatangi oleh orang banyak ke tempat terpencil. Pada awal Injil Markus (1:35-39) sudah terjadi hal yang mirip, Yesus batal berdoa dan langsung bergerak bekerja.
Ungkapan 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘕𝘺𝘢 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 menerjemahkan bahasa aslinya yang hanya satu kata 𝘦𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘪𝘴𝘵𝘩e. Akar katanya adalah 𝘴𝘱𝘭𝘢𝘯𝘤𝘩𝘯𝘢 yang berarti literal usus atau isi perut, yang oleh orang Yahudi diyakini sebagai pusat emosi. Di luar perumpamaan-perumpamaan para petulis Injil selalu menyuratkan bahwa Yesuslah yang berbelas kasihan sehingga mendorong-Nya melakukan penyembuhan, pembangkitan orang mati, penahiran orang kusta, dlsb. untuk menunjukkan semua itu adalah kerahiman Allah sendiri.
Frase 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘰𝘵𝘢 (ay. 33) yang hendak menyimbolkan kehadiran seluruh orang Israel dipertegas dengan ungkapan 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 (ay. 34). Dalam kitab Bilangan 27:17 diperikan suasana rawan dan mengenaskan umat Israel yang tidak memiliki gembala atau pemimpin (lih. juga 1Raj. 22:17, 2Taw. 18:16, Za. 10:2, dan terutama Yeh. 34:5). Bangsa Israel menjadi mangsa musuh, karena ditelantarkan oleh para pemimpinnya, pejabat agama.
Dari beberapa teks Perjanjian Lama (PL) di atas teks dari Kitab Bilangan dan Yehezkiel sangat menonjol.
▶ Dalam Bilangan 27:17-23 Musa memohon kepada Yahweh untuk mengangkat penggantinya sebagai pemimpin Israel. Yahweh lalu menunjuk Yosua. Dalam bahasa Ibrani penulisan nama Yosua (Yoshua) sama dengan Yesus (Yeshua).
▶ Dalam Yehezkiel 34 Allah mengecam para pemimpin Israel yang hanya menggembalakan mereka sendiri dan membiarkan umat telantar, tercerai-berai, menjadi mangsa musuh. Allah berjanji akan mengangkat gembala sejati.
Dengan teropong PL ini kita menjadi lebih mudah memahami ungkapan 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 (ay. 34). Yesus diperkenalkan sebagai gembala sejati, yang berbelas kasihan, yang bertugas menuntun umat.
Belas kasih Yesus mendorong-Nya mengajar umat yang tanpa gembala itu. Dalam Injil Markus adalah kebiasaan Yesus mengajar apabila dikerumuni oleh banyak orang (lih. Mrk. 2:13; 4:1; 6:34). Bandingkan dengan Injil Matius untuk adegan sebelum peristiwa pemberian makan kepada lima ribu orang yang menekankan adegan menyembuhkan mereka yang sakit (lih. Mat. 14:14). Meskipun berbeda, kedua petulis Injil menyampaikan tanggapan yang sama dari Yesus. Yesus membatalkan rencana istirahat yang sudah disusun. Yesus lebih mementingkan belas kasih kepada orang-orang yang telantar.
Di sini Yesus juga mengajar para pemimpin gereja yang kerap mendaku diri hamba agar tampak seolah-olah rendah hati. Para hamba Tuhan hendaklah lebih mementingkan belas kasih kepada orang telantar atau orang-orang marginal daripada pelesir ke Israel dengan dalih berziarah ke Tanah Suci, seharusnya pemimpin gereja merangkul kelelahan bukan menyuruh tak lelah, dan memaklumi istirahat atau rehat sambil memompa semangat harapan untuk tak menyerah. Padahal Yohanes 4 secara radikal menegaskan bahwa kekristenan tidak mengenal Tanah Suci.
𝗠𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗮𝗹𝗶 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (ay. 53-56)
Bacaan melompat ke ayat 53. Dua peristiwa pemberian makan kepada lima ribu orang dan Yesus berjalan di atas air dilewati.
Mereka tiba di seberang dan mendarat di Genesaret. Ketika mereka keluar dari perahu, orang-orang segera mengenali Yesus, lalu berlarilah mereka ke seluruh daerah itu. Mereka membawa orang-orang sakit di atas tikar ke mana pun mereka mendengar Yesus berada; ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, mereka meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada Yesus agar diperkenankan menyentuh meskipun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (ay. 53-56)
Apa yang terjadi setelah mereka mendarat? Orang-orang segera mengenali Yesus (ay. 54). Bagaimana mereka mengenali-Nya? Apakah Yesus berjalan di atas air beberapa meter menuju pantai? Pernahkah mereka melihat foto diri Yesus dipasang di pasar? Tidak satu pun teks Injil yang memerikan fisik Yesus. Bagaimana orang-orang dapat mengenali Yesus? Mereka mengenali-Nya dari pelayanan nyata Yesus. Tentu saja yang dimaksudkan pelayanan ini bukan berkhotbah, bermain gitar, menjadi kolektan di gereja, dan lain sejenisnya. Pelayanan sesungguhnya ya seperti Yesus melayani, yakni memanusiakan manusia, mengakui kelelahan yg manusiawi bukan menyuruh tak lelah, memaklumi istirahat dan mendampingi sambil memompa harapan semangat tak menyerah. Ayat 56 memberi petunjuk itu.
Dalam ayat 56 dikatakan bahwa orang-orang sakit asal menyentuh jumbai jubah Yesus menjadi sembuh. Dalam Sudut Pandang edisi bbrp waktu yang lalu sudah dibahas tentang Yesus dan perempuan sakit pendarahan (Mrk. 5:25-34). Dengan penuh keyakinan perempuan itu sembuh hanya dengan menyentuh jubah Yesus di kerumuman orang banyak. Tampaknya peristiwa itu tersebar ke seluruh penjuru dan banyak orang termotivasi oleh iman perempuan itu.
Bagaimana dengan pemimpin gereja yang mendaku hamba Tuhan agar tampak seolah-olah rendah hati? Apakah orang-orang mengenali para hamba Tuhan dari pelayanan nyata mereka?
(21072024)(TUS)