Senin, 30 Maret 2026

KALAU BERTAHAN MEMBUATMU HANCUR ATAU TERBUNUH, ITU BUKAN PANGGILAN TUHAN, ITU BUKAN KESETIAAN

Ada orang yang setiap malam berdoa sambil menangis, bukan karena rindu Tuhan…
tapi karena takut pulang ke rumahnya sendiri.

Tempat yang seharusnya jadi ruang aman,
justru berubah jadi ruang penuh ancaman.
Kata-kata jadi pisau. Tangan jadi alat melukai. Dan hati… pelan-pelan mati.

Lalu kamu diajarkan,
“Bertahanlah. Tuhan benci perceraian.”

Tapi tidak ada yang bilang, Tuhan juga benci air mata yang dipaksa jatuh setiap hari. Tuhan juga benci ketika martabatmu diinjak tanpa ampun.

Yesaya 41:10 berkata,
“Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau.”
Bukan: “Bertahanlah dalam kekerasan, Aku sedang mengujimu.”

Tidak.
Tuhan hadir untuk menguatkanmu keluar,
bukan mengikatmu untuk tetap disakiti.

Kadang kita salah mengartikan kesetiaan. Kita pikir diam itu sabar. Kita pikir bertahan itu kudus.

Padahal…
diam dalam kekerasan adalah luka yang dipelihara.
bertahan tanpa batas adalah jiwa yang disiksa.

Tuhan tidak pernah meminta kamu mengorbankan dirimu untuk menutupi dosa orang lain.

Kasih itu memang sabar. Tapi kasih juga tidak membiarkan kejahatan terus terjadi.

Kalau hari ini kamu hidup dalam ketakutan…
kalau setiap langkahmu penuh waspada…
kalau anak-anakmu tumbuh dalam trauma…

Itu bukan rumah.
Itu tempat yang harus kamu berani tinggalkan.

Keluar bukan berarti kamu gagal.
Keluar berarti kamu memilih hidup.
Memilih waras.
Memilih masa depan.

Dan Tuhan tidak akan meninggalkanmu di keputusan itu. Dia berjalan bersamamu…
di setiap langkah menuju pemulihan.

Kalau kamu sedang ada di posisi ini, jangan diam sendiri. Cari pertolongan. Ceritakan pada orang yang bisa dipercaya. Hidupmu terlalu berharga untuk terus disakiti. 

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus

Sudut Pandang Memaknai Pembasuhan Kaki Pada Kamis Putih, menghidupi mandat baru Kristus PENGANTAR Pembasuhan kaki, adalah simbol...