Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴 𝘗𝘶𝘵𝘪𝘩 dibuat dalam dua bagian. Bagian kesatu berpumpun pada gatra liturgis. Bagian kedua berpumpun pada gatra reflektif.
𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗞𝗮𝗺𝗶𝘀 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵 (Bag. 1/2)
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗔𝗹𝘁𝗮𝗿 𝗗𝗶𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗗𝗶𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶
Menurut kalender gerejawi Minggu Palem (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘭𝘮𝘴) dan Minggu Sengsara (𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘗𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯) Gereja adalah pembuka 𝘏𝘰𝘭𝘺 𝘞𝘦𝘦𝘬, yang diindonesiakan menjadi Pekan Suci. Ada tiga hari suci khusus berendeng di dalam Pekan Suci yang disebut dengan 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮, yang diindonesiakan menjadi 𝗧𝗿𝗶𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗰𝗶. Tiga hari suci khusus itu adalah Kamis Putih-Jumat Agung-Sabtu Sunyi 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗼𝗱𝗲 𝗣𝗲𝗸𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗰𝗶 sehingga penamaan Trihari Suci diselaraskan dengan pengindonesiaan Pekan Suci.
Sering pula 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘚𝘢𝘤𝘳𝘶𝘮 disebut dengan 𝘛𝘳𝘪𝘥𝘶𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦, yang dimaknai sebagai tiga hari menuju Minggu Paska; dimula dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, kemudian sampai puncaknya pada Minggu Paska, Hari Kebangkitan Kristus.
Trihari Suci hendak menyampaikan narasi satu-drama tiga-aksi yang memerkuat narasi penyelamatan Allah melalui kebangkitan Kristus. Ketiganya bukan perayaan yang berdiri sendiri; ia adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.Trihari Suci merupakan tiga hari utama di sekitar sengsara, kematian, dan pemakaman Yesus. Kesatu-tigaan topik tersebut tampil dalam Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi.
Sabtu Malam selepas matahari terbenam dalam tradisi Gereja mula-mula sudah merupakan hari baru, hari Minggu, bukan Sabtu Sunyi lagi. Tradisi ini diterapkan sampai sekarang. Sebagai contoh Malam Paska tahun ini oleh 𝘙𝘦𝘷𝘪𝘴𝘦𝘥 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘰𝘯 𝘓𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘳𝘺 (RCL) dimasukkan ke tanggal 5 April 2026. Ibadah Malam Paska disebut Vigili Paska (𝘌𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭 atau 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭 𝘝𝘪𝘨𝘪𝘭). Vigili berarti berjaga-jaga yang kemudian dimaknai berjaga-jaga menanti dan merayakan kebangkitan Yesus secara lebih daripada pengawal mengharap pagi (Mzm. 130:6).
Minggu Paska adalah hari kesatu atau awal pekan yang baru dan bukan hari di dalam Pekan Suci menurut kalender gerejawi. Minggu Paska tidak masuk ke dalam Trihari Suci. Dengan kata lain secara 𝘵𝘪𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 Trihari Suci dan Minggu Paska berbeda masa atau periode.
▶️ Berawal dari Minggu Palem/Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, dan berakhir pada Sabtu Sunyi
▶️ Malam Paska-Minggu Paska
▶️ Minggu kedua Paska
▶️ Dst.
▶️ Hari Pentakosta
Kamis Putih (𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺) adalah penanda hari terakhir atau penutup masa Pra-Paska. Kalau akhir masa Pra-Paska berarti tidak 40 hari 𝘥𝘰𝘯𝘨? Begini, kita mesti membedakan terlebih dahulu 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 dan 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘗𝘳𝘢-𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢. Jumlah 40 hari itu adalah 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 yang dihitung dari Rabu Abu sampai Sabtu Sunyi tanpa menghitung (hari) Minggu.
Mengapa 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 𝘛𝘩𝘶𝘳𝘴𝘥𝘢𝘺 diindonesiakan menjadi Kamis Putih?
𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗿𝘂, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34).
[Dalam Injil Yohanes tidak ditemukan perumusan Hukum Kasih seperti dalam Injil Sinoptik. Yang muncul justru 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗿𝘂 untuk saling mengasihi di dalam komunitas murid. Dalam konteks jemaat yang mengalami penolakan dan penganiayaan kasih tidak lagi tampil sebagai hukum umum, melainkan daya yang memerkokoh persekutuan.]
Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Pada aras ini perintah itu bukan lagi ajaran, tetapi tindakan yang membalik seluruh cara pandang.
Kembali lagi ke pertanyaan mengapa disebut Kamis Putih? Pada Kamis Putih dilayankan Liturgi Sabda, Upacara Pembasuhan Kaki, Perjamuan Kudus atau Ekaristi, dan 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻. Warna liturgi putih. Namun, putih di sini bukan sekadar warna yang tampak, melainkan simbol yang mengandung makna. Bahkan makna itu tidak segera terlihat pada pandangan pertama.
Pada Kamis Putih secara khusus Gereja mengosongkan peralatan sakramen dari altar (𝘴𝘵𝘳𝘪𝘱𝘱𝘪𝘯𝘨 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘢𝘭𝘵𝘢𝘳) sesudah 𝘙𝘪𝘵𝘶𝘴 𝘗𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱. Altar yang sebelumnya penuh kini menjadi kosong. Yang sebelumnya tertata kini telanjang. Dilucuti. Polos! Yang sebelumnya hidup oleh pelayanan kini tiba-tiba berhenti.
Di titik inilah maknanya menjadi lebih dalam. Altar yang tampak polos itu bukan sekadar “kosong”, tetapi sebuah tanda. Bukan kepolosan dalam arti belum tersentuh, melainkan kepolosan sebagai keadaan yang ditinggalkan, dilepaskan, bahkan dirampas. Kepolosan di sini bukan awal, tetapi akibat. Ia menunjuk pada Yesus yang segera ditinggalkan, 𝗱𝗶𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗶, dan memasuki jalan penderitaan.
Pengosongan altar adalah simbol Gereja yang tidak lagi berbicara. Gereja berdiam diri. Gereja memasuki keheningan. Tidak ada perayaan sakramen. Tidak ada kelanjutan liturgi yang biasa. Segala sesuatu seakan ditahan termasuk 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁 𝗔𝗴𝘂𝗻𝗴. Mengapa?
Perjamuan Kudus merupakan perayaan iman Gereja untuk mengenang (𝘢𝘯𝘢𝘮𝘯𝘦̄𝘴𝘪𝘯) karya, kematian, kebangkitan, dan penantian kedatangan Kristus kembali. Pada Jumat Agung umat Kristen menghayati ulang kematian Yesus, bukan perayaan syukur atau sukacita (𝘌𝘶𝘤𝘩𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵 = Ekaristi). Melakukan Perjamuan Kudus pada Jumat Agung merupakan kekeliruan yang serius baik dari gatra teologis mapun liturgis.
Keheningan itu berlangsung sampai 𝗦𝗮𝗯𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗻𝘆𝗶. Baru pada Malam Paska liturgi kembali dilayankan. Dengan demikian putih dalam Kamis Putih tidak hanya berbicara tentang kemurnian, kepolosan, atau sukacita, tetapi juga tentang kekosongan yang harus dilalui. Sebuah terang yang justru hadir melalui pelucutan. Terang yang tidak muncul dari kepenuhan, melainkan dari pengosongan.
Wassalam,
MDS (29032026)