PENGANTAR
Kamis Putih selalu punya suasana yang khas. Gereja ditata lebih rapi. Lilin dinyalakan. Liturgi berjalan dengan penuh kesungguhan. Ada prosesi, ada simbol, ada gerak yang terasa sakral. Semuanya tampak tertata, bahkan indah. Di situlah persoalannya.
PEMAHAMAN
Sering yang tertata hanyalah yang terlihat. Yang bergerak adalah tubuh, bukan hati. Yang sibuk adalah liturgi, bukan batin. Kamis Putih kemudian berubah menjadi perayaan yang rapi, tetapi tidak selalu menyentuh kedalaman. Umat mengikuti setiap bagian dengan tertib, tetapi tidak selalu masuk ke dalam ketegangan yang sedang dihadirkan.
Padahal malam itu bukan malam yang tenang. Dalam tradisi Injil Sinoptik malam itu adalah saat Yesus duduk bersama murid-murid-Nya, mengambil roti, lalu berkata bahwa itu adalah tubuh-Nya. Ia mengambil cawan, lalu berkata bahwa itu adalah darah-Nya. Sebuah tindakan yang kemudian dikenal sebagai Perjamuan Tuhan.
Namun peristiwa itu tidak berdiri sendiri. Di meja yang sama ada pengkhianatan. Ada murid yang akan menyangkal. Ada kegelisahan yang tidak terucapkan. Ada perpisahan yang tidak sepenuhnya dimengerti.
Dalam Injil Yohanes suasananya bahkan lebih sunyi dan lebih mengguncang. Tidak ada kata-kata penetapan roti dan cawan. Yang ada justru tindakan yang tidak terduga. Yesus bangkit dari meja, mengikatkan kain pada pinggang-Nya, lalu membasuh kaki murid-murid-Nya.
Sebuah tindakan yang meruntuhkan jarak. Yang membalik hierarki. Yang memerlihatkan bahwa yang disebut Tuhan justru mengambil posisi hamba. [Sebutan Tuhan di sini adalah restrospektif]. Di GKJ, sering sulit mempraktekan hanya karena budaya dan tradisi RIKUH PEKEWUH, padahal jauh api dari panggangan dengan hal itu, karena ini simbolik liturgi yang harus dimaknai.
Namun di tengah semua itu kita acap lebih sibuk dengan apa yang tampak. Kita memerhatikan lilin, tetapi tidak masuk ke dalam gelapnya malam itu. Kita mengikuti prosesi, tetapi tidak ikut merasakan kegelisahan yang menyertainya. Kita bernyanyi, tetapi tidak mendengarkan ketegangan yang diam-diam mengalir di baliknya. Liturgi menjadi terang, tetapi batin tetap datar.
Padahal Kamis Putih bukan sekadar peringatan sebuah peristiwa. Ia adalah undangan untuk masuk ke dalam suasana yang tidak nyaman. Suasana ketika kasih dan pengkhianatan berdiri berdekatan. Suasana saat pelayanan atau karya bergereja tidak lagi menjadi simbol, tetapi menjadi tindakan yang merendahkan diri. Di sinilah kita mula melihat sesuatu.
Masalahnya bukan pada liturginya. Bukan pada lilinnya. Bukan pada prosesi atau tata ibadahnya. Semua itu penting. Semua itu membantu. Persoalannya ada pada apakah kita sungguh masuk ke dalam apa yang sedang dirayakan. Sangat mungkin kita menjalani Kamis Putih dengan penuh kesungguhan, tetapi tanpa keterlibatan batin. Kita hadir, tetapi tidak benar-benar ikut. Kita melihat, tetapi tidak benar-benar memahami. Kita bahkan bisa menerima roti dan cawan, tetapi tetap menolak jalan yang sedang ditunjukkannya.
Di situlah ironi itu muncul. Apa yang dirayakan adalah kasih yang merendahkan diri, tetapi yang terjadi adalah kenyamanan yang dipertahankan. Apa yang dihadirkan adalah pelayanan atau karya bergereja, tetapi yang dijalani adalah kebiasaan, rutinitas, biasanya memang begini kok, mental rutinitas dalam bergereja, menolak tidak nyaman, meski ketidak nyamanan itu teladan dan hikmat pengajaran Yesus.
Kamis Putih lalu menjadi terang di luar, tetapi belum tentu terang di dalam. Mungkin yang dibutuhkan bukan liturgi yang lebih megah. Bukan juga simbol yang lebih banyak. Yang dibutuhkan keberanian untuk tinggal sejenak dalam ketegangan itu. Tidak buru-buru selesai. Tidak segera beranjak, karena justru di situlah Kamis Putih mula berbicara.
Sangat mungkin yang disampaikannya bukan tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang selama ini kita hindari. Namun, justru pada aras itu Kamis Putih menjadi cermin yang jujur.
Ia tidak hanya menampilkan siapa Yesus itu, tetapi juga membuka siapa kita sebenarnya. Kita yang datang berpakaian rapi, liturgi yang tertib, nyanyian yang indah, tetapi tidak selalu siap untuk merendahkan diri. Tidak selalu siap untuk melayani dan berkarya. Tidak selalu siap untuk tinggal dalam ketegangan itu. Tidak siap ada dalam ketegangan itu mewujud pada anti kritik, membutakan diri, dan menulikan diri yang digumuli pada bacaan masa prapaskah tentang orang buta, wanita samaria, dlsb.
Kita ingin bagian terang dari malam itu. Kita ingin roti dan cawan. Kita ingin suasana yang hangat dan sakral. Akan tetapi kita tidak selalu ingin bagian yang lain. Bagian ketika harus membasuh kaki. Bagian ketika harus merendahkan diri. Bagian ketika kasih tidak lagi menjadi kata, tetapi menjadi tindakan yang tidak nyaman.
Kamis Putih bukan kekurangan simbol. Ia kekurangan keterlibatan. Bukan karena liturginya tidak lengkap, tetapi karena hati kita tidak ikut masuk ke dalamnya. Mungkin kita menyalakan banyak lilin, tetapi tetap menolak terang yang sesungguhnya. Kita mengikuti seluruh rangkaian ibadah, tetapi tetap menjaga jarak dari apa yang sedang dihadirkan, kita lari dari ketidak nyamanan teladan dan hikmat pengajaran Yesus, kita ingin nyaman.
Ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah bentuk. Liturgi berjalan. Lagu dinyanyikan. Doa dinaikkan. Namun, semuanya berhenti di permukaan. Kamis Putih pun selesai, tanpa pernah benar-benar terjadi.
Barangkali pada aras ini kita perlu bertanya ulang, apakah kita sungguh merayakan, atau hanya menjalankan? Apakah kita ikut masuk ke dalam malam itu, atau hanya menyaksikannya dari jauh?
Kamis Putih tidak membutuhkan penonton. Ia menuntut keterlibatan. Memang tak mudah.
Kita bersedia datang. Kita bersedia mengikuti. Kita bahkan bersedia mengulanginya setiap tahun, tetapi tidak selalu bersedia diubah olehnya, karena perubahan itu dapat berarti dilucuti.
(30032026)(TUS)
Baca juga:
http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/seri-dibuat-dalam-dua-bagian.html