Sudut Pandang Keadilan
PENGANTAR
“Melakukan keadilan adalah kesukaan bagi orang benar, tetapi menakutkan orang yang berbuat jahat.”
— Amsal 21:15
Dalam teks Ibrani, frasa “melakukan keadilan” berasal dari kata "mishpat", yang berarti lebih dari sekadar keputusan hukum atau hukuman. Mishpat menunjuk pada tatanan yang benar, suatu keadaan di mana kehidupan berjalan sesuai dengan kehendak Allah: yang tertindas dipulihkan, yang salah diluruskan, dan yang benar ditegakkan. Jadi keadilan dalam Alkitab bukan sekadar sistem hukum, melainkan ekspresi karakter Allah di tengah kehidupan manusia.
PEMAHAMAN
Karena itu Amsal mengatakan bahwa keadilan adalah “kesukaan” bagi orang benar. Kata Ibrani yang dipakai adalah "simchah", yang berarti sukacita yang dalam. Orang benar tidak takut pada keadilan karena hidupnya selaras dengan kebenaran. Keadilan bukan ancaman bagi mereka; justru keadilan adalah ruang di mana mereka bisa hidup dengan damai.
Sebaliknya, ayat ini mengatakan bahwa keadilan menakutkan bagi orang yang berbuat jahat. Kata yang dipakai adalah "mechittah", yang berarti kehancuran atau ketakutan yang mengguncang. Mengapa? Karena kejahatan selalu membutuhkan kegelapan untuk bertahan. Ketika keadilan hadir, segala yang tersembunyi mulai terbongkar. Keadilan adalah terang yang menyingkapkan apa yang selama ini disembunyikan.
Banyak orang menyukai wacana keadilan, tetapi tidak selalu menyukai praktik keadilan. Kita bisa berbicara tentang kebenaran palsu dan kasih yg palsu, tetapi tetap nyaman dengan ketidakadilan kecil yang menguntungkan diri sendiri: manipulasi, kemunafikan, kompromi moral, atau kesalehan yang hanya terlihat di luar. Karena kebenaran dan kasih sejati ada keadilan di sana, karena ada keadilan maka ada pengampunan Serta pertobatan.
Amsal 21:15 menyingkapkan sesuatu yang sederhana tetapi tajam:
respons kita terhadap keadilan menunjukkan kondisi hati kita.
Jika keadilan membuat kita bersukacita, itu tanda hati yang sedang diarahkan kepada kebenaran dan kasih sejati. Tetapi jika keadilan membuat kita gelisah, defensif, atau marah bahkan antikritik dan menulikan diri serta membutakan diri, mungkin ada sesuatu dalam hidup kita yang tidak ingin disingkapkan. Ini menggambarkan dg jelas anti kritik, menulikan diri serta membutakan diri adalah TIDAK SEKEHENDAK DENGAN ALLAH.
Dalam terang Injil, keadilan Allah mencapai puncaknya di salib Kristus. Di sana dosa benar-benar dihakimi, tetapi sekaligus manusia berdosa diberi jalan pemulihan. Karena itu orang yang hidup di dalam Kristus tidak perlu takut pada terang kebenaran, tidak perlu takut pada kritik yang membangun, tidak perlu takut untuk mendengar. Justru semakin terang itu bersinar, semakin nyata pula kehidupan baru yang Allah kerjakan.
Keadilan Allah bukan ancaman bagi orang benar; justru di sanalah kehidupan yang sejati menemukan pijakannya.
“Orang yang hidup dekat dengan Tuhan tidak takut pada keadilan-Nya, sebab ia tahu bahwa Allah juga adalah pembela bagi orang benar.”
—Charles Spurgeon
(11032026)(TUS)