Selasa, 10 Maret 2026

Perkataan Yesus tentang “ikatlah persahabatan dengan mamon yang tidak jujur” terdapat dalam Injil Lukas 16:9. Kalimat ini sering membingungkan karena seolah-olah Yesus memerintahkan orang percaya memakai kekayaan yang tidak jujur. Namun jika dibaca dalam konteks perumpamaan bendahara yang tidak jujur, Yesus sebenarnya sedang menyingkapkan realitas dunia yang jatuh dalam dosa: uang hampir selalu berada dalam sistem yang tidak sepenuhnya bersih. Pertanyaan Yesus bukanlah apakah uang itu sempurna, tetapi bagaimana orang percaya menggunakannya.

Frasa “ikatlah persahabatan” berasal dari bahasa Yunani ποιήσατε φίλους (poiēsate philous) yang secara harfiah berarti “buatlah sahabat” atau “jadikan orang sebagai sahabat.” Kata ποιέω (poieō) berarti membuat, menghasilkan, atau melakukan sesuatu dengan sengaja. Sedangkan φίλος (philos) berarti sahabat yang memiliki relasi dekat. Jadi maksudnya bukan manipulasi relasi, tetapi menggunakan sesuatu yang fana untuk menghasilkan relasi yang bernilai kekal. Dengan kata lain, uang tidak boleh menjadi tuan, tetapi alat untuk mengasihi orang lain.

Lalu Yesus menyebutnya “mamon yang tidak jujur.” Kata mamon berasal dari bahasa Aram מָמוֹן (māmōn) yang berarti kekayaan atau harta. Dalam konteks Alkitab, kata ini sering dipakai untuk menggambarkan kekayaan yang mudah menjadi berhala. Sedangkan istilah “tidak jujur” berasal dari kata Yunani ἀδικίας (adikias) yang berarti ketidakadilan, kelaliman, atau sesuatu yang berasal dari sistem yang tidak benar. Jadi “mamon yang tidak jujur” bukan berarti semua uang itu hasil kejahatan, tetapi uang dalam dunia yang sudah rusak oleh dosa dan sering dipakai secara tidak adil.

Di sinilah kritik Yesus sangat tajam. Dunia sering mempercayai uang lebih daripada Allah. Manusia berpikir keamanan hidup ada pada saldo rekening. Yesus justru berkata: pakailah uang yang fana itu untuk sesuatu yang kekal, seperti menolong orang lain, mempraktikkan belas kasih, dan memperluas kebaikan Allah. Uang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, tetapi dampak dari penggunaannya bisa memiliki nilai kekal.

Namun pertanyaan penting muncul: bagaimana dengan uang hasil korupsi atau “uang panas”? Secara teologis, Alkitab tidak pernah membenarkan sumber uang yang berasal dari ketidakadilan. Uang hasil korupsi tetap merupakan hasil dosa. Memberikannya untuk pelayanan atau amal tidak otomatis menyucikan sumbernya. Prinsip Alkitab lebih dekat kepada pertobatan seperti yang dilakukan oleh Zakeus dalam Injil Lukas 19:8: ia mengembalikan apa yang ia rampas dan mengganti lebih banyak. Pertobatan sejati bukan sekadar menyumbang, tetapi memulihkan keadilan.

Karena itu, perkataan Yesus bukanlah izin untuk menghalalkan uang kotor. Sebaliknya, Yesus sedang memperingatkan bahwa bahkan uang yang kita anggap “bersih” tetap berada dalam sistem dunia yang rapuh. Maka orang percaya harus waspada: jangan menyembah mamon, jangan mencari uang dengan cara yang jahat, dan gunakan setiap harta sebagai alat kasih. Uang hanya sementara, tetapi cara kita memakainya akan berbicara tentang siapa yang sebenarnya menjadi Tuhan dalam hidup kita.

Sudut Pandang Melatih Pikiran

Sudut Pandang Melatih Pikiran PENGANTAR Penelitian menunjukan ketika kita fokus pada hal-hal baik dalam hidup, otak kita secara ...