PENGANTAR
Menjelang Minggu Palem muncul kritik: Gereja berbicara tentang 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗼𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗲𝗸𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀, tetapi justru memotong daun palem untuk perayaan. Sekilas tampak seperti kontradiksi. Namun, jika ditelaah dengan lebih jernih, kritik ini sesungguhnya tidak tepat sasaran, bahkan berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang jauh lebih mendesak.
Kesatu, perlu dibedakan secara tegas antara penggunaan simbolik yang terbatas dan praktik eksploitasi yang merusak. Daun palem yang digunakan dalam liturgi diambil dalam jumlah kecil dari tanaman yang umumnya dibudidayakan, lebih dikenal sebagai tanaman hias atau tanaman pekarangan. Memotong tangkai atau daun tidak sama dengan menebang pohon, apalagi menghancurkan ekosistem. Dalam banyak kasus pemangkasan justru merupakan bagian dari perawatan tanaman itu sendiri. Menyamakannya dengan kerusakan ekologis bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kegagalan membedakan skala persoalan.
Kedua, mengaitkan penggunaan daun palem dalam liturgi dengan krisis lingkungan tanpa membedakan konteks justru mengaburkan masalah. Ironisnya pada saat yang sama ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit, yang juga termasuk keluarga palem, telah lama berkontribusi pada deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati, dan berbagai konflik ekologis. Namun, kritik terhadap persoalan yang jelas berskala struktural ini kerap melemah. Kita menjadi keras terhadap yang remeh-temeh tak murad, tetapi ragu terhadap yang besar.
Ketiga, liturgi bukan sekadar tindakan praktis, melainkan bahasa simbolik iman. Daun palem dalam perayaan Minggu Palem adalah tanda pengakuan akan Kristus yang datang sebagai Raja damai. Menghapus atau mencurigai simbol ini tanpa pembedaan yang memadai justru mereduksi iman menjadi sekadar persoalan teknis remeh-temeh. Padahal 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗼𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗲𝗸𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 yang sejati tidak berhenti pada penghindaran tindakan-tindakan kecil, melainkan menyentuh cara pandang dan cara hidup secara menyeluruh, terutama dalam menghadapi sistem yang sungguh-sungguh merusak ciptaan.
Oleh karena itu sebelum menilai Gereja tidak panggah, kita perlu terlebih dahulu menempatkan persoalan pada proporsinya. Kepedulian ekologis yang matang tidak cukup hanya peka terhadap apa yang tampak, tetapi juga berani menilai apa yang menentukan. Tanpa pembedaan ini, kritik mudah berubah menjadi sekadar sikap reaktif, nyaring di permukaan, tetapi tumpul pada kedalaman.
Pertobatan ekologis menuntut kejernihan, bukan sekadar kepekaan.
Wassalam,
MDS