Sabtu, 28 Maret 2026

Sudut Pandang ๐——๐—ฎ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป “๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€”: ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐——๐—ถrenungkan

Sudut Pandang ๐——๐—ฎ๐˜‚๐—ป ๐—ฃ๐—ฎ๐—น๐—ฒ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป “๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€”: ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐˜‚ ๐——๐—ถrenungkan

PENGANTAR
Di FBG Bengkel Liturgi, seiring Minggu palem ada diskusi menarik, selain diskusi tentang permen no 39  tahun 2026. Kita memang terbiasa berdiskusi untuk saling mengkritisi argumen tanpa baper an, atau ke bawa perasaan, tidak sampai debat kusir atau malah saling menjadi tidak suka, itu tidak dewasa, itu anti kritik, tetap perdebatan diatur mengalir tanpa melarikan diri dengan pembatasan waktu (ini makin tidak dewasa), tapi tetap ada agihan waktu, tapi bukan membatasi waktu saat memberikan argumentasi karena itu tidak fair/adil .... sama saja kita menulikan diri dan membutakan mata kalau seperti itu karena tak ada ruang untuk mendengar dan didengar. Kebetulan saya bersama pakdhe Purnama Kristianto serta bbrp temen ada di kubu yg berpendapat kritisi atas tema pertobatan ekologis, gereja harus pro alam, kok cabuti daun palem di minggu palem? sedangkan sohib saya, pakdhe Efron Dipoyono, pakdhe oh ie yuk, pakdhe Rochid dan Mbah Wir Kasut serta bbrp teman ada di kubu yg berpendapat bahwa memakai daun palem bukan bearti tidak cinta alam atau tidak bertobat secara ekologis. Saya merasa perlu meng-upload inti dari argumentasi kubu sebelah, yang berpendapat tidak apa memakai daun palem saat Minggu palem bukan bearti tidak tobat ekologis, agar bisa jadi renungan bagi pembaca, tentunya menambah khazanah pengetahuan pembaca.


PEMAHAMAN
Menjelang Minggu Palem muncul kritik: Gereja berbicara tentang ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€, tetapi justru memotong daun palem untuk perayaan. Sekilas tampak seperti kontradiksi. Namun, jika ditelaah dengan lebih jernih, kritik ini sesungguhnya tidak tepat sasaran, bahkan berisiko mengalihkan perhatian dari persoalan yang jauh lebih mendesak.

Kesatu, perlu dibedakan secara tegas antara penggunaan simbolik yang terbatas dan praktik eksploitasi yang merusak. Daun palem yang digunakan dalam liturgi diambil dalam jumlah kecil dari tanaman yang umumnya dibudidayakan, lebih dikenal sebagai tanaman hias atau tanaman pekarangan. Memotong tangkai atau daun tidak sama dengan menebang pohon, apalagi menghancurkan ekosistem. Dalam banyak kasus pemangkasan justru merupakan bagian dari perawatan tanaman itu sendiri. Menyamakannya dengan kerusakan ekologis bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kegagalan membedakan skala persoalan.

Kedua, mengaitkan penggunaan daun palem dalam liturgi dengan krisis lingkungan tanpa membedakan konteks justru mengaburkan masalah. Ironisnya pada saat yang sama ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit, yang juga termasuk keluarga palem, telah lama berkontribusi pada deforestasi, kehilangan keanekaragaman hayati, dan berbagai konflik ekologis. Namun, kritik terhadap persoalan yang jelas berskala struktural ini kerap melemah. Kita menjadi keras terhadap yang remeh-temeh tak murad, tetapi ragu terhadap yang besar.

Ketiga, liturgi bukan sekadar tindakan praktis, melainkan bahasa simbolik iman. Daun palem dalam perayaan Minggu Palem adalah tanda pengakuan akan Kristus yang datang sebagai Raja damai. Menghapus atau mencurigai simbol ini tanpa pembedaan yang memadai justru mereduksi iman menjadi sekadar persoalan teknis remeh-temeh. Padahal ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฒ๐—ธ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€ yang sejati tidak berhenti pada penghindaran tindakan-tindakan kecil, melainkan menyentuh cara pandang dan cara hidup secara menyeluruh, terutama dalam menghadapi sistem yang sungguh-sungguh merusak ciptaan.

Oleh karena itu sebelum menilai Gereja tidak panggah, kita perlu terlebih dahulu menempatkan persoalan pada proporsinya. Kepedulian ekologis yang matang tidak cukup hanya peka terhadap apa yang tampak, tetapi juga berani menilai apa yang menentukan. Tanpa pembedaan ini, kritik mudah berubah menjadi sekadar sikap reaktif, nyaring di permukaan, tetapi tumpul pada kedalaman.

Pertobatan ekologis menuntut kejernihan, bukan sekadar kepekaan.

(30032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang-sekali-lagi-tentang.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html

Sudut Pandang Sejarah Hitam; Upaya Roma Membakar Alkitab Ibrani Yang Diterjemahkan Sarjana Teologi Demi Doktrin Supersesionisme

Sudut Pandang Sejarah Hitam; Upaya Roma Membakar Alkitab Ibrani Yang Diterjemahkan Sarjana Teologi Demi Doktrin Supersesionisme ...