SUDUT PANDANG DATANG KE GEREJA
UNTUK MENIPU TUHAN
Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh logika untung rugi, manusia terbiasa memperlakukan segala sesuatu sebagai transaksi. Bahkan hal-hal yang seharusnya kudus dan murni — seperti ibadah, doa, dan karya bergereja — tak jarang dijadikan alat tawar-menawar dengan Tuhan. Banyak orang datang kepada Tuhan bukan untuk menyembah, tetapi untuk bernegosiasi. Mereka ingin memperoleh sesuatu, bukan menyerahkan diri. Tulisan ini mengajak kita menelanjangi bentuk-bentuk transaksi curang yang sering tersembunyi di balik wajah kesalehan.
Istilah ibadah yang menipu Tuhan terdengar keras, bahkan sangat menyinggung. Namun sesungguhnya inilah realitas rohani yang sering tak disadari umat percaya. Curang artinya menipu — dan banyak orang berusaha “menipu” Tuhan dengan ketaatan palsu, dengan karya bergereja, dengan event gereja yang wooooww keren, mosok ngadain event antara pembiayaan inti event dengan acara pendukungnya biaya lebih tinggi acara pendukungnya, mosok tiap event biaya makan selalu guedhe, mosok tiap event usaha dana jungkir balik cari uang buat nutup pembiayaan tapi ketika ada bencana alam udah dech cuman buat kotak persembahan khusus tidak ada tu seksi usaha dana yang jungkir balik cari uang, repot lagi udah gitu persembahan untuk bencana alam mo dipinjem dulu untuk nutup kekurangan biaya event ...... Lah ..... gimana ini cara mikirnya, Alkitab cuman buat gaya-gayaan bukan dimengerti bener. Mereka terlihat religius, tetapi motivasinya busuk. Mereka berdoa supaya Tuhan memenuhi ambisinya, bukan supaya kehendak Tuhan menjadi nyata.
Yesus pernah menegur keras para pemimpin agama mungkin sekarang disebut pemimpin gereja yang hidup seperti itu. Mereka berpuasa dengan wajah muram supaya dilihat orang, mereka jungkir balik hanya agar event gereja berhasil bukan event menolong sesama. Mereka memberi sedekah dengan bunyi trompet supaya dipuji banyak orang (Matius 6:1–5), nah .... Udah berhasil dengan yg wow keren ini, besok even yang lain dibuat wow keren juga. Ibadah mereka bukan persembahan kasih, tetapi investasi rohani untuk mendapatkan penghargaan. Mereka sedang bertransaksi curang dengan Tuhan — berpura-pura saleh demi keuntungan diri.
Ketika manusia menjadikan Tuhan sebagai mitra dagang spiritual, iman kehilangan kemurniannya. Doa berubah menjadi permintaan pesanan, bukan perjumpaan dengan Allah. Persembahan menjadi alat suap rohani, bukan wujud syukur. Bahkan pelayanan pun berubah menjadi panggung pencitraan. Kita mungkin masih menyebut nama Tuhan, tetapi isi hati kita sedang memperalat-Nya.
Tuhan Tidak Dapat Ditipu!
Alkitab mengingatkan, “Jangan sesat! Allah tidak dapat dipermainkan. Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7). Tuhan tidak bisa ditipu oleh liturgi yang megah, suara nyanyian yang merdu, atau persembahan yang banyak, jika hati kita tidak murni di hadapan-Nya.
Tuhan tidak mencari orang yang ingin menguntungkan diri, tetapi mereka yang mau kehilangan diri demi kasih kepada-Nya.
Ketika Yesus berkata, “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23), itu adalah panggilan untuk keluar dari mentalitas dagang rohani — meninggalkan pola pikir: aku memberi supaya aku diberkati.
Mari kita bertanya dengan jujur: apakah kita sedang beribadah, atau sedang berdagang dengan Tuhan?
Hati yang tulus tidak menghitung untung rugi dalam beriman. Orang yang benar-benar mengenal Tuhan akan berkata seperti Ayub,
Ayub 13:15 (TB) Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela perilakuku di hadapan-Nya.
TERJEMAHAN VERSI MUDAH DIBACA
“Sekalipun Ia membunuh aku, namun aku akan berharap kepada-Nya” (Ayub 13:15).
Ayub menyatakan bahwa meski hidupnya terasa seperti dihancurkan dan harapan seakan hilang, ia tetap memilih datang kepada Tuhan dan mempertahankan integritasnya.
Ia tidak menyerah pada keputusasaan dan tidak meninggalkan Tuhan. Ayat ini menegaskan iman yang tetap tegak di tengah penderitaan, iman yang tetap setia walau seluruh keadaan berkata sebaliknya.
Kasih kepada Tuhan bukanlah transaksi, melainkan totalitas penyerahan diri. Iman yang sejati tidak menipu Tuhan dengan kesalehan palsu, tetapi menyerahkan seluruh hidup tanpa syarat.
“Datang ke gereja untuk menipu Tuhan”
Artinya: seseorang hadir secara lahiriah, tetapi hatinya sedang bertransaksi. Ia tampak menyembah, tetapi sebenarnya sedang memperalat Tuhan. Ia berdoa supaya ambisinya berhasil. Ia memberi supaya dibalas berlipat. Ia melayani supaya dipuji. Inilah mentalitas dagang rohani: seolah-olah Tuhan bisa ditipu dengan aktivitas religius.