Rabu, 04 Maret 2026

SIAPA YANG MELINDUNGI DOMBA DARI SERIGALA BERJUBAH PENDETA?

Banyak gereja mengajarkan kita untuk waspada terhadap “serigala di luar kawanan.” Dan itu benar. Alkitab sendiri memperingatkan tentang serigala yang datang dari luar (Kisah 20:29). Tetapi Paulus juga berkata sesuatu yang lebih mengganggu: “Dari antara kamu sendiri akan muncul orang-orang…” (Kisah 20:30). Artinya ancaman bukan hanya eksternal. Ia bisa lahir dari dalam. Dari orang yang memegang tongkat gembala.

Yesus memperingatkan tentang “serigala berbulu domba” (Matius 7:15). Ironisnya, dalam praktik gereja modern, sering kali yang lebih sulit dikenali bukanlah domba berbulu serigala, melainkan serigala yang memegang jabatan gembala. Penyalahgunaan rohani jarang dimulai dengan kejahatan yang jelas. Ia dimulai dengan kepercayaan. Dengan otoritas yang tidak dipertanyakan. Dengan teologi yang dipakai untuk membungkam: “Jangan sentuh orang yang diurapi.” “Tunduklah tanpa syarat.” “Mengkritik pemimpin sama dengan memberontak kepada Tuhan.”

Di sinilah penyimpangannya.

Secara alkitabiah, otoritas rohani bukanlah kekuasaan absolut. Dalam 1 Petrus 5:2–3, para penatua diperintahkan untuk menggembalakan “bukan dengan memerintah secara sewenang-wenang atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi dengan menjadi teladan.” Kata Yunani katakurieuĊ (memerintah dengan keras, mendominasi) dipakai Yesus dalam Matius 20:25 untuk menggambarkan pola dunia — dan Ia dengan tegas berkata, “Tidaklah demikian di antara kamu.” Jika kepemimpinan gereja menyerupai sistem kontrol dunia lebih daripada pola salib Kristus, ada yang salah secara teologis, bukan hanya secara etis.

Penyalahgunaan rohani sering bersembunyi di balik bahasa rohani:

Ketaatan dijadikan alat kontrol.
Loyalitas diukur dari diamnya korban.
Kesatuan dijadikan alasan menutup kebenaran.
Pengampunan dipaksakan sebelum ada pertobatan.

Dan ketika korban bersuara, mereka dilabeli: pahit, pemberontak, tidak rohani. Padahal Mazmur penuh dengan teriakan korban ketidakadilan. Para nabi berbicara keras terhadap pemimpin yang menggembalakan diri sendiri (Yehezkiel 34). Tuhan sendiri berkata, “Celakalah para gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri!” Itu bukan bahasa pemberontakan. Itu bahasa keadilan ilahi.

Pertanyaan, “Siapa melindungi domba dari gembala?” bukanlah serangan terhadap Gereja. Itu adalah jeritan orang yang terluka di dalamnya. Itu bukan upaya meruntuhkan tubuh Kristus, melainkan usaha memanggilnya kembali kepada Kepala-Nya, yaitu Kristus.

Gereja yang sehat tidak takut pada akuntabilitas. Karena terang tidak takut diuji. Jika sebuah sistem lebih cepat melindungi reputasi pemimpin daripada keselamatan jemaat, itu bukan sekadar kegagalan manajemen — itu krisis eklesiologis. Gereja ada untuk mencerminkan karakter Kristus, Sang Gembala Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba (Yohanes 10:11). Jika seorang pemimpin justru mengorbankan domba demi mempertahankan dirinya, ia sedang berjalan berlawanan arah dengan Injil.

Akuntabilitas bukan ancaman bagi otoritas rohani. Justru itu bukti bahwa otoritas tersebut tunduk kepada Kristus. Gereja yang menolak mengoreksi gembala yang menyimpang sedang membiarkan racun menyebar di dalam tubuhnya sendiri.

Kita harus jujur, tidak semua yang memegang tongkat adalah gembala sejati. Dan tidak semua yang bersuara adalah pemberontak. Kadang mereka adalah domba yang terluka, yang masih percaya pada Tuhan, tetapi tidak lagi percaya pada sistem yang melindungi pelaku.

Jika gereja tidak memiliki keberanian untuk menegur dan menata ulang kepemimpinan yang menyimpang, ia sedang mengikis integritasnya sendiri. Tempat ibadah tidak otomatis menjadi tempat aman hanya karena ada mimbar dan liturgi. Kekudusan yang menutup mata terhadap ketidakadilan hanyalah citra saleh tanpa isi. Dan kesatuan yang dibangun di atas pembungkaman luka bukanlah damai sejahtera, melainkan kompromi terhadap kebenaran.

Salib Kristus bukanlah tameng untuk melindungi nama besar manusia. Salib adalah pernyataan bahwa Tuhan berpihak pada penebusan, bukan pada pencitraan. Ia menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan umat, bukan untuk menjaga wibawa struktur.

Karena itu, isu utamanya bukanlah keberanian jemaat untuk bertanya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah ini: apakah seorang pemimpin masih tunduk pada karakter dan jalan Sang Gembala Agung, atau ia sudah berjalan mengikuti ambisi dan kepentingannya sendiri?

Dan bila arah itu telah menyimpang, gereja yang sungguh mengasihi Kristus tidak boleh memilih diam. Kasih yang sejati kadang diwujudkan bukan dengan melindungi, tetapi dengan menghentikan. Bukan dengan menutup-nutupi, tetapi dengan membersihkan. Di titik itulah gereja membuktikan bahwa ia lebih setia kepada Tuhan daripada kepada figur manusia.

SIAPA YANG MELINDUNGI DOMBA DARI SERIGALA BERJUBAH PENDETA? Banyak gereja mengajarkan kita untuk waspada terhadap “serigala di l...