PENGANTAR
Iman yang hidup di gereja harus lebih dulu nyata di rumah (ekklesia domestica); sebab keluarga adalah mimbar pertama tempat Injil diberitakan melalui hidup, bukan sekadar kata.”
KELUARGA dalam perspektif Alkitab bukan sekadar unit sosial, tetapi ruang perjanjian yang dibentuk Allah sendiri. Kejadian 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Kata “bersatu” berasal dari bahasa Ibrani dabaq yang berarti melekat erat, seperti ikatan yang tidak mudah dipisahkan. Ini menunjukkan bahwa keluarga bukan relasi sementara, melainkan komitmen yang bersifat mendalam dan permanen. Di tengah dunia yang cair dan mudah berubah, konsep dabaq menegur kita: keluarga dipanggil untuk setia, bukan sekadar nyaman. Dan, cukup aneh dalam zaman patriarki dari penulis kitab, dikatakan seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, seharusnya bila sesuai zamannya, metode patriake, itu wanita yang meninggalkan ayah ibunya ikut suami, tidak bisa disangkal ini adalah sastra simbolik yg menggambarkan hubungan Allah dan umatnya, bahkan ini simbolisasi kesetiaan Allah pada umatNya, ini cermin dari ekklesia domestica (gereja keluarga).
PEMAHAMAN
KASIH menjadi fondasi utama keluarga. Perjanjian Baru memakai kata Yunani agapē dalam Efesus 5:25: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Agapē adalah kasih yang rela berkorban, bukan emosional semata. Maka, keluarga Kristen bukan dibangun di atas perasaan yang naik turun, tetapi pada keputusan untuk terus memberi diri, bahkan keputusan untuk mengorbankan diri, membanting harga diri bila perlu. Di sinilah keluarga menjadi tempat pembentukan karakter, bukan hanya tempat mencari penerimaan, tidak ada tempat untuk ego.
Peran dalam keluarga juga memiliki dimensi teologis. Efesus 5:23: “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Kata “kepala” berasal dari Yunani kephalē, yang bukan sekadar menunjuk otoritas, tetapi sumber dan tanggung jawab, bukan perkara materi tetapi perkara keteladanan dan hikmat pengajaran. Kepemimpinan dalam keluarga bukan dominasi, melainkan pengorbanan seperti Kristus terhadap jemaat. Ini menantang pola patriarki yang salah arah, bahwa menjadi pemimpin berarti melayani (Iyah ..... Makna pelayanan itu dalam Alkitab selalu seiring sejalan dengan pengorbanan, bahkan mengkorbankan diri, makanya saya tidak pernah sreg bahwa karya dalam gereja, berkhotbah, menyanyi, dlsb terus disebut sebagai pelayanan) bukan menguasai.
Akhirnya, keluarga adalah ruang PEMURIDAN. Ulangan 6:6–7: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Kata Ibrani shanān berarti “menajamkan” atau “mengasah terus-menerus”. Iman tidak diwariskan secara otomatis, tetapi dibentuk melalui disiplin rohani yang konsisten di dalam keluarga.
Maka, keluarga bukan hanya tempat tinggal bersama, tetapi tempat iman diasah, diuji, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
“Iman yang hidup di gereja harus lebih dulu nyata di rumah; sebab keluarga adalah mimbar pertama tempat Injil diberitakan melalui hidup, bukan sekadar kata.”