Kamis, 12 Maret 2026

Sudut Pandang Kristus di tengah hidup manusia (suatu sudut pandang puritan)

Sudut Pandang Kristus di tengah hidup manusia (suatu sudut pandang puritan)

PENGANTAR 
Puritan adalah istilah yang merujuk pada kelompok Kristen Protestan yang muncul di Inggris pada abad ke-16 dan ke-17. Mereka ingin "memurnikan" gereja Anglican dari pengaruh Katolik Roma dan mengembalikan kesederhanaan dan kemurnian iman Kristen awal.
Dalam arti yang lebih luas, "puritan" juga dapat merujuk pada seseorang yang memiliki moral yang sangat ketat, sederhana, dan disiplin, seringkali dengan penekanan pada kesederhanaan dan penolakan terhadap kemewahan. Teolog puritan adalah teolog yang terkait dengan gerakan Puritan, yang menekankan pada kesederhanaan, kemurnian, dan disiplin dalam iman Kristen. Beberapa teolog puritan terkenal adalah:

- John Owen
- Richard Baxter
- Thomas Watson
- Jonathan Edwards

Mereka menulis banyak tentang teologi, spiritualitas, dan kehidupan Kristen, dan banyak karya mereka masih dipelajari dan dihargai hingga hari ini. 

PEMAHAMAN 
John Owen, seorang teolog Puritan besar abad ke-17, bukan hanya menulis tentang penderitaan secara teoritis. Ia menulisnya dengan air mata yang nyata. Ia lahir tahun 1616 di Inggris dan dikenal sebagai pemikir yang sangat tajam, bahkan menulis jutaan kata tentang teologi, kekudusan, dan persekutuan dengan Kristus. Namun di balik reputasi intelektual itu, hidupnya dipenuhi luka yang sangat dalam. Ia menikah dengan Mary Rooke pada tahun 1644 dan mereka memiliki sebelas anak. Tragisnya, sepuluh anaknya meninggal ketika masih bayi, dan satu anak yang bertahan hidup pun akhirnya meninggal ketika sudah remaja.

Kita bisa bayangkan suasananya: rumah yang berkali-kali dipenuhi tangisan bayi yang lahir, lalu berkali-kali juga dipenuhi keheningan setelah kematian. Setiap kali seorang anak meninggal, Owen harus menggali kubur kecil lagi. Tidak sekali. Tidak dua kali. Tetapi sepuluh kali. Kita sering membaca teologi Puritan seolah-olah itu hanya karya akademik yang kering, padahal sebagian besar ditulis di tengah lembah dukacita. Kehidupan Owen benar-benar berjalan melalui apa yang Mazmur sebut “lembah kekelaman.”

Namun yang mengejutkan adalah respons rohaninya. Dalam salah satu refleksinya ia menulis kalimat yang sangat kuat:

“Bagi mereka yang bagi mereka Kristus adalah pengharapan kemuliaan di masa depan, Dia juga adalah kehidupan yang penuh anugerah pada saat ini.”

Kalimat ini bukan optimisme murah. Ini teologi yang lahir dari kuburan anak-anaknya sendiri. Owen memahami sesuatu yang sering kita lupakan: Injil bukan hanya janji tentang surga nanti, tetapi juga kehidupan yang menopang kita sekarang.

Rasul Paulus menyatakan sesuatu yang sangat mirip dalam Kolose 1:27:
“Kristus di tengah-tengah kamu, pengharapan akan kemuliaan.”

Perhatikan dua dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Pertama, Kristus adalah pengharapan kemuliaan di masa depan. Kata “pengharapan” dalam bahasa Yunani elpis bukan sekadar harapan samar seperti “semoga.” Itu menunjuk pada kepastian yang menunggu penggenapan. Orang percaya tidak memandang masa depan dengan ketidakpastian eksistensial, tetapi dengan keyakinan bahwa kemuliaan Allah menanti.

Tetapi Owen menambahkan dimensi kedua: Kristus adalah kehidupan anugerah sekarang. Dalam Yohanes 1:16 dikatakan, “dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” Artinya, Kristus bukan hanya tujuan akhir perjalanan iman, Ia juga sumber kekuatan di sepanjang perjalanan itu.

Di sinilah sering terjadi kesalahan dalam spiritualitas modern. Banyak orang Kristen hanya melihat Kristus sebagai tiket menuju surga, tetapi lupa bahwa Kristus juga adalah kekuatan untuk bertahan di dunia yang retak ini. Owen tidak punya kemewahan untuk berteologi secara dangkal. Ketika satu demi satu anaknya meninggal, ia tidak bisa berkata, “suatu hari nanti semuanya akan baik-baik saja,” tanpa mengalami Kristus sebagai penghiburan yang nyata sekarang.

Mazmur 34:19 berkata:
“Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.”

Perhatikan: Alkitab tidak mengatakan kemalangan orang benar sedikit. Justru “banyak”. Kekristenan tidak menjanjikan hidup bebas penderitaan. Tetapi Injil menyatakan sesuatu yang lebih dalam: Kristus hadir di tengah penderitaan itu.

John Owen mengerti bahwa penderitaan tidak selalu dijelaskan oleh Allah, tetapi penderitaan selalu ditemani oleh Allah. Itu sebabnya ia tetap menulis buku-buku yang sangat mendalam tentang persekutuan dengan Tuhan, tentang mematikan dosa, tentang kemuliaan Kristus. Dari luar mungkin tampak seperti karya teologi besar. Dari dalam sebenarnya itu adalah seorang ayah yang hancur yang terus berpegang pada Kristus.

Di titik inilah renungan ini menjadi sangat pribadi bagi kita. Ketika hidup berjalan baik, mudah berkata “Kristus adalah segalanya.” Tetapi ketika kehilangan datang (penyakit, kematian, kegagalan) barulah terlihat apakah Kristus benar-benar menjadi hidup kita sekarang atau hanya doktrin di kepala kita.

John Owen mengajarkan satu kebenaran sederhana tetapi sangat dalam:
Jika Kristus hanya berarti bagi kita di masa depan, iman kita akan runtuh ketika penderitaan datang.
Tetapi jika Kristus adalah hidup kita sekarang, maka bahkan di tengah kehilangan terbesar sekalipun, kita masih memiliki sesuatu yang tidak bisa dirampas oleh kematian.

Karena pada akhirnya, penderitaan tidak memiliki kata terakhir. Kristus yang sama yang menopang kita sekarang adalah Kristus yang akan membawa kita kepada kemuliaan.

Dan di sanalah semua air mata, termasuk air mata seorang ayah yang kehilangan sepuluh anak, akan akhirnya dijawab oleh Allah sendiri (Wahyu 21:4).

Sudut Pandang Kristus di tengah hidup manusia (suatu sudut pandang puritan)

Sudut Pandang Kristus di tengah hidup manusia (suatu sudut pandang puritan) PENGANTAR  Puritan adalah istilah yang merujuk pada ...