Minggu, 15 Maret 2026

SUDUT PANDANG TENTANG KONTRADIKSI CARA MATI YUDAS

SUDUT PANDANG TENTANG KONTRADIKSI CARA MATI YUDAS

PENGANTAR
Perihal isi Alkitab Injil Matius dan Kisah Para Rasul. Di sini ada  hal perbedaan, yaitu
tentang kematian Yudas yang mengkhianati Tuhan Yesus. Dalam Matius 27:5 disebutkan bahwa Yudas mati dengan cara gantung diri. Sementara, Kisah Para Rasul 1:18-20 menyebutkan bahwa kematian Yudas adalah disebabkan karena jatuh tertelungkup dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya keluar.


PEMAHAMAN
Kecuali surat-surat (dan barangkali juga Wahyu), kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru bukanlah laporan langsung terhadap peristiwa yang sedang berlangsung. Sebaliknya, yang dilaporkan adalah hal-hal (perkataan dan peristiwa) yang telah terjadi berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Sebelum dituangkan secara tertulis, informasi tentang hal-hal tersebut telah beredar secara lisan di kalangan warga komunitas kristiani awal. Tentu saja, sumber informasi tersebut adalah para saksi mata. Akan tetapi, tidak semua orang beruntung bisa bertemu langsung dengan saksi mata. Kebanyakan malah hanya bisa mewarisi informasi tersebut
dari pihak kedua, ketiga, dan seterusnya. Ini bisa dipahami kalau kita
mengingat bahwa ketika itu kekristenan sudah ada di mana-mana di Asia Kecil dan karenanya komunitas kristiani sudah menyebar luas. Sementara itu, informasi tersebut belum tentu juga memuat rincian
dari setiap peristiwa dengan sangat terurai. Kebanyakan malah hanya disampaikan secara umum. Selain, informasi yang berkembang di satu tempat belum tentu searah dengan yang ada di tempat lainnya Ini sangat wajar dan umum ditemukan dalam setiap sejarah manusia. Demikian halnya juga dengan informasi tentang peristiwa kematian Yudas. Yang umum di sini adalah kematiannya terjadi secara tragis, intinya itu. Bagaimana tragedi tersebut secara terperinci, datanya tidak tersedia. Sementara itu, penulis Injil Matius dan Kitab Kisah Para Rasul merasa berkepentingan untuk mewariskan rincian peristiwa tragis ini, terkait paham teologi yang ada dibenak penulis Injil Matius maupun Kisah Para Rasul. Rupanya, masing-masing penulis mencoba mewariskan rincian peristiwa tersebut dengan bantuan kisah-kisah yang mirip dalam Perjanjian
Lama, untuk secara sastra membawa gambaran akan hal itu. Dalam Matius 27:5 kematian Yudas (gantung diri) sejajar dengan
kematiarn Ahitofel (penasihat Daud yang membelot dan membela
Absalom) yang juga mati dengan cara menggantungkan dirinya (2Sam. 17:23). Ahitofel mengkhianati Daud, Yudas mengkhianati Yesus, Anak Daud. Intinya sama: Dua-duanya adalah "pembelot/pengkhianat" (menyeberang ke pihak "lawan'") dan dua-duanya mati gantung diri. Secara sastra itu penggambaran konsekuensi melawan orang yang diurapi Allah, di sini Raja, baik Daud maupun Yesus, berarti melawan dan di sisi berlawanan dg Allah, konsekuensinya mati mengenaskan. Sementara, penulis Kisah Para Rasul 1:18-19 mensejajarkan detail kematian tragis Yudas dengan kematian raja kafir
Antiokhus Epifanes IV (2 Mak. 9:7-12), kafir adalah paham zaman itu tentang menentang Allah, berseberangan dengan Allah. Jadi, detail informasi yang diberikan oleh kedua penulis ini memang bukan sebuah laporan sejarah, melainkan sebuah catatan iman, refleksi teologi dari penulisnya. Yang pasti, kita tidak perlu mnempertanyakan mana yang benar dari kedua informasi tersebut. Yang justru lebih menarik adalah bahwa keduanya menggambarkan dengan caranya masing-masing bahwa kematian itu telah terjadi secara tidak wajar. Variasi keterangan tersebut justru menolong kita sekarang ini untuk memahami tentang
bagaimarna peristiwa kematian Yudas tersebut dipahami oleh komunitas-komunitas kristiani mula-mula dan dipergunakan sebagai bahan untuk membina iman dan moral warga jermaat zaman itu. Kisah Yudas berbeda antara Matius dan Kisah Para Rasul. Secara sastra ini memang dua tulisan berbeda tidak dalam papirus atau codex yang sama, sehingga memang tidak perlu diharmonisasi, tidak perlu diseiring sejajarkan, tetapi secara sastra bisa dijembatani nalarnya, apa Alkitab kontradiksi? Iya .... karena penulis yang satu, berbeda paham teologi atau kesaksian imannya dengan penulis yang lain, sudut pandangnya beda, walaupun obyeknya sama, itulah sastra. Kita lihat dulu datanya, Matius mencatat: Yudas menyesal, mengembalikan 30 keping perak, lalu "pergi dan menggantung diri" (Matius 27:5). Uang itu kemudian dipakai imam-imam membeli tanah tukang periuk yang disebut Tanah Darah (Mat. 27:6-8). Namun jika kita lihat dalam Kisah Para Rasul tertulis bahwa Yudas memperoleh sebidang tanah, lalu "jatuh tertelungkup, tubuhnya terbelah dua dan isi perutnya tertumpah keluar" (Kis. 1:18-19). Sekilas tampak berbeda, dan memang beda. Tetapi perhatikan lebih detail: Matius menjelaskan penyebab kematian: Yudas
menggantung diri. Kisah Para Rasul menjelaskan
keadaan tubuhnya kemudian: tubuhnya jatuh dan hancur. Ini bukan sastra kontradiksi yg tidak dapat dijembatani nalarnya, tetapi dua tahap dari peristiwa
yang sama. Banyak ahli biblika telah menjelaskan: Yudas menggantung
diri di area berbatu di lembah Hinom dekat
Yerusalem. Setelah beberapa waktu, tali atau cabang pohon putus, karena tidak kuat menahan beban, bisa banyak faktor lain, tubuhnya jatuh ke lereng batu yang Curam lalu pecah ketika menghantam tanah.
Topografi Yerusalem memang penuh tebing batu curam. Josephus, sejarawan Yahudi abad pertama, juga mencatat banyak kasus kematian jatuh dari tebing di daerah itu. Hal lain yang sering disalahpahami: Kisah Para Rasul menyebut Yudas "memperoleh tanah". Ini bukan berarti ia membeli langsung. Dalam hukum Yahudi kuno, tanah yang dibeli dengan uang seseorang tetap bisa disebut miliknya secara hukum, meskipun transaksi dilakukan pihak lain. Dalam kasus ini, imam-imam membeli tanah itu dengan uang Yudas (Mat. 27:7).
Jadi, soal kronologi kematiannya adalah:
Yudas menggantung diri + tubuhnya jatuh +
tubuhnya pecah + tanah itu dikenal sebagai Tanah
Darah. Dua penulis, Dua fokus berbeda, intinya sama kematian tragis menentang orang yang diurapi Allah, penulis Injil Matius dan Kisah Para Rasul ada kemiripan latar belakang, sama-sama berhadapan dg orang yang Yahudi yang menentang kemesiasan Yesus, Satu peristiwa yang sama, melatar belakangi penulisan yang berbeda. Ini contoh klasik bagaimana tuduhan "kontradiksi
Alkitab" sering muncul bukan karena teksnya
bermasalah, tetapi karena cara membaca yang salah
tanpa melihat konteks, bahasa, sastra dan cara penulis kuno menyusun tulisan. Iman yang sehat tidak takut diuji. Justru pengujian sering memperlihatkan bahwa teks Alkitab lebih kokoh daripada yang disangka.

(15032026)(TUS)

SUDUT PANDANG TENTANG KONTRADIKSI CARA MATI YUDAS

SUDUT PANDANG TENTANG KONTRADIKSI CARA MATI YUDAS PENGANTAR Perihal isi Alkitab Injil Matius dan Kisah Para Rasul. Di sini ada  ...