OLEH GEREJA MASA KINI, Kecerdasan yang bodoh.
PENGANTAR
Beberapa gereja dengan denominasi tertentu, saya perhatikan di youtube dan podcast rohani sering memelintir (MANIPULASI = Manipu - lasi ayat alkitab) ayat di bawah ini dalam tafsirnya :
1 Korintus 2:9 (TB)
“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” di YouTube atau podcast rohani gereja denominasi tertentu, ini sudah bukan lagi tafsir yang argumentasinya lemah, tetapi tanpa argumentasi dan sarat kepentingan. Saya selalu mengatakan tidak ada tafsir yang salah apalagi benar, yang ada tafsir yang dapat dipertanggung jawabkan atau tidak? Dipertanggung jawabkan dengan apa? dengan argumentasi yang bernalar. Repot lagi itu kemauan belajar nya minim ditambah antikritik dan menulikan diri tambah membutakan diri, ini ..... Makan nasi 5 ceting plus krupuk, gorengan, dan karak, bahasa elite nya disebut Kecerdasan yang Bodoh atau conscientious stupidity, akal sehat yang cacat, akal sehat ala fundamentalis.
PEMAHAMAN
Gereja masa kini sedang menghadapi krisis yang lebih berbahaya daripada sekadar dosa moral—yaitu penyimpangan makna firman. Ayat yang seharusnya mengungkapkan kedalaman Allah kini diperdagangkan sebagai janji keuntungan. Mimbar yang dahulu menjadi tempat pewahyuan dan belajar keteladanan Kristus serta hikmat pengajaran Kristus, perlahan berubah menjadi panggung harapan instan. Firman tidak lagi mengguncang hati, tetapi dipoles agar menyenangkan telinga umat.
1 Korintus 2:9 adalah salah satu korban paling nyata. Kalimat yang lahir dari kedalaman wahyu kini dipermainkan menjadi slogan rohani: “Tuhan akan memberi berkat yang tidak pernah kamu bayangkan.” kata pimpinan suatu gereja di YouTube atau podcast. Kalimat ini terdengar indah, tetapi sesungguhnya sedang menipu arah iman. Jemaat diajar menunggu kejutan materi, bukan mencari kedalaman Allah. Rasul Paulus tidak pernah menulis ayat ini untuk membangkitkan ekspektasi finansial. Ia justru sedang menghancurkan kesombongan manusia yang merasa mampu memahami Allah dengan akal dan pengalaman. Paulus tidak mengangkat ambisi manusia—ia meruntuhkannya. Ia menegaskan bahwa mata, telinga, dan hati manusia memiliki batas. Realitas Allah tidak bisa dijangkau oleh kemampuan manusia mana pun. Namun di tangan gereja modern plus fundamentalis, ayat ini justru dipelintir menjadi bahan bakar ambisi. Firman yang seharusnya menyalibkan keinginan daging kini dipakai untuk menghidupkannya kembali. Ini bukan sekadar kesalahan tafsir—ini adalah pengkhianatan terhadap maksud firman.
Lebih parah lagi, banyak mimbar dengan sengaja berhenti di ayat 9 dan mengabaikan kelanjutannya. Padahal firman dengan jelas berkata bahwa semua itu telah dinyatakan oleh Roh Kudus. Artinya, fokusnya bukan pada sesuatu yang belum terlihat secara materi, tetapi pada sesuatu yang sudah dibukakan secara rohani. Ketika bagian ini dihilangkan, jemaat dibiarkan hidup dalam ekspektasi kosong yang terus ditunda dan tidak pernah digenapi seperti yang dibayangkan. Gereja yang terus mengajarkan pola ini sedang membentuk generasi yang tidak tahan terhadap kebenaran, tetapi haus akan sensasi. Jemaat tidak lagi bertanya, “Apa yang Tuhan nyatakan?” melainkan, “Apa yang akan saya dapat?” Dari sinilah lahir iman yang rapuh—iman yang hanya bertahan selama ada janji berkat, tetapi runtuh saat realita tidak sesuai harapan.
Masalahnya bukan pada ayatnya, tetapi pada hati yang menafsirkan. Selama gereja lebih tertarik menarik massa umat daripada membangun kedewasaan rohani, firman akan terus dipelintir agar cocok dengan selera manusia. Selama berkat dijadikan pusat, maka Kristus akan digeser menjadi alat, bukan tujuan. Saat seperti Inilah, saatnya gereja bertobat. Firman Tuhan tidak membutuhkan tambahan janji manusia agar terlihat menarik. Kebenaran tidak perlu dipoles untuk bisa diterima. Justru ketika firman diberitakan apa adanya, di situlah Roh Kudus bekerja dengan kuasa yang sejati. 1 Korintus 2:9 bukan janji tentang uang, bukan tentang berkat dobel porsi. Ayat ini adalah tamparan bagi kesombongan manusia dan undangan untuk masuk ke dalam realitas rohani dan rahasia keselamatan yang hanya bisa dibuka oleh Roh Allah. Jika ayat ini terus digunakan untuk menjanjikan kekayaan, maka gereja sedang tidak hanya keliru—gereja sedang menyesatkan.
Ketika mimbar menjanjikan uang dengan ayat, itu bukan pewahyuan, bukan pembelajaran akan teladan Kristus, dan bukan menghikmati pengajaran Yesus, itulah bukan pengenangan akan Kristus—maka itu perdagangan.
Akal sehat ala fundamentalis adalah kecerdasan yang bodoh. Pemelintiran ayat alkitab tanpa jembatan argumentasi yang memadai adalah kecerdasan yang bodoh, kecerdasan yang cacat, akal sehat yang tolol. Ini seperti kasus negara kita yg baru saja ramai di medsos pagi tadi, tentang kedaulatan pangan yang digagas budiman sudjatmiko, Kita jadi ingat gagasan Martin Luther King Jr atau MLK. Bila MLK menonton video itu, mungkin ia akan tersenyum getir lalu berkata: “Inilah yang saya maksudkan dengan conscientious stupidity,' yaitu kebodohan yang dipelihara dengan penuh kesadaran. Ia seperti pohon besar yang dipangkas habis agar terkesan bonsai dan terlihat kecil. Agar lebih jelas makna conscientious stupidity, saya berikan beberapa contoh. Bayangkan seseorang yang tahu kompor di rumahnya bocor, gas tercium ke mana-mana, tapi ia berkata, “Tenang, yang penting kita tetap bisa masak.” Atau seseorang yang melihat atap rumahnya bocor saat hujan, tetapi memilih menutup telinga sambil berkata, “Yang penting kita punya rumah.” Seseorang yang menerapkan conscientious stupidity tahu bahwa ada masalah besar, tetapi dia dengan sengaja bukan saja memilih mengabaikannya, tetapi juga berupaya meyakinkan yang lain seolah tak ada masalah.
Food Estate, Dalam program food estate, kebodohan tampil dalam bentuk yang lebih megah. Hutan ditebang, biodiversitas dimusnahkan, plus masyarakat adat di Papua, di Kalimantan, dan di daerah lainnya dipinggirkan. Semua itu dibungkus dalam satu kalimat sakral yang dinarasikan: “kedaulatan pangan.” Seolah-olah oksigen bisa digantikan dengan beras, dan hutan bisa disubstitusi dengan presentasi PowerPoint. Di titik ini, “akal sehat” berubah menjadi semacam mantra: diucapkan berulang-ulang sampai orang lupa bertanya, sehat menurut siapa? Sebab jika akal sehat berarti mengorbankan ekosistem dan masyarakat lokal demi proyek ambisius, maka mungkin yang sedang kita rayakan bukan akal sehat, melainkan akal yang sedang sakit tetapi menolak berobat.
Yang lebih ironis, Budiman Sudjatmiko, yang dulu dikenal sebagai aktivis kritis, kini terdengar seperti ideolog dan juru bicara yang terlalu fasih untuk bertanya. Ia tidak lagi berdiri sebagai pengingat kekuasaan, melainkan sebagai penguatnya. Dalam bahasa sederhana: bukan lagi orang yang menyalakan lampu, tetapi yang membantu meredupkan cahaya agar masalah tidak terlalu terlihat. MLK pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah orang jahat, tetapi orang baik yang memilih diam atau, lebih buruk lagi, memilih untuk tidak melihat. Dalam konteks ini, conscientious stupidity bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi kegagalan moral. Sebab ia melibatkan pilihan. Ya, pilihan untuk menyederhanakan, mengabaikan, dan pada akhirnya membenarkan, ini sering terjadi di gereja yang pimpinan gerejanya antikritik, menulikan diri, dan membutakan diri, tidak mau mendengar umat serta tebang pilih. Jadi, jika dunia memang tidak baik-baik saja, mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan “akal sehat,” tetapi karena terlalu banyak orang yang dengan sadar memelihara kebodohan, lalu menamainya kebijaksanaan.
(28032026)(TUS)