PENGANTAR
Di luar sana, keadaan tidak sedang baik-baik saja. Kontekstual keadaan kekinian Orang atau umat bergumul dengan ekonomi yang makin menekan, kemungkinan ekonomi memburuk di hari depan, blom lagi kemungkinan bencana kekeringan, akibat perang yg lama kemungkinan harga bensin/minyak bumi/bahan bakar akan naik gila-gilaan bahkan krisis bahan bakar (tapi hampir tidak menemukan gereja yg mengajak umat irit bahan bakar tapi kalau gereja yang mengajak mematikan listrik dalam masa tertentu ada, bahkan banyak). Ketidakadilan terasa nyata. Konflik sosial muncul di mana-mana. Di belahan dunia lain, perang terus berlangsung—orang kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan. Hidup mereka bukan lagi soal “naik level”, tapi sekadar bertahan hidup hari ini.
PEMAHAMAN
Lalu kita masuk ke dalam gereja.
Lampu bagus. Musik megah. Tema tetap optimis:
“hidupmu pasti naik level,”
“ini musim berkat,”
“tahun kemenangan.”
"ayo ..... makan, ayo perjamuan kasih"
Tidak salah bersyukur. Tidak salah berharap. Tapi kalau gereja setiap minggu nadanya selalu sama, naik, menang, berhasil, tanpa ruang untuk ratapan, pergumulan, dan kejujuran… itu bukan iman yang sehat. Itu lebih mirip pelarian rohani yang dikemas rapi.
Dunia di sekitar kita sedang “berdarah-darah”, "gereja kadang sibuk “ganti lighting panggung”, "ngecat tembok", "ganti pagar", dlsb.
bahkan ada gereja di Indonesia yang terkenal dengan LED terbesar dan lightingnya yang keren! Bahkan gedung termegah, ada gereja yang memiliki ruang musik orkestra termegah, dlsb.
Seolah-olah pesan yang tidak terucap adalah:
“Ya, dunia memang kacau… tapi jangan bawa itu ke sini, jangan bawa ke gereja. Kita tetap harus happy, di gereja adanya cuman seneng.”
"Dunia boleh resesi, anak Tuhan tetap resepsi." Harus dimengerti, kita bicara gereja, kita bicara persekutuan, bukan membicarakan orang per orang. Kita membicarakan orang-orang yg dikhususkan oleh Tuhan, dalam sebuah persekutuan yang disebut gereja. Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang steril dari penderitaan.
Justru sebaliknya:
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Roma 12:15).
Perhatikan: bukan pilih salah satu.Bukan cuma sukacita tanpa air mata. Tapi keduanya—karena itu mencerminkan hati Kristus.
Yesus tidak pernah memilih hidup nyaman yang terisolasi dari kenyataan.
Saat Ia melihat orang lapar, hati-Nya langsung merespons.
Saat Ia berjumpa dengan penderitaan, belas kasihan-Nya mengalir tanpa ditahan.
Dan ketika Ia memandang kota yang keras hati, Ia tidak menghakimi dari jauh—Ia justru menangisinya (Lukas 19:41).
Bandingkan dengan kita, sering sebagai sebuah gereja sering tidak peduli lingkungan kita. Kita kadang gak ngerti ada umat kita yg kesulitan dapat makan, dimana umat ini bukan orang yg dikenal bahkan aktif di gereja tetapi anggota gereja. Kita gak jeli melihat umat kita sendiri, kita cuman bangga duduk di kursi pimpinan gereja tapi gak ngerti siapa umat kita, yg penting saban hari Minggu keliatan mentereng.
Masalahnya bukan pada perayaan, dan perkara dana habis untuk makanan atau perjamuan kasih dan progam wooowww keren lainnya tapi pada ketidakseimbangan.Kalau gereja hanya merayakan tanpa pernah meratap,
maka kita kehilangan kepekaan. Kalau kita hanya bicara berkat tanpa pernah bicara penderitaan, maka kita kehilangan kedalaman.
Iman seperti itu akhirnya dangkal, ceria di permukaan, tapi kosong di dalam. Cerdas tapi bodoh. Lebih jauh lagi, ini berbahaya secara teologis. Karena tanpa sadar kita sedang membentuk gambaran Allah yang tidak utuh: Allah yang hanya memberi berkat, tapi tidak hadir dalam penderitaan. Padahal Alkitab menyatakan:
“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati” (Mazmur 34:19).
Artinya, Allah tidak alergi terhadap luka.
Tapi justru sering kali, Ia paling nyata di tengah luka itu.
Jadi kalau gereja menghindari realita dunia yang pahit,kita bukan sedang menjaga iman
kita sedang menjauhkan diri dari tempat di mana Allah sedang bekerja.
Iman Kristen yang sejati bukan iman yang selalu tersenyum, tapi iman yang cukup jujur untuk menangis…
dan cukup teguh untuk tetap berharap di tengah tangisan itu.
(27032026)(TUS)