Jumat, 27 Maret 2026

SUDUT PANDANG REFLEKSI PERANG, Ketika Bumi Ikut Disalibkan

SUDUT PANDANG REFLEKSI PERANG, Ketika Bumi Ikut Disalibkan

PENGANTAR
Persoalan ekologi sebagai dampak dari perang di Timur Tengah maupun perang Rusia–Ukraina tampaknya belum cukup dibahas. Kita sibuk menghitung korban manusia, menghitung kerugian ekonomi, dan menghitung siapa menang siapa kalah, tetapi jarang sekali kita bertanya: berapa banyak tanah yang mati, berapa laut yang tercekik, dan berapa udara yang menjadi racun? Bumi yang tak berdosa ikut tersalibkan. Nah, tulisan ini mencoba menelisiknya, meski mungkin bumi sendiri sudah letih merintih. Dunia pernah jungkir balik ketika pandemi Covid datang seperti tamu tak diundang yang masuk rumah tanpa mengetuk pintu. Banyak orang panik, ekonomi terengah-engah, dan suasana global terasa seperti ayam kampung yang ketahuan mencuri nasi lalu dikejar warga satu RT. Anehnya, di tengah kekacauan itu, tidak semua orang kehabisan akal. Sebagian orang justru menemukan celah, kecil tapi nyata, seperti air hujan yang tetap bisa merembes lewat tembok beton yang katanya sudah diplester rapat oleh tukang paling mahal di kompleks.


PEMAHAMAN
Menurut laporan The Guardian (21 Maret 2026), konflik di Timur Tengah bukan hanya soal misil dan geopolitik, tetapi juga soal emisi karbon dalam skala industrial. Ironisnya, ketika dunia berkhotbah tentang pengurangan emisi, matikan listrik, perang justru menjadi “industri kilat” yang menghasilkan jutaan ton CO₂ dalam waktu singkat. Seolah-olah bumi diberi bonus asap gratis, tanpa perlu konferensi iklim, tanpa perlu kesepakatan Paris. Perang adalah COP (Conference of Polluters) paling efektif yang pernah diciptakan manusia.
'Alam pun Menjerit* 
Walter Leal Filho dalam kajiannya tentang perang Rusia–Ukraina menyebut lingkungan alam sebagai “korban pertama perang.” Alam raya menjerit! Lingkungan alam bukan hanya korban pertama, tetapi juga korban yang paling setia. Ia tetap menderita lama setelah perang selesai dan para pemimpin dunia kembali berjabat tangan di panggung diplomasi. Tanah yang tercemar logam berat tidak bisa ikut menandatangani perjanjian damai. Sungai yang diracuni tidak bisa hadir dalam konferensi rekonstruksi.
Dalam perang modern, peluru tidak hanya menembus tubuh manusia, tetapi juga menembus lapisan tanah, merusak mikroorganisme, dan mengganggu keseimbangan ekosistem yang dibangun selama ribuan tahun. Tank tidak hanya melindas musuh, tetapi juga melindas masa depan biodiversitas. Dan ranjau darat, yang ditanam di hampir 25% wilayah Ukraina, adalah bentuk humor gelap manusia: hadiah kejutan yang tetap membunuh bahkan ketika perang sudah usai. Lebih tragis, ekosistem tidak punya kewarganegaraan. Lumba-lumba di Laut Hitam tidak tahu apakah mereka berada di pihak Ukraina atau Rusia. Tiba-tiba, mereka 'shock berat' saat sonar militer mengacaukan navigasi mereka.  Lalu, laut yang dulu rumah kini menjadi kuburan. Udara di Timur Tengah tidak memilih ideologi, tetapi  dipaksa menghitam, lalu semua makhluk hidup menghirup hasil bakaran konflik manusia.
Namun barangkali ironisnya justru di sini: kita hidup di zaman ketika manusia mengklaim diri sebagai makhluk paling rasional, tetapi manusialah satu-satunya spesies yang mampu menghancurkan rumahnya sendiri secara sistematis. Kita menyebutnya “strategi militer,” padahal dari perspektif bumi, ini tidak lebih dari ecocide, pembunuhan perlahan terhadap sistem kehidupan. Di bagian lain, kita menghancurkan hutan dan menyebutnya 'food estate', padahal dengan berbuat itu kita sedang memotong selang oksigen kita sendiri. Ujung dari immoralitas manusia adalah kebinasaan dirinya sendiri. Tragis! 
Mungkin suatu hari nanti, ketika perang telah usai dan monumen didirikan, manusia akan berkata: “Kami telah belajar dari sejarah.” Tetapi bumi, jika bisa berbicara, mungkin hanya akan menjawab lirih: “Ya, tetapi kalian belajar terlalu lambat, dan aku sudah terlalu rusak untuk menunggu.” Ketika orang dilarang berkumpul, manusia tidak tiba-tiba berubah menjadi patung taman. Mereka mencari cara lain. Lahirlah rapat Zoom, ibadah online, kuliah digital, bahkan acara ulang tahun yang dihadiri lebih banyak layar laptop daripada manusia asli. Manusia memang punya bakat unik: kalau pintu ditutup, dia tidak berhenti. Dia akan cari jendela. Kalau jendela ditutup, dia bongkar genteng. Sejarah menunjukkan hal yang sama. Setiap krisis besar sering kali justru melahirkan inovasi. Kreativitas manusia kadang mengalir deras saat situasi genting. Mirip lahar panas gunung berapi yang tiba-tiba memaksa semua orang berlari sambil berpikir keras: “Habislah… tapi mungkin kita bisa bikin sesuatu dari ini.” Nah, sekarang dunia sedang menghadapi drama baru: krisis energi. Biangnya ada di sebuah tempat kecil bernama Selat Hormuz. Panjangnya cuma sekitar 34 kilometer, tidak jauh-jauh amat  dibanding jarak orang Jakarta yang tiap hari menempuh perjalanan dari rumah ke kantor sambil mikirin bagaimana bayar cicilan pinjol. Tetapi selat kecil ini punya peran besar: sekitar 20 persen energi dunia lewat situ. Bayangkan saja, Selat Hormuz itu seperti kerongkongan seseorang yang sedang makan sosis terlalu besar. Kalau tersangkut lama, wajahnya langsung merah, matanya melotot, dan semua orang di meja makan panik mencari air putih.
Begitu juga dunia. Kalau “kerongkongan energi” ini tersumbat, ekonomi global bisa megap-megap seperti motor tua yang kehabisan bensin di tengah tanjakan.
Masalahnya, minyak bumi bukan sekadar urusan mobil dan motor. Ia adalah darah yang mengalir dalam hampir semua sistem produksi. Tanpa energi, pabrik berhenti. Transportasi macet. Distribusi barang tersendat. Ujungnya PHK lagi. Situasinya mirip tubuh manusia yang tiba-tiba terkena stroke: tangan tidak bergerak, kaki tidak patuh, dan seluruh sistem mendadak kacau.
Namun seperti krisis sebelumnya, momen ini sebenarnya juga menyimpan peluang. Krisis sering kali seperti alarm pagi hari. Memang menyebalkan, tapi kalau tidak berbunyi kita bisa terus tidur dan terlambat ke kantor. Krisis energi ini sedang membangunkan dunia dari tidur panjang ketergantungan pada minyak bumi. Negara-negara yang cerdas mulai berpikir: “Kalau satu kran macet, kita harus punya banyak kran lain.” China, misalnya, sudah bergerak cepat. Mobil-mobil produksi mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bensin. Banyak yang sudah memakai baterai lithium. Jadi, kalau suatu hari pom bensin tutup, mobil mereka tidak langsung berubah jadi pajangan halaman rumah. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan bahan untuk melakukan hal yang sama. Kita punya air yang mengalir dari ribuan sungai, angin yang bertiup dari laut, ombak yang tidak pernah capek menghantam pantai, dan cadangan nikel yang membuat banyak negara melirik seperti tetangga yang mengintip dapur kita saat mencium aroma rendang. Artinya, bahan bakunya ada. Potensi ada. Yang sering kurang hanyalah satu hal sederhana tapi mahal harganya: kemauan pemerintah mendorong kreativitas dan inovasi anak bangsa. Padahal kalau diberi ruang, orang Indonesia itu kreatifnya luar biasa.
Di negara lain orang membuat kendaraan listrik. Di Indonesia, orang bisa membuat gerobak bakso yang sekaligus jadi dapur, restoran, dan kantor cabang keliling. Bayangkan kalau kreativitas seperti itu diarahkan pada inovasi energi. Krisis energi ini seharusnya menjadi pelecut. Bukan untuk panik, tetapi untuk berpikir lebih serius. Karena sejarah selalu menunjukkan satu hal:
Bangsa yang bertahan bukanlah bangsa yang hidup tanpa krisis. Melainkan bangsa yang ketika dunia tersedak, dia sudah menyiapkan sedotan cadangan. 

(25 Maret 2026)(TUS)

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺, 𝗜𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗕𝗲𝗿𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗦𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶

Sudut Pandang 𝗞𝗲𝗹𝗶𝗿𝘂 𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗣𝗮𝗹𝗲𝗺, 𝗜𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗕𝗲𝗿𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗦𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶 PENGANTAR  Banyak pertanyaan ...