Rabu, 11 Maret 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 9:1-41 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗩 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Yohanes 9:1-41 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗩 𝗣𝗿𝗮-𝗣𝗮𝘀𝗸𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝗕𝘂𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿

PENGANTAR 
Minggu 15 Maret 2026, 1 Samuel 16:1-13 menyampaikan pesan yang kuat tentang
akibat buruk dari kegagalan kepemimpinan. Oleh karena itu kenapa saya mengatakan, gerakan sadar ekologis dari masyarakat tanpa kritisi thp pembuat undang-undang dan pejabat yg mendapat mandat  menegakan undang-undang dimana undang-undang tsb ditujukan menjaga ekologis adalah sebuah gerakan yg baik namun timpang. Perbaikan harus dua lini atau dua atas ya kesadaran masyarakat nya, tetapi juga kesadaran para pejabatnya kalau kita bicara pertobatan ekologis. Seperti garam bumi dan terang dunia, idealnya harus dua sisi. Kenapa ada kelompok green peace, aktivis lingkungan yg bergerak mengkritisi aturan dan penegakan aturan dari pemerintah terkait lingkungan hidup. Pertobatan ekologis, adalah pertobatan kolektif, pertobatan kebersamaan, pejabat atau penguasa tidak boleh buta atas penegakan dan pembuatan undang-undang yang merugikan lingkungan hidup.  Efesus 5 : 8-14, menunjukan bagaimana masyarakat tidak boleh buta, atas keadaan sekelilingnya, kalau lingkungan hidup terancam masyarakat harus jeli untuk bersama mengelola hal tsb, agar alam dan lingkungan hidup tidak menjadi alat pembunuh masal bagi manusia, tetapi alam dan lingkungan menjadi kehidupan bagi manusia. Allah adalah kehidupan, sisi berlawanan dengan Allah adalah kematian. 
Kota Efesus merupakan kota besar dengan populasi yang
beragam dan merupakan rumah bagi banyak kuil serta dewa,
khususnya kuil Artemis yang megah dan terkenal. Di kota yang canggih dan plural ini, umat Kristen saat itu merasakan hal yang
sama seperti umat Kristen yang hidup saat ini. Mereka hidup di
tengah keragaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat, dan itu berdampak pada alam sekitar kita. Mereka dituntut untuk tidak takut menghadapi tantangan, serta
tidak sekadar menikmati kenyamanan tanpa peduli terhadap perubahan dan kemajuan zaman. Umat Kristen diharapkan mengalami pertumbuhan rohani dengan "mengerti kehendak
Tuhan" dan dipenuhi dengan Roh Kudus. Saran-saran ini
menggambarkan suatu cara hidup yang menunjukkan suatu
transformasi secara pribadi dan juga komunitas. Dalam bacaan 1 dan 2, kita diajak untuk paham masyarakat tidak boleh buta oleh perkembangan ekologis saat ini dan bahaya kalau tidak dikelola dengan baik, serta para pejabat pemerintahan juga harus tidak buta akan penegakan dan pembuatan undang-undang yang ramah ekologis. Kebutaan dalam hal ini dapat menyebabkan kematian masal dan kehancuran bumi, dan kematian masal dan kehancuran bumi itu tidak manusiawi, sisi yang berlawanan dengan Allah.
Silvija Greko, perempuan Brasil, sering mengajak anaknya yang buta sejak lahir, Nikolas, menonton sepakbola di stadion untuk mendukung klub favorit mereka, Palmeiras. Silvija selalu menarasikan situasi di lapangan dan stadion kepada anaknya. Pada satu saat kegiatan Silvija tertangkap kamera dan menjadi viral. FIFA kemudian mengundang mereka ke Teatro alla Scala, Milan, Italia, dalam rangka pemberian penghargaan Pemain Terbaik FIFA 2019 pada 23 September 2019. FIFA mengganjar penghargaan khusus kepada Silvija sebagai Fan Terbaik FIFA.


PEMAHAMAN
Hari ini adalah Minggu keempat Pra-Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Yohanes 9:1-41 yang didahului dengan 1Samuel 16:1-13, Mazmur 23, dan Efesus 5:8-14.
Bacaan Injil Minggu ini panjang; satu pasal yang terdiri atas 41 ayat. LAI memberi judul perikop 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢. Bacaan dapat dikelompokkan ke dalam empat pokok bahasan:

🔴 Penyembuhan orang buta (Yoh. 9:1-7)
🔴 Orang buta dan para tetangga (Yoh. 9:8-12)
🔴 Orang buta dan orang-orang Farisi (Yoh. 9:13-34)
🔴 Orang buta dan Yesus (Yoh. 9:35-41)

Pasal ini merupakan drama indah yang disusun oleh pengarang Injil Yohanes untuk merefleksikan ketegangan hubungan antara jemaat Yahudi dan jemaat Kristen (Komunitas Yohanes). Ketegangan terjadi akibat penolakan para pemimpin Yahudi untuk mengakui Yesus.

𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗺𝗯𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝘁𝗮 (𝗬𝗼𝗵. 𝟵:𝟭-𝟳)

Latar tempat tampaknya masih di Yerusalem karena dalam ayat terakhir pasal 8 dikatakan bahwa Yesus meninggalkan Bait Allah dan kisah dibuka dengan 𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵. Yesus kemudian melihat orang buta sejak lahirnya. Murid-murid Yesus bertanya, “𝘙𝘢𝘣𝘪, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘵𝘢?”
Pertanyaan murid-murid Yesus itu wajar. Konsep tentang penderitaan akibat dosa dan ketidaktaatan memiliki sejarah panjang dalam pemikiran Ibrani dan Yahudi (lih. Kel. 20:5), perhatikan konsep PL, meskipun gagasan bahwa kebenaran selalu memberikan berkat dan keberhasilan ditentang dalam kitab Ayub dan Pengkhotbah. Di sini Yesus tak mau terjebak dalam polemik ini. Jawab Yesus, "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘢. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘈𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢, 𝘈𝘬𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢." 
Ini mirip pada masa kini ketika ada orang berkesusahan yang ditanya “agamanya apa?”. Selagi masih ada kesempatan, berilah pertolongan, begitu kira-kira maksud Yesus.
Sesudah mengatakan hal itu, Yesus meludah ke tanah dan membuat adonan tanah atau lumpur. Ia kemudian mengoleskan lumpur itu pada mata si buta dan berkata kepadanya, “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘴𝘶𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘰𝘭𝘢𝘮 𝘚𝘪𝘭𝘰𝘢𝘮." Orang buta itu pun pergi membasuh dirinya lalu kembali dan dapat melihat.
Adegan Yesus meludah ini tampaknya menjadi persoalan dari masa jemaat perdana sampai sekarang. Jemaat perdana memandang magis ludah orang kudus. Pada masa kini ludah disulih dengan minyak urapan untuk penyembuhan, meskipun dalam banyak kasus ludah masih digunakan oleh orang “pintar” untuk para pelanggannya yang bodoh.
Kalau kita cermat membaca pasal ini, ludah sekadar media kejap untuk membuat adonan tanah. Sama halnya kalau kita berkesulitan hendak membalik halaman buku, lalu mencolek lidah kita. Dalam narasi pasal ini yang dibicarakan adalah 𝗽𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗱𝘂𝗸 𝗮𝗱𝗼𝗻𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 dan 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗺𝗯𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻. Itu adalah dua pekerjaan yang terlarang dalam hari Sabat menurut hukum Taurat Yahudi yang tampaknya sengaja ditekankan oleh penulis Injil Yohanes.
Selanjutnya, untuk memudahkan penulisan, orang buta sejak lahirnya yang disembuhkan oleh Yesus itu saya sebut orang buta atau si buta.

𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 (𝗬𝗼𝗵. 𝟵:𝟴-𝟭𝟮)

Kesembuhan orang buta itu kemudian menjadi bahan perdebatan para tetangga dan orang-orang yang pernah melihatnya buta dan menjadi pengemis. Sebagian tidak percaya bahwa ia adalah orang yang sama, sebagian lagi membenarkan bahwa ia orang buta yang sama. Orang-orang yang tidak percaya bertanya, “𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘦𝘭𝘪𝘬?” Jawab orang buta itu, “𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙡𝙪𝙢𝙥𝙪𝙧, 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙤𝙡𝙚𝙨𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶, …, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵.” (ay. 11).

Dalam bagian ini sama sekali tidak ditulis 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘥𝘢𝘩, melainkan 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗹𝘂𝗺𝗽𝘂𝗿 dan 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗼𝗹𝗲𝘀.

𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗙𝗮𝗿𝗶𝘀𝗶 (𝗬𝗼𝗵. 𝟵:𝟭𝟯-𝟯𝟰)

Meskipun para tetangga sudah mendapat konfirmasi identitas orang buta itu, mereka membawa orang buta itu kepada orang-orang Farisi. Mengapa? Itu karena Yesus melakukan pelanggaran hukum hari Sabat dengan melakukan pekerjaan: 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗱𝘂𝗸 𝗹𝘂𝗺𝗽𝘂𝗿 dan 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗺𝗯𝘂𝗵𝗸𝗮𝗻.

Orang-orang Farisi meminta klarifikasi kepada orang buta itu, “𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘦𝘭𝘪𝘬?” Jawab orang buta itu, “𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘭𝘦𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘮𝘱𝘶𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘴𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵.” Sekali lagi tidak ada kata-kata atau frase 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘥𝘢𝘩.
Mendengar jawaban itu terjadilah perdebatan di antara orang-orang Farisi. Sebagian mengecam Yesus sebagai orang yang bukan datang dari Allah karena tidak memelihara hari Sabat. Sebagian lagi bertanya-tanya, jika Yesus orang berdosa bagaimana mungkin Ia membuat mukjizat? 
Mereka bertanya lagi kepada orang buta itu, “𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘭𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶?” Jawab orang buta itu, “𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘣𝘪.” (ay. 17).
Para pemuka Yahudi itu tidak habis akal dan memanggil orangtua si buta. Mereka bertanya, “𝘐𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘣𝘶𝘵𝘢? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵?”
Orangtua si buta menjawab, “𝘐𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘣𝘶𝘵𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘭𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶,” jawab mereka, “𝘛𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘸𝘢𝘴𝘢.” Di sini pengarang Injil Yohanes menampilkan ketegangan. Orangtua si buta tahu risikonya kalau mereka menjawab dengan sebenarnya, maka mereka akan diusir dari sinagog, dikucilkan. Jawaban orangtua si buta sangat jitu sehingga memojokkan orang-orang Farisi. Mereka makin sulit mencari alasan menyerang Yesus.
Orang-orang Farisi memanggil lagi si buta dan mendesaknya, “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 (𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴) 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢.” Si buta tidak ambil pusing apakah Yesus orang berdosa atau datang dari Allah, ”𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘢, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵.”
“𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶?” tanya orang-orang Farisi itu lagi. Sama halnya dengan saya, jika saya ditanya dengan pertanyaan yang sama, maka saya akan jengkel. Si buta itu pun jengkel, “𝘕𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘪𝘩? 𝘌𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢?” kata si buta kepada orang-orang Farisi. Mereka tak mau kalah, “𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘔𝘶𝘴𝘢, 𝘵𝘢𝘶𝘬?” kata mereka, “𝘓𝘰𝘦 𝘵𝘢𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢?”
Rupanya si buta ini cukup berpengetahuan. Katanya, “𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘭𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳,” sanggah si buta, “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘐𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘭𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶?” 
Sama seperti orang masa kini ketika ia tidak dapat berargumen lagi, maka ia melakukan 𝘢𝘥 𝘩𝘰𝘮𝘪𝘯𝘦𝘮. Demikian juga orang-orang Farisi. Kata mereka, “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪?” Mereka pun mengusir si buta.

𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 (𝗬𝗼𝗵. 𝟵:𝟯𝟱-𝟰𝟭)

Yesus bertemu dengan orang buta yang diusir itu. Inisiatif dari Yesus seperti halnya ketika Yesus menyembuhkannya. Kata Yesus kepadanya, “𝘗𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢?” (ay. 35). Penginjil Yohanes memilih sebutan 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢, bukan Anak Allah khas Injil Yohanes, tampaknya bertalian dengan ayat 39 Yesus datang untuk menghakimi (bdk. Yoh. 5:27).
Atas pertanyaan itu si buta tentu saja bingung dan bertanya, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘋𝘪𝘢, 𝘛𝘶𝘢𝘯?” Jawab Yesus, “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶.” Jawaban Yesus kepada si buta ini mirip jawaban-Nya kepada perempuan Samaria di Yohanes 4:26. Si buta berkata, “𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯.” Si buta pun sujud menyembah-Nya.
Pengetahuan orang buta itu meningkat tentang Yesus. Semula ia hanya mengenal orang bernama Yesus (ay. 11) ➡️ nabi (ay. 17) ➡️ datang dari Allah (ay. 33) ➡️ Tuhan (ay. 38). Hal ini mirip dengan orang-orang Samaria yang meningkat pengetahuan mereka. Mereka bukan lagi percaya karena perkataan perempuan Samaria, melainkan belajar lebih dalam lagi. Dua acuan pengajaran ini sangat penting bagi para “petobat baru” untuk tidak menjual “kesaksian” murahan. Orang-orang Kristen pun tak perlu memuja-muja “si petobat baru”. Belajarlah lebih dalam lagi sebelum mengajar orang. Sekadar intermeso penulis Surat 1Timotius 3:6 melarang orang yang baru bertobat menjadi pengajar agar tidak menjadi sombong.
Yesus kemudian berkata, “𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙠𝙞𝙢𝙞 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘵𝘢.” (ay. 39). 𝘓𝘩𝘰 𝘬𝘰𝘬 menghakimi 𝘴𝘪𝘩? Bukankah Yesus datang 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 seperti dalam Yohanes 3:17?
Di sini rupanya soal penerjemahan oleh LAI. Yohanes 3:17 menggunakan kata 𝘬𝘳𝘪𝘯e yang diterjemahkan oleh LAI menjadi 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪 (TB 1974, TB II 1997, dan TB II 2023). Mari kita bandingkan dengan NRSV yang menerjemah 𝘬𝘳𝘪𝘯e menjadi 𝘵𝘰 𝘤𝘰𝘯𝘥𝘦𝘮𝘯 atau 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 (𝘮𝘢𝘵𝘪). Dalam pada itu Yohanes 9:39 menggunakan kata 𝘬𝘳𝘪𝘮𝘢 yang diterjemahkan oleh NRSV 𝘧𝘰𝘳 𝘫𝘶𝘥𝘨𝘮𝘦𝘯𝘵 atau 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪. Jadi, memang berbeda.
Ternyata beberapa orang Farisi berada di sana dan 𝘯𝘺𝘦𝘭𝘦𝘵𝘩𝘶𝘬, “𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 e𝘯𝘵e, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘵𝘢?” Mereka tidak menangkap permainan kata Yesus. Kata Yesus, “𝘚𝘦𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 ‘𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵’, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘰𝘴𝘢𝘮𝘶.” (ay. 41).
Begitulah cara penginjil Yohanes memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) ketegangan antara jemaat Kristen (Komunitas Yohanes) dan jemaat Yahudi. Orang-orang Yahudi yang memiliki pengetahuan dan fasilitas, namun tidak tahu cara menggunakan pengetahuan dan fasilitas mereka. Dalam pada itu orang buta, yang merupakan pemerian (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘪𝘰𝘯) jemaat Kristen, yang ditindas, perlahan-lahan belajar dari segala kekuarangan mereka untuk tetap hidup memertahankan iman. Pemerintah atau pejabat yang buta seperti pemuka agama dan farisi yang buta akan menghancurkan alam, walaupun orang (masyarakat ) buta sudah dicelikan, dibuat melihat oleh Tuhan.

 (19032023)(TUS)

Sudut Pandang Menyenangkan berdiskusi dengan chat gpt (AI) BIANG KEROKNYA ADALAH AGAMA(Diskusi panjang dengan ChatGPT)

Sudut Pandang Menyenangkan berdiskusi dengan chat gpt (AI)  BIANG KEROKNYA ADALAH AGAMA (Diskusi panjang dengan ChatGPT) Saya : Lebih 80% su...