Kamis, 16 April 2026

Sudut Pandang Lukas 24:13-35, perkara liturgi

 Sudut Pandang Lukas 24:13-35, perkara liturgi

PENGANTAR 
Dalam buku HAGGADAH PESAKH, itu bukunya orang yahudi tentang paskah yahudi, ada tradisi Yahudi itu tiap makan bersama atau jamuan makan bareng (dan ini tidak identik dengan perjamuan Kudus), kata yang diucapkan saat memecah dan membagi roti adalah INILAH ROTI SENGSARA YANG DIMAKAN NENEK MOYANGMU WAKTU ITU DI TANAH MESIR, kemudian diberkati, dan dimakan barengan, tetapi kebiasaan Yesus beda ketika makan bersama dengan para muridnya (dan ini tidak identik dengan Perjamuan Kudus), bbrp bagian mencatat dan bbrp teolog menulis dalam bukunya, Yesus akan mengatakan  INILAH  TUBUHKU ..... (Matius 26:26-28, Markus 14: 22 - 24, Lukas 22:19-20, 1 Korintus 11: 23-25), shg kenapa kleopas dan temannya mengenali Yesus saat makan bersama? Itulah dugaan sebabnya, kemudian itu menjadi dasar gereja modern dalam liturgi Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Kitab-kitab Injil menceritakan penampakan Yesus sesudah kebangkitan. Dari sejumlah cerita di sana kisah penampakan Yesus-Paska menyertai dua orang murid dalam 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗘𝗺𝗮𝘂𝘀 adalah yang paling 𝘬𝘦𝘳e𝘯 secara sastrawi, teologis, dan pedagogis (lih. Luk. 24:13-33). Kisah 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗘𝗺𝗮𝘂𝘀 menjadi bacaan ekumenis untuk Minggu III Paska, 19 Maret 2026. Sangat disayangkan jika cerita yang sarat muatan pedagogis ini tidak tersampaikan “dagingnya” kepada umat pendengar. Mengapa bagian cerita 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗸𝗲 𝗘𝗺𝗮𝘂𝘀 ini diharkat sangat tinggi mutunya secara sastrawi, teologis, dan pedagogis? Karena salah satunya, ada makna liturgi yg dipahami menjadi warisan dari gereja kuno sampai gereja modern saat ini.
PEMAHAMAN
MEMAKNAI LITURGI LIMA/LEKSIONARI DALAM PERJALANAN KE EMAUS
Kehidupan Gereja senantiasa ada dalam sebuah perarakan
pergumulan. Pergumulan Gereja berkenaan dengan keesaan (keesaan gereja), peribadatan, pengajaran
dan beberapa hal lainnya. Gereja Katholik Roma,
Gereja Othodok dan Gereja-Gereja Reformasi sering
kali bergumul berkenaan dengan keesaan di antara
mereka. Liturgi Lima/leksionari, adalah gerakan kebersamaan, sebuah istilah yang menunjuk pada liturgi yang dipakai pada Ibadah dalam Sidang Dewan Gereja-Gereja Dunia (WCC) yang
diselenggarakan di Lima, Peru berhasil mempertemukan gereja-gereja mainstream (arus utama) untuk
menghayati panggilan mereka dalam sebuah liturgi
ibadah, secara bersama-sama. Meskipun diakui masih ada beberapa
perbedaan didalamnya, akan tetapi Liturgi Lima
berhasil mempertemukannya.
Sebagai bagian dari Gereja-Gereja Dunia, menurut saya tentunya GKJ
mencoba untuk mengerti, mempelajari, menghayati Liturgi Lima/leksionari tsb sebagai gerakan kebersamaan dalam peribadatan, dg gereja di belahan bumi manapun. Kalau ditanya kenapa memakai liturgi leksionari, maka jawabannya adalah itu gerakan kebersamaan (ekuminis) gereja dunia, bagaimana gereja yg satu, keesaan gereja (seperti tercatat dalam Alkitab) tidak dipahami sebagai satu gereja, tetapi banyak gereja, banyak denominasi,  dengan pergumulan, visi, dan misi yang sama. Ke esa an itu diperlihatkan dengan memakai liturgi ritual simbolis yang  sama, dan bacaan sabda yang sama untuk digumulkan bersama. Banyak gereja arus utama sudah memasukan ide ini dalam dogmanya atau tata gereja serta tata laksananya.
Liturgi Lima menjadi acuan liturgi, terutama liturgi perjamuan kudus, gereja-gereja ekumenis. Artinya, penetapan Liturgi Lima (adaptasi dan hasil akhir oleh Max Thurian dan Geoffrey Wainwright 1983) merupakan tonggak pembaruan liturgi Protestan Reformasi; kemudian baru diikuti pembaruan liturgi di Katolik Roma dan Katolik
telah terjadi melalui gerakan liturgis dan Konsil
Vatikan II abad ke-20. Sehingga salah besar, kalau kita mengatakan bahwa memakai liturgi leksionari itu gereja Protestan  Reformis menjadi ke Katolik, katolikan, lah .... pembaharuannya malah duluan gereja Protestan Reformis melakukannya stlh sidang gereja dunia di Lima, Peru. Tapi sayangnya, karena kurang koordinasi dan informasi, menurut saya maka banyak gereja - gereja protestan reformir di indonesia, karena ini barang baru waktu itu, malah mencari informasi nya ke gereja-gereja katolik. Selama sepuluh hari menjelang hari raya Yesus Naik ke Sorga tahun 1995, di Institut
Ekumenis Bossey-Swis, tiga puluh lima orang yang terdiri dari berbagai gereja di  belahan bumi (sinode baptis injili pun ada di sana) berhasil memproklamasikan kesatuan atau kesepolaan
liturgi yang memancar melalui keberbagaian ritus
kontekstual. Ikrar Bossey ini penting, sebab
kecurigaan sementara kalangan tentang liturgi
ekumenis disamakan dengan pembaratan ataupun kekhatolikan, dapat
didamaikan. Keseragaman, termasuk klaim bahwa
iturginya adalah yang paling benar dan asli, tidak
lagi berada di dalam bingkai liturgi ekumenis. Dalam
pertemuan-pertemuan internasional, nyanyian dan
Unsur-unsur liturgi yang bernuansa etnik justru
Mendapat penghargaan tinggi. Guliran diskusi yang disepakati waktu itu adalah perjalanan para murid
Emaus (sebenarnya: menjauhi Yerusalem, kemudian kembali ke Yerusalem) bersama Yesus. Bagian pendahuluan (Lukas 24:13-24) diawalidengan perasaan galau, tak tentu arah. Kemudian firman disampaikan (Lukas 24:25-27), namun masalah tidak
selesai. Mereka tetap tak mengenali-Nya. Baru ke
perjamuan/makan bersama (Lukas24:28-32), mata mereka terbuka
mereka mengenal-Nya - tapi la lenyap. Pengalaman perjumpaan itu menginspirasi mereka berbalik / metanoia / pertobatan (kembali ke Yerusalem) dan menceritakan (sharing/berbagi)
kisah tersebut (Lukas 24:33-35), Ibadah/Liturgi memperjumpakan gereja dengan Kristus melalui gerak gestur ritual simbolis pengenangan akan Kristus juga melalui Firman (bukan khotbah yah), dan terutama perjamuan/makan bersama, menginspirasi gereja menjalani pengurusan di dunia, tidak berputar di tempat, tidak lari dari masalah dunia tetapi menghadapi masalah dunia dg Kristus. Dimaknai dalam pertemuan itu, perjamuan Kudus adalah makan bersama, dimana dalam makan bersama sharing/berbagi adalah hal penting, ada dua bentuk yang dipahami. Kesatu, sharing atau berbagi dalam Perjamuan Kudus, satu alasan makan bersama adalah sharing atau berbagi cerita, cerita tentang peristiwa Kristus, tentang teladanNya dan hikmat pengajaranNya, yang kedua adalah ber kurban, berbagi tak bisa dilakukan tanpa berkurban, inilah persembahan. Hidup, wafat, dan bangkit Kristus adalah pengorbananNya untuk manusia. Maka ada doa collecta sebelum Firman dibacakan (bukan doa epiklesis ya). 

MEMAKNAI LITURGI PERJALANAN KE EMAUS
Pulang ke rumah pada sore hari dengan berjalan kaki
sepanjang dua belas kilome ter  itu minimal dua setengah jam pasti melelahkan (Jalan kaki). Apalagi jika perjalanan itu ditempuh dengan perasaan tertekan, gundah gulana, pingin menjerit-jerit, gimana  tidak guru yg diagungkan mati, ilang lagi mayatnya, blom tuduhan mencuri mayat dari para pejabat, blom harapan mesias politik yg sirna. Ketika, kita dalam keadaan seperti itu, ketika itu kita ada di tempat ibadah melakukan ritual simbolis berupa VOTE  atau VOTUM, teriakan bahwa pertolongan kita hanyalah pada Tuhan, penolong kita satu-satu nya adalah Tuhan. Kleopas dan teman anonimnya pun begitu, dan disamperinlah mereka oleh Kristus Tuhan. Kebiasaan zaman itu orang ketemu memberi Salam, itulah VOTUM yang disambut SALAM dalam liturgi/liturgi leksionari. Setibanya di rumah, sangat
bisa dimengerti kalau orang enggan pergi lagi.
Tetapi rasa enggan seperti itu tidak ada pada dini
Kleopas dan kawannya yang ceritanya kita jumpai di kitab
Injil Lukas. Mereka berdua menempuh perjalanan sepanjang jarak
dan sepanjang waktu tersebut di atas, dari Yerusalem ke Emaus. Dan perjalanan itu mereka tempuh bukan dengan
bersemangat, melainkan sebaliknya. Mereka merasa terpukul oleh tidak menentunya berita-berita mengenai nasib tubuh
Yesus. Padahal kematian Yesus itu sendiri sudah cukup menekan perasaan mereka selama tiga hari ini. Kalau menurut peribahasa, mereka adalah seperti orang yang sudah jatuh lalu ditimpa tangga. Agaknya mereka berjalan dengan perlahan, karena kemudian ada seseorang lain yang bisa menyusul dan ber-
gabung dengan mereka.
reka tidak kenali - mereka menumpahkan isi hati mereka. Terhadap Yesus yang bergabung – namun yang mereka tidak mengenali. Liturgi adalah ritual simbolis untuk mengenali Kristus, maka Liturgi adalah pengenangan akan Kristus, akan teladannya, akan hikmat ajaranNya. Liturgi adalah ibadah selebrasi, perayaan akan kenangan Kristus, shg kenapa ada Rabu abu, masa Raya Prapaskah Paskah, Kamis putih, pembasuhan kaki, jalan salib, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Perjamuan Kudus, Masa Raya Advent, Masa Raya Natal, doa sepuluh hari, Minggu Pentakosta, Minggu Trinitas, dlsb itu karena kalender Liturgi, Liturgi / Liturgi leksionari sendiri adalah ritual simbolis pengenangan akan Kristus, kita secara ritual simbolis diajak mengenang Kristus agar dalam ibadah aksi pada kehidupan keseharian, kita membawa wajah Kristus, teladan Kristus, hikmat pengajaran Kristus pada hidup keseharian, itulah liturgi kehidupan. Kemudian Kleopas menceritakan sebab musabab pergumulan mereka pada Yesus, itulah kita mengenal INTROITUS, INTROITUS berisi inti pergumulan dalam peribadatan, maka isinya adalah kata pembuka, sebetulnya kurang tepat kalau diisi ayat Alkitab. Ketika Yesus menegur kebodohan Kleopas dan temannya, adalah fase bagaimana seharusnya kita masuk dalam sesi PENGAKUAN DOSA, kemudian Yesus menjelaskan SEMUA KITAB, makanya kita masuk dalam BACAAN SABDA dengan kelengkapan dari PL, Surat-surat, dan INJIL, mazmur sebagai nyanyian tanggapan. Akhinya mereka tiba juga di Emaus. Yesus bersikap seolah-olah hendak terus berjalan. Sesuai dengan adat yang lazim, mereka mengundangNya untuk makan dan bermalam. Lalu Yesus bermalam. Bahkan mereka bukan hanya mengundang, melainkan  "sangat mendesakNya". Mereka berkata, "Tinggallah
bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam. 
Ucapan itu telah mengilhami lahirnya lagu Nyanyian Rohani 111: Tinggal sertaku, kawanku kudus, t'lah
hampir malam, jangan jalan t'rus."
Yesus menerima ajakan itu. Mereka duduk makan. Pada saat itu, Kleopas dan kawannya mengenali Yesus. Lalu
Yesus pun hilang dari pandangan mereka.
Apa yang terjadi kemudian ? Injil Lukas mencatat
"Lalu bangunl ah mereka dan terus kembali ke Yerusalem."
Tetapi bukankah mereka lelah ? Tadi dikatakan bahwa mereka baru saja berjalan selama dua setengah jam. Bukan-
kah lebih enak diam di rumah ? Ternyata perjumpaan mereka dengan Yesus telah merubah keadaan. Kelelahan menjadi tidak terasa. Bisa jadi
mereka tadi belum mulai makan, karena pengenalan itu terJadi ketika Yesus baru saja mulai membagi roti.
Tetapi rasa laparpun menjadi tak terasa. Ada kegembiraan
yang langsung merasuk pikiran mereka. Ada semangat yang muncul menjiwai mereka. Perjalanan yang tadi menjemukan
itupun ditempuhnya sekali lagi. Mereka mau membagi kabar gembira kepada kawan-kawannya : "Benar, Yesus sudah bangkit!"
pejumpaan dengan Yesus menjadikan mereka bersemangat lagi untuk menjalani jalan Emaus Yerusalem dan bahkan menjalani jalan hidup. Begitulah se betulnya, kita menjalani setiap Minggu dalam peribadatan kita, setiap ibadah hari Minggu, kita dikobarkan semangat kita untuk meneladan Kristus kembali di hari Senin - Sabtu
(20042026)(TUS)





Sudut Pandang Matius 28:16-20 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗱𝗶 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝗗𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 Minggu Trinitas, 31 Mei 2026

Sudut Pandang Matius 28:16-20 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗱𝗶 𝗚𝘂𝗻𝘂𝗻𝗴: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖...