PENGANTAR
Minggu ini, 19042026, bacaanleksionari Bacaan 1 : Kisah Para Rasul 2:14a,36-41, Bacaan 2 : 1 Petrus 1:17-23, Bacaan Injil : Lukas 24:13-35, bahan yang akan kita gumuli adalah perjalanan ke emaus. Sastra tentang perjalanan ke emaus sarat makna dan banyak sudut pandangnya. Bahan sastra ini menarik, dari sudut bahasa asli, dari sudut plot twist yg dibuat penulis, dlsb. Secara leksionari, Bacaan1, bacaan 2 mempertajam bacaan injilnya, secara leksionari, saya tidak akan melihat mazmur karena mazmur adalah nyanyian tanggapan dalam menyoal liturgi, sebetulnya bukan bahan untuk sudut pandang khotbah leksionari. Salah satu yang menarik dari pemaknaan perjalanannke emaus adalah wajah Allah. Plot twist nya, kita berjalan bersama Kristus tetapi nyata-nyata kita tidak mengenali wajah Kristus, kita menerima khotbah Kristus masih juga tidak kenal wajah Kristus, hati kita berkobar oleh karna Kristus dan ajaranNya tetapi tetap tidak kenal wajah Kristus, setelah Kristus memperagakan kebiasaan yang dilakukan pada saat jamuan makan, pada saat kenangan akan kebiasaan Kristus saat jamuan makan, maka barulah kita mengenali wajah Kristus, bayangkan kita teman Kleopas yang tidak disebutkan namanya. Kesan sastra dari penulis Injil Lukas, memang tak disebutkannya siapa teman Kleopas, seakan ingin menempatkan pembaca pada posisi tsb. Temanya khotbah jangkep GKJ melihat wajah Kristus dalam karya ciptaan. Pengalaman seorang pendeta muda yang diceritakan ke saya, saat itu pendeta muda ini masih calon pendeta, dia sedang menepi dan menyepi di sebuah biara, suster biara/biarawati yang ndampingi dirinya, mengatakan hal yg punya spirit sama seperti yang ada di ilustrasi khotbah jangkep. Intinya, Bahwa sesama yang menyakiti kita sekalipun adalah wajah Kristus. Dengan kerut di dahi, pendeta muda ini belum bisa menerima atau menemukan jembatan nalar akan hal tsb. Masak wajah Kristus akan ada di seorang penjahat, koruptor, penipu, pemerkosa, pelaku ilegal logging, pelaku bullying, pelaku kdrt, dlsb? Menurut pemikirannya, Tapi merasa wajah Kristus yang mana kl kesehariannya menyakiti sesama? Dia berpikir, Mungkin dirinya masih bisa terima kl pernyataannya itu "sesama yang menyakiti kita itu tetap diberkati Kristus." Tapi kl untuk menyatakan wajah Kristus, wajah yang mana ya? Mari kita melihat jembatan nalarnya, Roh Kudus dicurahkan pada setiap manusia tercantum awal pada kisah para rasul, artinya di setiap manusia ada Roh Allah di sana, itu PB sedangkan PL Roh Allah hanya pada orang terpilih, kalau Roh Allah ada di setiap manusia, maka kunci tidak buta pada wajah Allah atau tidak mendengar swara Allah adalah pertobatan, wajah Allah ada dimana saja, Swara Allah selalu mendengung di sanubari manusia sebagai kata nurani. Arti, orang sejahat apapun itu, ada wajah Allah di sana, ada swara Allah di sana, yang berusaha menguasai jiwanya, tetapi manusia punya kehendak bebas untuk tetap memberontak pada Allah, untuk merusak wajah Allah pada kehidupannya. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, tapi kalau Allah bebas tak bisa dibatasi maka manusia sedikitnya punya natur itu, sebagai cerminan, dan kehendak bebas manusia itu dimaksudkan sebagai keinginan memberontak pada Allah. Makanya pada awalnya manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, tapi kehendak bebas, kehendak melawan Allah, dosa Natur itu akan selalu ada, tinggal kita mau melawan sisi gelap kita atau tidak? Dosa Natur itulah yg tidak bisa hilang dari manusia, gambar wajah Allah itu dirusak oleh manusia, yang bisa memulihkan gambar wajah itu yah .... hanya si pemilik wajah yang membuat gambar wajah itu pada manusia. Itulah kenapa dalam tulisan saya yang lain tentang ke emaus, saya mengambil kisah Adam hawa saya sejajarkan dengan perjalananan ke emaus. Makanya, konsep PL ada pada taat dan tidak taat, Kenapa simbol liturgi Leksionari di pertemuan kota lima, diambil dari perjalanan ke emaus? Lukisan terkenal tentang perjalanan ke emaus itu digambarkan kaki kleopas berlawanan arah, Supaya umat ingat kl dalam diri nya, ada Kristus, maka kembali (bertobat) adalah perjalanan.
Pergumulan menjaga wajah Kristus, Itu konsep Roh dan daging juga, perjalanan ke emaus itu karya sastra yg merangkum banyak makna, Jembatan kuncinya berarti rusak atau ndaknya wajah Kristus itu dalam diri setiap kita ya pak? Dengan begitu, konsep perjalanan ke emaus bisa menjawab misal, kenapa aku diperkosa dimana Allah, kalau Allah maha kuasa kenapa tidak mencegah hal ini terjadi padaku? Allah tetap berkarya di saat itu, Swara Roh Allah berdengung di hati sanubari dalam kata nurani si pemerkosa untuk tidak melakukan perkosaan, tetapi si pemerkosa tidak mendengar, berkehendak bebas melawan swara Allah, merusak wajah Allah. Wajah Allah ada di pihak yang tertindas, lewat penolakan, jeritan, tangisan, swara kain robek, dlsb wajah Allah ada pada korban, tetapi si pemerkosa tetap berkehendak bebas untuk merusak wajah Allah itu, bahkan menodai wajah Allah yang ada di dalam dirinya sendiri. Wajah Allah yang ada dalam diri pemerkosa, berupa nuraninya yg berdentang terus agar tindakan pemerkosa an tidak dilakukan (yang tidak didengarkan), wajah Allah pada korban, adalah perlawanan dan penolakan terhadap tindakan pemerkosa an tsb (yang tidak diindahkan pelaku). Jadi, Allah ada di sana, Allah ada dan tidak tinggal diam, tetapi keinginan manusia memberontak pada Allah, kemauan merusak wajah Allah mendominasi. Apakah Allah tahu hal ini sebelum terjadi pemerkosaan, tahu .... jelas tahu, kenapa Allah tidak mencegah? Kenapa harus ada korban? Allah itu memerdekakan manusia, untuk manusia memilih pilihannya sendiri, Allah tidak mau memaksa manusia seperti robot yg tunduk pada pembuatnya. Pilihan manusia, selain dapat merusak wajah Allah dalam dirinya, juga merusak sesamanya, contoh adalah keputusan perang. Itulah kenapa, kita menentang hukuman mati karena disetiap manusia, sejahat apapun dia ada wajah Allah. Hanya wajah yang rusak atau yang utuh ya yang menjadi pertanyaan. Kenapa norma hukum yang sekarang (KUHP baru) itu lebih ditujukan untuk merehabilitasi bukan menjatuhkan hukuman setimpal kejahatan. Wajah Allah itu siap kembali ada dan baik, asal ada pengampunan dan pertobatan itu salah satu inti hikmat pengajaran Kristus. Wajah Allah itu ada dimana saja, bahkan di alam sekitar, makanya seringkali seniman menggambarkan Alam sekitar sebagai wajah Allah. Inti pengampunan adalah memberi kesempatan untuk bertobat, inti hidup baru adalah keinginan kuat untuk berproses dalam pertobatan itu kenapa baptis dianggap simbol dari mati jadi hidup (paskah). Kadang kita seperti kleopas dan temannya, tidak mengenali wajah Allah yg nyata ada didepan kita, contoh kita melihat kebutuhan akan kayu untuk ekonomi kita, tetapi kita tidak melihat kebutuhan pohon, ketika pohon tidak dapat menjalankan fungsinya bagi alam, dan alam menjadi alat pemusnah masal bagi manusia, maka wajah Allah sudah rusak atau kita rusak, karena hasilnya adalah pro kematian bukan pro kehidupan, pro kematian itu berlawanan dengan Allah yang pro kehidupan. Sebenarnya, di mana ada kehidupan, maka di situ ada wajah Allah. Termasuk ada dalam alam sekitar. Berarti kan kl kita merusak alam kita sama aja dengan pelaku pemerkosaan ya? Ada kebutuhan ego, kekuasaan dan nafsu syahwat pemerkosa, tapi tidak memikirkan perasaan dan keterbukaan korban pemerkosaan. Kita selalu bersama Kristus, karena ada dalam nurani kita, tapi kita lupa wajahNya walaupun dekat ke kita. Maka, gerak ritual simbolis dalam liturgi Leksionari adalah pengenangan akan wajah Kristus, upaya untuk selalu mengingatkan kita akan kebiasaan, teladan, dan hikmat pengajaran Kristus atau wajah Kristus (maka kenapa ada Rabu abu, masa raya prapaskah paskah, Advent natal, ada pembasuhan kaki, ada jalan salib, ada Perjamuan Kudus/ekaristi, doa sepuluh hari jelang turunnya Roh Kudus, Pentakosta, dlsb). Liturgi Selebrasi agar nyata dalam liturgi aksi, liturgi kehidupan.
PEMAHAMAN
1. *Analisa Eksegetis Kritis per Bacaan*
*A. Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41 – Kristus sebagai _Kyrios_ atas Sejarah & Kosmos*
1. *Konteks literer*: Ini klimaks khotbah Petrus di Pentakosta. Lukas sengaja memotong ay.14b-35 yang berisi kutipan Yoel & Mzm 16, langsung ke kesimpulan kristologis ay.36.
2. *Frasa kunci*:
- _Kyrios kai Christos_ ay.36: _Kyrios_ adalah gelar YHWH dalam LXX. Petrus melakukan klaim teologis tertinggi: Yesus yang disalib = YHWH Pencipta Mzm 110:1. Ini dasar untuk "wajah Kristus di ciptaan" - Dia bukan tamu di dunia, Dia _Tuan_-nya.
- _Sōthēte apo tēs geneas tēs skolias tautēs_ ay.40: "Selamatkanlah dirimu dari angkatan yang bengkok ini". _Skolios_ = bengkok, menyimpang. Dalam konteks ekologi, ini "angkatan" yang hidup melawan _taxis_ ciptaan Allah. Bertobat berarti keluar dari logika eksploitasi.
3. *Implikasi kritis*: Khotbah Petrus tidak berakhir di pengampunan dosa personal ay.38, tapi di pembentukan _koinonia_ ay.42-47 yang hidup dengan ekonomi berbagi. Melihat Kristus = mengubah relasi dengan sesama dan harta. Ciptaan adalah "harta bersama" pertama.
*B. 1 Petrus 1:17-23 – Ditebus untuk Hidup Kudus di Tengah Ciptaan yang Fana*
1. *Konteks historis*: Surat untuk jemaat diaspora di Asia Kecil, tahun 60-64 M, yang menderita karena iman. Petrus mengingatkan identitas mereka sebagai "pendatang" _paroikos_ ay.17.
2. *Frasa kunci*:
- _En phobō ton tēs paroikias hymōn chronon anastraphēte_ ay.17: "selama masa menumpangmu, hiduplah dalam takut". _Paroikia_ = hidup sebagai orang asing. Teologi penciptaan: dunia ini rumah Allah, kita penatalayan, bukan pemilik.
- _Elytrōthēte... timiō haimati hōs amnou_ ay.18-19: "kamu ditebus... dengan darah yang mahal seperti anak domba". Kosakata korban Paskah + Yes 53. Penebusan kosmis: Kristus menebus seluruh _ktisis_ yang rusak karena dosa, bukan cuma jiwa.
- _Dia logou zōntos theou_ ay.23: "oleh firman Allah yang hidup". _Logos_ yang sama di Yoh 1:3 "segala sesuatu dijadikan oleh Dia". Firman yang mencipta = Firman yang melahirbarukan kita. Maka ciptaan & keselamatan satu sumber.
3. *Implikasi kritis*: Ay.18 "cara hidup yang sia-sia warisan nenek moyang" = pola hidup merusak yang turun-temurun. Pertobatan ekologis adalah bagian dari kekudusan ay.15. _Anagennaō_ ay.23 "dilahirkan kembali" berarti mata baru untuk lihat dunia.
*C. Lukas 24:13-35 – Pola Ekaristis Mengenal Kristus dalam yang Biasa*
1. *Konteks naratif*: Ini satu-satunya penampakan kebangkitan yang panjang di Lukas. Struktur liturgis: Liturgi Sabda ay.25-27 + Liturgi Ekaristi ay.30.
2. *Frasa kunci*:
- _Ophthalmoi autōn ekratounto_ ay.16 vs _diēnoichthēsan_ ay.31: "mata mereka terhalang" vs "terbukalah". Kata kerja pasif ilahi. Kebutaan adalah kondisi default manusia jatuh. Pengenalan adalah anugerah, terjadi saat _klasei tou artou_ "pemecahan roti" - frasa teknis Lukas untuk Ekaristi.
- _Oukhi kardia hēmōn kaiomenē ēn_ ay.32: "hati berkobar-kobar". _Kaiō_ = membakar, memurnikan logam. Sabda Kristus membakar selaput yang menutupi mata kita untuk lihat Dia di Torah, dan sekarang di ciptaan.
- _Egnōsan auton_ ay.35: "mereka mengenal Dia". _Ginōskō_ = kenal dalam relasi, bukan tahu info. Puncak pengenalan justru saat Dia "lenyap" ay.31. Artinya: setelah Ekaristi, tugas kita mengenal Dia yang "lenyap" di rupa roti, sekarang hadir di rupa dunia.
3. *Implikasi kritis*: Emaus adalah paradigma sakramental. Allah memakai materi biasa - jalan berdebu, roti jelai - untuk menyatakan diri. Maka hutan, sungai, wajah sesama yang miskin adalah "materi sakramen" lanjutan.
2. *Sintesis Teologis: Bagaimana 3 Teks Ini Mendukung Tema?*
Poros Tema Kis 2:36-41 1 Ptr 1:17-23 Luk 24:13-35 Sintesis untuk Khotbah
**Identitas Kristus** Dia *Kyrios* = YHWH Pencipta Dia *Amnos* yang menebus dengan darah Dia *Synodeuōn* yang berjalan bersama Kristus bukan cuma Penebus dosa, tapi Tuan atas ciptaan yang jalan bersama kita di dalamnya. Wajah-Nya ada di ciptaan karena Dia yang buat & tebus.
**Masalah Manusia** Hidup dalam *genea skolia* "angkatan bengkok" Hidup *mataia* "sia-sia warisan leluhur" Mata *krateō* "terhalang" Dosa membuat kita bengkok, sia-sia, dan buta. Akibatnya: kita tidak lihat Kristus di pohon, sungai, sesama. Kita salibkan Dia lagi lewat perusakan.
**Solusi Allah** Pertobatan + Baptisan = masuk komunitas baru Dilahirkan kembali oleh *Logos* yang kekal Mata dibuka saat Sabda + Roti Cara melihat wajah Kristus: 1) Bertobat dari mentalitas eksploitasi, 2) Lahir baru oleh Firman, 3) Latih mata lewat Sabda & Ekaristi.
**Buah** *Koinonia* yang berbagi harta ay.44-45 *Philadelphia anypokritos* "kasih persaudaraan yang tulus" ay.22 Murid lari bersaksi ke Yerusalem ay.33 Orang yang lihat Kristus di ciptaan otomatis jadi komunitas ekologis: berbagi, mengasihi, bersaksi dengan merawat bumi.
3. *Catatan Kritis untuk Khotbah: Peluang & Bahaya*
*Peluang Homiletis:*
1. *Jembatan dari Kristologi ke Ekologi*: Tiga teks ini memberi dasar kuat bahwa ekologi bukan isu LSM, tapi isu Kristus. Kol 1:15-20 jadi teks jembatan: "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan... segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia".
2. *Struktur Emaus sebagai metode*: Khotbah bisa pakai alur Emaus: 1. Sapalah realita umat - "kebutaan" apa yang kita alami terhadap alam? 2. Buka Kitab Suci - Kristus Tuan & Penebus. 3. Pecah Roti - ajak komitmen konkret.
3. *Bahasa Petrus*: _Paroikos_ ay.17 sangat relevan. Kita "menumpang" di bumi. Menumpang kok merusak rumah? Ini kritik tajam ke budaya konsumtif.
*Bahaya yang harus dihindari:*
1. *Panteisme*: Teks tidak pernah bilang ciptaan = Kristus. Bedakan "melihat wajah Kristus DI ciptaan" dengan "ciptaan ADALAH Kristus". Yang pertama sakramental, yang kedua sesat. Jaga pakai 1 Ptr 1:18 "ditebus... bukan dengan barang fana". Kristus melampaui ciptaan meski hadir di dalamnya.
2. *Romantisasi alam*: Luk 24 terjadi di jalan yang berbahaya, bukan taman. Kis 2 terjadi di kota konflik. Melihat wajah Kristus termasuk di ciptaan yang rusak, banjir, sampah. Salib justru terjadi di "tempat tengkorak".
3. *Moralisme tanpa anugerah*: Ketiga teks menekankan inisiatif Allah: Dia yang menjadikan Yesus Tuhan, Dia yang menebus, Dia yang buka mata. Khotbah harus mulai dari anugerah, baru ke tanggung jawab. Kalau tidak, umat pulang dengan rasa bersalah, bukan mata yang terbuka.
*Usul _Outline_ Khotbah Berbasis Analisa Ini:*
1. *Kita Buta: Emaus Masa Kini* [Luk 24:16] - Ceritakan kebutaan kita: lihat pohon hanya kayu, lihat laut hanya wisata, lihat orang miskin hanya pengganggu. Ini _genea skolia_ Kis 2:40.
2. *Kristus Membuka Mata: Dia Tuan & Tebusan* [Kis 2:36 + 1Ptr 1:19] - Karena Dia _Kyrios_ yang ciptakan & _Amnos_ yang tebus, maka setiap jengkal ciptaan punya sidik jari-Nya. _Paroikos_ 1Ptr 1:17: kita numpang di rumah-Nya.
3. *Mata Dibuka lewat Sabda & Roti, Tangan Bergerak Merawat* [Luk 24:30-35 + Kis 2:42-47] - Kalau sudah lihat, tidak bisa pulang lalu tidur. Dua murid lari 11 km malam-malam. 3000 orang langsung bentuk gaya hidup baru. Apa "lari malam-malam" kita untuk bumi hari ini?