Sudut Pandang Ketika Orang Kudus Bergumul dengan Dosa
Roma 7:13-26, tentang pergumulan bati orang sekelas Paulus, Umat Kristiani mengenal makna KUDUS dalam Alkitab tidak selalu tentang SUCI tetapi DIKHUSUSKAN, DIPILIH. Pergumulan batin Rasul Paulus, memperlihatkan bahwa Alkitab menunjukan tidak ada yang kebal terhadap pergumulan batin apalagi pergumulan itu tentang tawaran akan perbuatan dosa. Umat Kristiani, orang-orang Kudus, orang-orang yang dikhususksn, dipilih, disingkirkan dari dunia untuk memikul salib, menyangkal diri meneladan Kristus, ternyata tidak kebal dengan pergumulan batin, dan pergumulan batin tsb menunjukan adanya karya Allah dalam hidup, menunjukan karya Roh Kudus, karena ada pertempuran antara Roh dan Daging. Akankah wajah Kristus itu rusak kembali? Akan swara Roh Kudus itu tidak didengarkan?
PEMAHAMAN
Perikop ini merupakan salah satu perikop yang terkenal dan kontroversial dalam kitab Roma. Seakan-akan dalam perikop ini Paulus memperlihatkan adanya dua kepribadian dalam dirinya yang saling bertolak belakang (15-26). Ia melakukan apa yang dibencinya, bukan apa yang dikehendakinya (15-17). Ia memiliki kehendak, tetapi bukan apa yang baik meski ia mengetahui apa yang seharusnya dilakukan (18-20). Ia mengalami pergumulan untuk melakukan apa yang baik, namun di sisi lain ia sadar bahwa dalam dirinya memikirkan apa yang jahat (21-23). Dengan kata lain, perikop ini mengupas pergumulan batin Paulus antara dosa dan hidup benar.
Bagaimana mungkin orang sekaliber Paulus bergumul berat dengan dosanya? Seorang teolog bernama J.I. Packer menjelaskan seperti ini: Paulus bergumul dengan dosa bukan karena ia orang berdosa, melainkan karena ia sudah dikuduskan Allah, sudah dikhususkan, sudah dipilih, dlsb. Dosa membuatmu mati rasa. Orang yang berbuat dosa berulang kali lebih mudah terpengaruh melakukan perbuatan dosa. Alasan Paulus "bergumul" sedemikian berat karena ia tidak terperangkap dalam jaring dosa, bukan pula karena dirinya tidak berpengharapan sehingga ingin menyerah ke dalam pencobaan-pencobaan yang dihadapinya.
Karena Paulus menjalani hidup yang kudus, kepekaan terhadap Roh Allah, tidak menulikan diri pada swara Roh Kudus, dan tidak membutakan diri akan wajah Kristus yg menebus natur dosa membuat dirinya bergairah memuliakan Allah. Itulah sebabnya mengapa ia begitu sensitif saat melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan hati Allah. Ia menyadari dirinya bukan manusia sempurna dan masih dapat jatuh dalam perilaku keberdosaan. Dalam pergumulannya, Paulus tidak berakhir dalam keputusasaan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya telah menjadi milik Yesus Kristus (24-25).
Hanya dalam Kristus, kita bisa menang melawan cengkeraman dosa. Apakah Anda juga sedang bergumul berat menghadapi dosa-dosa Anda? Jika Anda dalam Kristus, pergumulan terhadap dosa itu merupakan bukti Anda telah dikuduskan Allah sehingga Anda gelisah. Karena itu, jangan menyerah dan jangan putus asa. Kristus ada di pihak kita.