PENGANTAR
Pernah nonton film sleeping with enemi? Nah ... Itu yg dilakukan Yesus main mata sama kubu sebelah? Sekongkolan dengan musuh? Sleeping with the enemy? Ini Sabda Singkat alias Sabsing , buruan safe supaya nggak hilang. Ternyata Yesus tahu teknik negoisasi Teknik Kooptasi (Co-optation). Memberikan kedudukan, peran, atau pengakuan kepada lawan/musuh sehingga mereka merasa "terlibat" dan tidak lagi melawan. Musuh dimasukkan ke dalam "lingkaran" keputusan atau struktur.Setelah diberi kedudukan, mereka lebih cenderung mendukung daripada menghancurkan sistem. Saya jelaskan ya.
Bacaan minggu ini, Matius 9, Ayat 9-13 tentang rekrutmen murid Yesus. Ini kan cerita biasa aja ya. Kan .... ada beberapa jalur rekrutmen murid ya .... Ada jalur ordal kayak Petrus dan Andreas yang tadinya followers Yohanes Pembaptis, pindah stir and gigi (mobil kale ya), Atau jalur Doa Ibu, Jakobus dan Yohanes, dan jalur lainnya, Tapi yang bikin speechless, gak bisa ngomong, Yesus kok rekrut Matthius alias Lewi, sang pemungut cukai, Telones Mohes, Mereka ini kan musuh. Pemungut cukai itu dianggap antek asing. Ingat ya cerita Zakeus bagian dari piramida industri ekstraktif yang di puncaknya tuh kaum elit oligarki dan kaum romawi, penjajah, pemungut cukai tuh ada di tengah mereka subkontraktor pemerintah romawi buat narik cukai yang menghisap kasta paling bawah nelayan, petani, dan seterusnya, ya lewat pajak ikan, pajak garam belum lagi dari Bait Allah tuh juga ada pajaknya, yah .... numpang kaya lintah itu pajak Bait Allah. Ya ..... jadi sangat menekan, nah .... Mateus direkrut jalur influencer "follow me" alias ikutlah Aku kata yesus dan dia langsung jadi follower segitu hebatnya panggilan yesus, tapi bagi yang menganggap diri circle terdekat Yesus, diam-diam mereka heboh. Diam-diam kok heboh ya? Heboh kok diam-diam? Bayangin, nelayan kayak Petrus, Andreas, Yohannes, belum lagi nantinya ada Simon Orang zelot, si nasionalis keras-keras yang anti-rumahwi (eh .... Romawi) banget, mereka semua tiba-tiba harus satu tongkrongan sama Matthieus, si public enemy number one, musuh rakyat nomor satu, yang kerjanya justru memeras mereka.Yesus itu maunya apa sih?Dia juga diprotes sama tokoh agama, orang-orang parisi ... Eh .... Farisi. Malah Yesus mengeluarkan panselanya, alias quotes atau boleh dikata perumpamaan atau peribahasanya sebagai senjata pamungkas. "Bukan orang sehat yang butuh tabib, tapi orang sakit". Yesus juga mengutip Nabi Hosea, Aku menyukai kasih setia, bukan korban sembelihan. Nah, kata kasih setia, bahasa Ibraninya Khesed. Bukan sekedar kasihan, tapi cinta yang penah, penuh komitmen, dan siap mendobrak struktur.Sakit pun di sini bukan cuma batuk pilek. Ini soal sistem yang bikin si miskin diinjak-injak,mati tercekik, dan si kaya makin serakah, kaya negeri kita tercinta, negeri Konoha, Ini akar dendam kesumat antara yang ditindas dan yang menindas. Khesed adalah kasih setia, cinta yang penuh komitment dan siap mendobrak struktur yang ada di masyarakat, Jadi Yesus menyembuhkan Luka struktural sosial di masyarakat itu lewat Khesed, kasih setia Allah, dan rekonsiliasi / pendamaian, Yesus mendudukan si penindas dan tertindas di satu meja makan, pemuridan bukan masalah belajar teologi, tetapi belajar berproses untuk rekonsiliasi dengan orang yang dianggap musuh dan menjadi mitra Allah menyembuhkan Luka sosial dalam masyarakat. Ternyata Yesus tahu teknik negoisasi Teknik Kooptasi (Co-optation) ..... Wk ..... Wk ..... Wk. . Panggilan Tanpa Kondisi: "Ikutlah Aku" (ayat 9)
Yesus menerapkan prinsip negosiasi kooperatif (koprasi) dengan membangun relasi tanpa persyaratan awal. Yesus memanggil Matius tanpa meminta dia berhenti dulu sebagai pemungut cukai. Ia melihat Matius duduk di rumah cukai dan langsung memanggilnya tanpa kondisi. Ini menunjukkan pendekatan yang inklusif, tidak eksklusif. Makan Bersama: Membangun Trust/kepercayaan (ayat 10-11)
Dalam negosiasi kooperatif, menciptakan ruang bersama sangat penting untuk membangun kepercayaan. Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa di rumah Matius. Ia tidak menjaga jarak seperti orang Farisi, melainkan menjebol batas sosial-religius. Makan bersama menciptakan keterbukaan untuk transformasi dan membangun rapport antara Yesus dan Matius. Belas Kasihan versus Ritual (ayat 12-13)
Yesus menjawab orang Farisi dengan prinsip negosiasi kooperatif yang berfokus pada kebutuhan, bukan penghakiman:
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit"
"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"
Yesus fokus pada kebutuhan orang sakit/berdosa, bukan menghukum masa lalu mereka. Ia mengutamakan belas kasihan daripada ritual persembahan keagamaan. Tujuan kolaborasinya jelas: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Matius langsung berdiri dan mengikut Yesus tanpa ragu. Keterbukaan hati adalah kunci dalam negosiasi kooperatif. Matius meninggalkan masa lalu dan berubah total, menunjukkan bahwa panggilan Yesus efektif karena diterima dengan hati yang terbuka. Negosiasi sebagai Belas Kasihan
Dalam negosiasi kooperatif, yang dicari adalah solusi bersama (bukan kemenangan satu pihak), relasi jangka panjang (bukan transaksi sekali), dan empati serta pemahaman (bukan penghakiman). Yesus dalam Matius 9:9-13 menunjukkan bahwa Ia tidak mengnegosiasikan syarat pertobatan dulu sebelum menerima Matius. Ia makan bersama untuk membangun kepercayaan sebelum menuntut perubahan. Ia prioritaskan belas kasihan daripada ritual keagamaan yang kaku.
"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" — ini adalah prinsip negosiasi yang berpusat pada manusia dan kebutuhan, bukan pada aturan dan penghakiman. Panggilan Yesus kepada Matius menunjukkan bahwa transformasi terjadi melalui relasi, belas kasihan, dan penerimaan, bukan melalui syarat, penghakiman, atau ritual. Ini adalah model negosiasi kooperatif yang sejati: berpusat pada kasih dan pemulihan, bukan pada kekuasaan dan kemenangan. Masalah apapun yang terjadi, tetap ulurkan tangan kita serta berilah salam, tetaplah tersenyum. Kritik tanpa kebencian itu menunjukan kedewasaan, menerima kritik tanpa baperan itu kedewasaan, marilah berdiskusi, dalam duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
(06062026)(TUS)