Suasana malam itu cukup tenang. Aroma sate usus yang dibakar, jahe gepuk hangat, dan asap arang dari gerobak angkringan menyelimuti sudut jalan.
Di atas bangku kayu panjang, seorang pria dengan kemeja rapi dan dasi yang sudah dilonggarkan, seorang Hakim,.duduk merenung di depan segelas kopi joss (kopi yang dicelup arang panas).
Di sebelahnya, duduk seorang Pria sederhana berjubah kain kasar namun bersih, wajah-Nya teduh, sedang memegang segelas susu jahe. Namanya Yesus.
Hakim: (Menghela napas panjang, menatap bara di dalam kopi) "Berat, Mas. Rasanya punggung saya mau patah setiap kali harus mengetuk palu itu."
Yesus: (Tersenyum kecil, menyeruput jahenya) "Aku tahu. Meja hijau itu memang bukan tempat untuk mereka yang ingin tidur nyenyak, bukan?"
Hakim: (Menoleh kaget) "Kok tahu? Ah, mungkin wajah saya memang penuh beban. Mas, jujur saja... kadang saya bingung. Hukum di buku bilang A, tapi hati nurani saya bilang B. Belum lagi tekanan dari sana-sini. Adil itu... ternyata jauh lebih mahal dari harga nasi kucing ini."
Yesus: "Adil itu bukan sekadar angka atau pasal, Sahabat-Ku. Kamu tahu, dulu ada cerita tentang seseorang juga pernah berdiri di hadapan seorang hakim. Namanya Pilatus. Dia tahu apa yang benar, tapi dia lebih memilih mencuci tangan karena takut pada suara orang banyak."
Hakim: (Terdiam, menaruh gelasnya) "Pilatus... ya, kami sering menjadikan dia contoh buruk di sekolah hukum. Tapi sekarang saya paham posisi dia. Sulit untuk jujur saat kursi jabatanmu dipertaruhkan. Mas, bagaimana cara tetap adil tanpa menjadi 'jahat'?"
Yesus: "Keadilan tanpa kasih itu bisa jadi kejam. Tapi kasih tanpa keadilan itu lemah. Rahasianya ada pada kejujuranmu pada diri sendiri saat tidak ada orang yang melihat. Kamu bukan menghakimi kertas atau berkas; kamu sedang menyentuh hidup manusia."
Hakim: "Tapi manusia itu pembohong, Mas. Di ruang sidang, semua orang pakai topeng. Saya harus percaya pada siapa?"
Yesus: "Carilah kebenaran, bukan sekadar pembenaran. Kebenaran itu seperti cahaya; dia tidak butuh suara keras untuk membuktikan keberadaannya. Dan ingatlah, setiap kali kamu mengetuk palu untuk membela yang lemah, kamu sedang meminjamkan suaramu kepada mereka yang tidak punya suara."
Hakim: (Tersenyum getir) "Mas bicara seolah-olah Mas ini Hakim yang sesungguhnya."
Yesus: (Menepuk bahu sang hakim dengan lembut) "Aku hanya orang yang sering mampir ke tempat-tempat di mana orang merasa tidak sanggup lagi membawa bebannya sendiri. Malam ini, biar Aku yang memegang bebanmu sebentar. Habiskan kopimu, besok kamu punya tugas besar lagi."
Hakim: "Terima kasih, Mas. Rasanya... hati saya sedikit lebih ringan. Omong-omong, siapa nama Mas?"
Yesus: (Berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar minumannya) "Panggil saja Aku 'Sang Jalan'. Karena di setiap persimpangan keputusanmu, Aku biasanya sedang menunggu di sana."
Pria itu berjalan menjauh ke dalam kegelapan malam, meninggalkan sang Hakim yang masih menatap asap kopi joss-nya, menyadari bahwa hatinya tidak lagi sedingin ruang sidang.