Kamis, 04 Juni 2026

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 2), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 9:9-13,18-26 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] (ditambah Matius 25:31-46, bagian ke 2), 𝗕𝗲𝗹𝗮𝘀 𝗸𝗮𝘀𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗽𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵  [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗫𝗫𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]

PENGANTAR 
Di pengujung kalender gerejawi Tahun A tema yang disajikan adalah eskatologis (penantian kedatangan Yesus kembali) yang didahului dengan sastra apokaliptik (penyingkapan) di Matius 24:1-36. Bacaan terakhir Tahun A adalah tentang penghakiman terakhir pada akhir zaman. Di dalam Injil Matius akhir zaman bukan berarti akhir dunia. Akhir zaman bukan kiamat. Akhir zaman di sini adalah masa si jahat berakhir (bdk. Mat. 24:3 dan 28:20). Dunia tetap bergerak maju ke arah yang sejak mulanya ditetapkan oleh Allah. Bacaan Injil Minggu kedua puluh enam setelah Pentakosta, ini dipakai sebagai pengganti bacaan Injil Minggu ke 2 setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 25:31-46 yang didahului dengan Yehezkiel 34:11-16, 20-24, Mazmur 95:1-7a, dan Efesus 1:15-23.Minggu 07 Juni 2026, Saya selalu mengatakan hidup ini tidak ideal, bahkan lebih sering lucu menggemaskan alias wagu (Jawa). Dalam kondisi ketidak idealan tsb kita dituntut sikap etis atas kehidupan yang mendemonstrasikan bahwa Alkitab masih relevan dalam hidup orang beriman lewat proses juang meneladan Kristus dan mewujudkan hikmat pengajaranNya dalam hidup. Sangat membagongkan , sebuah sinode yg berseru ada dalam gerak kebersamaan atau gerak ekuminis menggunakan kalender liturgi dan liturgi leksionari, tetapi saat membuat bahan khotbah malah menggeser bacaan Injil, Matius 25 : 31-46 adalah bacaan Injil untuk Minggu 26 setelah Pentakosta, susunan itu sudah diatur sedemikian rupa, lah ..... Kok malah digeser menjadi bacaan Injil Minggu 2 setelah Pentakosta (Matius 9 :9-13,18-26), kan .... kalau mau usaha dikit kan ya seharusnya solusinya lebih manis, membagongkan kemudian menulis dalam tulisan miring dalam kurung di bahan khotbah sbb : (Untuk keperluan Bulan Kesaksian dan Pelayanan, bacaan yang 
digunakan adalah Matius 25:31-46/ di luar leksionari). Padahal, Sinode ini memakai bahan Matius 25:31-46 untuk mengusung tema lembaga Kristen yang berdampak sebagai pergumulan dalam bulan kesaksian dan pelayanan, yg dalam sudut pandang saya pribadi tema itu malah lebih tepat memakai Matius 9:9-13,18-26). Maka, perkenankan saya mengulas bacaan Injil Matius 25:31-26, sebagai pembanding thp arah tema bulan kesaksian dan pelayanan.
PEMAHAMAN 
Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. Teks ini bukanlah perumpamaan, melainkan ilustrasi atau penggambaran apokaliptik tentang penghakiman terakhir. Konteks bacaan adalah Matius 24-25 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘡𝘢𝘮𝘢𝘯. Dapat dikatakan bacaan Injil Minggu ini merupakan mahkota wejangan Yesus dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘡𝘢𝘮𝘢𝘯. Mahkota wejangan-Nya pun tidak dinyana: Tindakan belas kasihan berdampak kekal.

Pengulasan bacaan dapat dibagi ke dalam dua bagian.
▶️ Matius 25:31-40 Melakukannya untuk Aku
▶️ Matius 25:41-46 Tidak melakukannya untuk Aku

𝗠𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗸𝘂 (Mat. 25:31-40)

“𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢, 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘬𝘩𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. (ay. 31) 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨. (ay. 32) 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢-𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨-𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘳𝘪-𝘕𝘺𝘢. (ay. 33) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢: 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘩𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶, 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯. (ay. 34) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯; (ay. 35) 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘈𝘬𝘶. (ay. 36) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘋𝘪𝘢: 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮? (ay. 37) 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯? (ay. 38) 𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶? (ay. 39) 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶.” (ay. 40) (TB II 2023)

Sebelum teks ini kita dapat membaca bahwa Yesus sudah bernubuat dalam bahasa apokaliptik mengenai kedatangan Anak Manusia (Mat. 24:29-31). Sekarang kita melihat gambaran pengadilan terakhir yang akan dijalankan oleh Anak Manusia pada saat kedatangan-Nya dan ukuran yang akan digunakan-Nya. 

Siapakah Anak Manusia itu? Kalau kita membaca perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 (Mat. 16:13-20), sebutan itu jelas untuk Yesus. Mengapa disebut itu? Di Injil Matius sebutan Anak Manusia untuk Yesus kali pertama muncul di Matius 8:20. Umat Kristen memahami Anak Manusia di bawah terang kitab Daniel 7:13. Anak Manusia merupakan ungkapan yang ditujukan kepada orang yang datang dengan wibawa dan wewenang ilahi. Di ayat 31 kemuliaan Anak Manusia diperikan sebagai kemuliaan Raja. Takhta kemuliaan dalam sastra apokaliptik lazimnya diduduki oleh Allah (lih. Dan. 7; Why. 4). Namun, di Injil Matius takhta diduduki oleh Anak Manusia. Yesus yang menjadi tokoh pusat.

𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 di ayat 32 bukannya tanpa kesulitan untuk ditafsir. Banyak ahli berpendapat, apabila dihubungkan dengan Matius 28:19, semua bangsa adalah semua orang tanpa kecuali. Semua bangsa dikumpulkan bukan untuk dipilahkan bangsa yang benar dari bangsa yang jahat, melainkan seorang atau individu yang benar dari individu yang jahat. Individu-individu yang benar ditempatkan di sebelah kanan Anak Manusia yang Raja, sedang individu-individu yang jahat di sebelah kiri-Nya. Pemerian ini bercorak Yahudi. Posisi kanan dianggap khusus dan terhormat.

Frase 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 (ay. 34) diterjemahkan dari 𝘬𝘭o𝘳𝘰𝘯𝘰𝘮o𝘴𝘢𝘵𝘦 yang berarti literal 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘪𝘭𝘢𝘩. Di kehidupan gereja kita sering mendengar ungkapan bahwa 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢. Ini salah. Orang percaya adalah ahli waris, bukan pewaris. Pewaris adalah pemberi waris. Pewaris adalah Allah.

Apabila semua bangsa di atas adalah semua orang tanpa kecuali, bagaimana dengan mereka yang tidak pernah mendengar Injil? Jawaban Sang Raja di luar dugaan, tak dinyana: 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 … (lih. ay. 35-36). Sang Raja kemudian meringkas jawabannya: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (lih. ay. 40) Lebih ringkas lagi: berbelas kasihan. Sama sekali tidak ada syarat melakukan banyak “pelayanan” di gereja atau rajin pergi beribadah. Perbuatan kasih rupanya menjadi satu-satunya ukuran dalam 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.

Siapakah 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 di ayat 40 itu? Perlu dipahami bahwa Injil Matius ditulis untuk jemaat Kristen dari kalangan Yahudi. Pengarang Injil Matius tampaknya mencerap bahwa mereka sudah memahami Kitab Suci Yahudi (Perjanijan Lama) yang memberi perintah untuk berbelarasa kepada orang-orang miskin, masyarakat pinggiran, sehingga Matius tidak perlu secara eksplisit menulis tema itu seperti kisah 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 di Matius 19:16-26. Bandingkan dengan Injil Lukas yang menulis secara vulgar mengecam orang-orang kaya yang tidak berbelarasa kepada masyarakat pinggiran. Injil Lukas ditulis untuk jemaat Kristen dari kalangan kafir, yang tidak mengenal Kitab Suci Yahudi. Jadi, frase 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 dapat dikatakan merujuk setiap orang yang memerlukan pertolongan. Ini sejalan dengan teologi Matius yang mengusung Injil untuk segala bangsa. Jika kita bandingkan dengan Rasul Paulus yang berasal dari kaum Farisi, ia mengatakan bahwa orang-orang kafir akan dibenarkan karena mereka melakukan hukum kasih (lih. Rm. 2:12-16; 13:8-10).

Perlu dicatat di sini yang disebut dengan 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 di ayat 37 di atas dan di ayat 46 di bawah adalah orang-orang yang dibenarkan oleh Allah. Dalam pada itu 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 di Matius 9:9-13 adalah sindiran Yesus kepada orang Farisi yang mengganggap dirinya benar.

𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗔𝗸𝘂 (Mat. 25:41-46)

“𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘳𝘪-𝘕𝘺𝘢: 𝘌𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘒𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬, 𝘦𝘯𝘺𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵-𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢. (ay. 41) 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮; (ay. 42) 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯; 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (ay. 43) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘶𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶? (ay. 44) 𝘐𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢: 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘬𝘶. (ay. 45) 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.” (ay. 46) (TB II 2023)

Bagian kedua ini berkebalikan dengan bagian pertama. Seperti cermin. Simetris. Seperti halnya bagian pertama ada enam contoh penderitaan yang disampaikan oleh Sang Raja. Sebagian dari mereka sangat boleh jadi tidak membenci sesamanya. Akan tetapi antonim dari mencintai bukanlah membenci, melainkan tidak peduli. Mereka tidak peduli kepada sesama. Tidak berbelas kasihan kepada orang yang butuh pertolongan sama saja tidak melakukan untuk Sang Raja.

Pemerian hukuman kekal dalam gaya bahasa apokaliptik menjadi refrain dalam Injil Matius (lih. Mat. 8:12; 13:42, 50; 18:8; 22:13; 24:51). Pelaksanaan keputusan dikisahkan dalam urutan terbalik dengan proses penghakiman sehingga cerita apokaliptik berakhir dengan nada positif 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭.

Ketika Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, orang-orang yang menderita menjadi keprihatinan-Nya. Berbelarasa kepada mereka dan mengabdi kepada Kristus merupakan satu-kesatuan. Melayani kebutuhan orang-orang paling lemah, masyarakat pinggiran, sama saja melayani Kristus.

(26112023)