Sudut Pandang 𝗨𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗸𝗲𝗯𝗮𝗹𝗮𝗻
(Pengalaman melihat celah yang tidak baik dari sebuah webbinar)
PENGANTAR
Jadikan kebiasaan untuk berdiskusi sebagai wahana menambah pengetahuan. Saling memberikan kritik dengan argumentasi yang jelas berdasar serta jembatan nalarnya sistematik itu hal yang lumrah dan biasa, wajar itu. Biasakanlah dengan dewasa seperti itu, tidak ada yang merendahkan dan tidak ada yang mrmbenci apalagi baperan.
Saban kali saya melihat ada yang melayangkan kritik kepada pimpinsn gereja apalagi pimpinan sebuah sinode, repot lagi pejabat pemerintahan, kerap muncul kalimat-kalimat yang terdengar rohani:
“Jangan menghakimi.”
“Jangan menyerang orang yang diurapi Tuhan.”
“Jangan gosipin hamba Tuhan.”
Sekilas tampak saleh. Namun, sering kalimat-kalimat itu berubah fungsi dari pagar menjadi pentungan: awalnya cuma menghalangi, lama-lama memukul untuk membungkam suara umat, bahkan masyarakat. Yang jarang disadari oleh banyak orang: urapan bukan kekebalan. Urapan itu jabatan.
Namanya jabatan ya dapat ditanggalkan dan pemangkunya dapat dikritik. Buktinya?
▶️ Saul diurapi. Ia ditolak Tuhan, jabatannya lepas (1Sam. 15:23).
▶️ Daud juga diurapi. Ia ditegur keras oleh Nabi Natan, “Engkaulah orang itu!” (2Sam. 12:7).
▶️ Rasul Petrus juga dikiritik sebagai orang munafik oleh Paulus (Gal. 2:11).
Tidak ada satu pun kisah yang menunjukkan bahwa urapan membuat seseorang kebal kritik. Sebaliknya, urapan justru menempatkan seseorang di bawah tuntutan integritas yang lebih tinggi. Ketika ungkapan 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘶𝘳𝘢𝘱𝘪 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 dipakai untuk menutup ruang koreksi, yang terjadi bukan perlindungan rohani, melainkan 𝗸𝗼𝗿𝘂𝗽𝘀𝗶 rohani.
Lalu bagaimana dengan 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪?
Ungkapan ini acap dikutip dari Injil Matius 7, seolah-olah itu larangan total untuk menilai apa pun. Padahal konteksnya jelas: yang dilarang adalah menghakimi motif hati orang, mendaku tahu isi batin dan menempatkan diri sebagai hakim terakhir. Hal itu berbeda dari menguji perbuatan, menilai ajaran, dan membedakan yang benar dan yang salah. Tanpa pembedaan itu iman kehilangan daya kritisnya, dan Gereja kehilangan keberaniannya untuk bertobat.Kalau sudah begitu, urapan bukan lagi mahkota pelayanan. Ia berubah jadi tameng kekuasaan. Pada aras itu yang dibutuhkan Gereja bukan tambahan suara untuk memerkuat kuasa, melainkan keberanian untuk membuka telinga.
Gereja tidak kekurangan suara; yang kurang adalah telinga.
(13042026)(TUS)