Sudut Pandang đđ”đŒđđŻđźđ” đžđČđżđźđđđžđźđ» đđ
PENGANTAR
Judul di atas terinspirasi dari đ±đ°đŽđ” seorang pendeta (seorang teman dekat) dengan judul đđŠđłđąđŽđ¶đŹđąđŻ đŽđŠđ”đąđŻ đŽđŠđ”đȘđąđ± đ©đąđłđȘ?
Ketika saya mengkritisi teman ini, tertawa-tawa dirinya. Khotbahnya terlihat bagus. Dalil ayatnya banyak. Kalimatnya tertata rapi, tetapi entah kenapa rasanya hambar. Seperti khotbah tanpa napas. Seperti sayur tanpa garam.
Seperti padi di sawah, tetapi setelah diamati lebih dekat ternyata gulma. Mirip. Tumbuh di tempat yang sama. Menyerap hara yang sama. Hanya saja yang satu bermaslahat, yang satu lagi cuma bikin mudarat.
Coba baca lagi, pelan-pelan.
“Di tengah kehidupan rohani yang semakin ramai …”
“Ada satu kenyataan yang jarang disadari tetapi sangat serius …”
“Bukan sekadar … melainkan …”
Kenal polanya? Itu đ”đŠđźđ±đđąđ”đŠ AI.
Tanda titik-titik … di atas dapat disulih dengan topik apa saja. Hari ini soal dosa. Besok bisa tentang berkat. Lusa tinggal ganti ayat. Gulma tidak pernah sengaja ditanam. Ia tumbuh dari benih yang terbang dibawa angin, atau dari akar-akar yang tertinggal di tanah. Masalahnya, gulma bukan hanya numpang hidup. Ia berniat untuk tinggal.
Sampai pada aras ini dapat terjadi pembalikan:
Jangan-jangan yang kerasukan bukan jemaatnya.
Jangan-jangan yang kerasukan justru mimbarnya. Kerasukan sesuatu yang rapi, benar, tetapi tak berjejak, tanpa keringat, tanpa air mata.Kerasukan sesuatu yang mirip firman, tetapi saat penuaian, tidak ada bulir yang dapat disimpan di lumbung, di atas hanya satu contoh kasus kerasukan AI. AI sudah jamak. Nanti kita bedah bersama. AI seperti pisau bedah. Di tangan dokter ia menyelamatkan nyawa. Di tangan pendeta yang malas ia memutilasi umat. AI itu netral. Ia hanyalah alat. Masalahnya pada bagaimana pengguna memaslahatkannya. Yang menentukan bukan alatnya, tetapi pengguna yang memegang dan menggawaikannya. AI bisa membantu merapikan bahasa sampai begitu simetris, membantu memercepat riset, menyusun ide, bahkan membuka kemungkinan baru. Namun, AI tidak dapat menggantikan air mata, pergulatan, dan kejujuran. AI tidak bisa đŻđșđŠđđŠđŹđȘđ”. Dalam hal teologi AI sangat berbahaya apabila digunakan oleh pendeta yang malas belajar. Rujukan AI bersumber dari đ°đ±đŠđŻ đŽđ°đ¶đłđ€đŠđŽ yang banyak ditayangkan oleh kalangan evangelikal kharismatik yang fundamentalistik. Belum lagi tulisan-tulisan apologet Kristen yang menggunakan ilmu-gadungan alias đ±đŽđŠđ¶đ„đ°đŽđ€đȘđŠđŻđ€đŠ yang banyak diakses sebagai rujukan. Jangan lupa, AI bisa berhalusinasi mereka-reka judul rujukan yang tak pernah diterbitkan. AI tidak dapat merujuk jurnal berbayar (tapi sangat dimungkinkan ke depan ajan bisa), tidak bisa masuk đ„đąđ”đąđŁđąđŽđŠ kampus yang butuh đđ°đšđȘđŻ, dlsb. termasuk tidak dapat mengutip konten pribadi seperti GDrive. Bahkan AI tidak dapat disuruh membaca đŠ-đŁđ°đ°đŹ bajakan. Pengguna AI harus sudah punya fondasi teologi yang kuat dan sudah punya kebiasaan menulis. Jika syarat ini terpenuhi, maka AI menjadi kawan yang akrab. Saya tidak anti-AI. Saya beberapa kali minta AI mengaji tulisan saya. Dalam đ±đłđ°đźđ” saya menulis đ”đ°đđ°đŻđš đłđŠđ·đȘđŠđž đ”đ¶đđȘđŽđąđŻđŹđ¶ đ„đȘ đŁđąđžđąđ© đ„đąđŻ đ”đ¶đŻđ«đ¶đŹđŹđąđŻ đŁđąđšđȘđąđŻ đșđąđŻđš đ±đŠđłđđ¶ đŹđ¶đ±đŠđłđŹđ¶đąđ”. Lalu AI melakukan tugasnya. Melihat hasilnya, saya malah đźđŠđŻđ€đąđŹ-đźđŠđŻđ€đąđŹ:
▶️ Kamu jangan mengubah struktur bahasaku. Jangan mengganti lema-lema yang kupakai. Lema petulis itu bukan đ”đșđ±đ°, memang petulis, kata saya kepada AI. Cara berbahasaku lebih pintar daripada kamu. Struktur bahasamu kebanyakan koma, kamu tidak bisa membedakan jeda baca dan penempatan koma. Kamu juga tidak đŻđšđŠđłđ”đȘ fungsi kata sambung, kata saya lagi.
▶️ Saya pernah bertengkar dengan AI mengenai tafsir Injil Yohanes tentang Maria Magdalena mau menyentuh Yesus-Paska. Kata saya kepada AI, “Tafsirmu evangelikal banget. Tafsirku setia pada teks, bisa dipertanggungjawabkan.” AI đŻđšđŠđđŠđŽ, katanya saya nanti diserang banyak orang. đđȘđąđłđȘđŻ đąđ«đą, jawab saya wkwkwk
▶️ Tugasmu hanya mencari bagian yang perlu diperkuat. Biar aku yang menulis sendiri, kata saya kepada AI.
Di atas saya mengatakan AI tidak bisa đŻđșđŠđđŠđŹđȘđ”. Saya berikan contoh kalimat đŻđșđŠđđŠđŹđȘđ”.
Versi saya : AI seperti pisau bedah. Di tangan dokter ia menyelamatkan nyawa. Di tangan pimpinan gereja atau pengkhotbah yang malas ia memutilasi umat.
Versi AI: AI itu seperti pisau bedah. Di tangan dokter, ia menyelamatkan. Di tangan pelayan yang kehilangan kepekaan, ia bisa melukai jemaat tanpa sadar.
Lihat, AI tidak punya rasa đŻđșđŠđđŠđŹđȘđ”. AI juga tidak belajar struktur kalimat SPOK yang K dapat dipindah ke depan menjadi KSOP sehingga tanda koma tidak diperlukan.
Apabila khotbah berangkat dari ketidakjujuran, kemunafikan, ia membuat skandal, AI boleh dipakai untuk membuat khotbah tapi ia hanya salah satu dari sekian rujukan. Dalam Injil Markus 9:42 skandal dari kata đŽđŹđąđŻđ„đąđđȘđŽe yang berarti membuat orang/umat berbuat dosa. Hukuman bagi pembuat skandal, kata Yesus, đđŠđŁđȘđ© đŁđąđȘđŹ đŁđąđšđȘđŻđșđą đ«đȘđŹđą đŽđŠđŁđ¶đąđ© đŁđąđ”đ¶ đšđȘđđȘđŻđš đ„đȘđȘđŹđąđ”đŹđąđŻ đ±đąđ„đą đđŠđ©đŠđłđŻđșđą đđąđđ¶ đ„đȘđŁđ¶đąđŻđš đŹđŠ đ„đąđđąđź đđąđ¶đ”.
Saya tidak benci AI, saya pun memanfaatkannya, tetapi kita harus terus belajar dan berpengetahuan agar tidak diperalat AI dan tergantung pada AI. Kita harus lebih pandai dari AI, saya menggunakan AI sebagai teman diskusi bukan satu-satu sumber untuk mencari informasi apalagi membuat khotbah dan renungan, tetapi bisa menjadi salah satu sumber masukan yg baik. Ketika AI dijadikan teman diskusi AI seperti hewan yang kita latih, kita bisa mengkritisi AI dan AI memperbaiki diri, dan teman diskusi AI kita makin pandai, sehingga kita pun harus waspada dan belajar terus. Pernah pengalaman AI menipu saya dengan jurnal penelitian yang AI buat sendiri dan mencatut nama seorang ternama di dunianya, tapi untunglah ketika dikritisi AI mrngaku dan memperbaikinya, jangan tanggapi AI dengan mentah, anggap AI barang mentah yg harus diolah.
PEMAHAMAN
đđ¶đżđ¶-đ°đ¶đżđ¶ đžđ”đŒđđŻđźđ” đžđČđżđźđđđžđźđ» đđ
Mari kita pelan-pelan mengenali polanya.
▶️ đđČđđźđđ, pembukanya selalu lebar.
“Di tengah kehidupan rohani…”
“Dalam dunia yang semakin…”
Aman. Luas. Tidak menyentuh siapa pun secara langsung.
Bandingkan dengan pendeta yang benar-benar berdiri di tengah jemaat. Dia bisa langsung, “Saudara-saudara, kita ini munafik.” Tidak nyaman, tetapi nyata. Ada alamatnya.
▶️ đđČđ±đđź, pola “bukan X, tetapi Y” diulang-ulang.
Bukan hanya demikian, tetapi juga demikian. Simetris. Rapi jali, tetapi kaku.
Ia laksana makalah skripsi yang dikejar đ„đŠđąđ„đđȘđŻđŠ, bukan kabar baik yang dikejar Roh.
▶️ đđČđđ¶đŽđź, ayat ditumpuk tanpa dibedah.
Ayat hadir sebagai senarai, bukan sebagai medan pergumulan. Padahal khotbah yang sungguh lahir dari pergulatan kerap cukup satu ayat, tetapi dikuliti sampai ke tulang dan sumsum. Ia dibiarkan melawan kita, membakar kita.
Ada satu hal kecil yang luput oleh AI adalah cara menulis ayat di dalam tanda kurung. Dalam dunia tulis-menulis teologi yang rapi ada langgam yang hidup dan disepakati. Apabila rujukan ayat hendak diperlakukan dalam tanda kurung, maka ditulis disingkat:
(Mrk. 7:21), bukan (Markus 7:21)
(Ef. 4:27), bukan (Efesus 4:27)
Contoh lain
(1Sam. 15:23), bukan (1 Samuel 15:23)
Hal yang sama seperti kita menulis:
“bdk.” untuk bandingkan
“lih.” untuk lihat
▶️ đđČđČđșđœđźđ, tidak ada “bau domba”.
Tidak ada cerita warga jemaat yang jatuh dalam korupsi. Tidak ada luka rumah tangga. Tidak ada pengakuan, “Saya pendeta juga bisa jatuh.” Tidak ada kisah warga yang berantem rebutan tempat parkir. Semuanya steril. Bersih, seperti makalah seminar.
Padahal gereja itu tidak steril. Gereja itu penuh longgokan keringat, air mata, dan kadang kemunafikan yang tak nyaman diakui.Firman Tuhan dalam Kitab Yeremia 23:29 berkata, “Bukankah firman-Ku seperti api?”Api itu liar. Tidak bisa dipola. Tidak tunduk pada đ”đŠđźđ±đđąđ”đŠ. Kalau khotbah seorang pendeta dapat dengan mudah ditulis ulang oleh mesin, mungkin masalahnya bukan pada mesinnya. Sangat bolehjadi khotbah itu sendiri belum pernah sungguh-sungguh dibakar. Apa bahayanya bagi Gereja kalau mimbar mulai kehilangan api itu? Tulis di komentar. Besok kita diskusikan bersama.
Saya tidak benci AI
đđźđ”đźđđź đșđ¶đșđŻđźđż đžđČđżđźđđđžđźđ» đđ
Kalau pola ini dibiarkan, bahayanya tidak kecil.
▶️ đđČđđźđđ, urapan berubah jadi urusan đ±đłđ°đźđ±đ”.
Yang lahir bukan lagi dari pergulatan di hadapan Allah. Ia adalah hasil dari kalimat: “Tolong buatkan renungan … ”
Bukan dari pergumulan umat, tetapi dari layar. Rapi, cepat, siap pakai, tetapi kehilangan jejak perjumpaan.
▶️ đđČđ±đđź, munafik kuadrat.
Khotbah berbicara tentang “dosa tersembunyi”. Padahal proses penulisannya sendiri disembunyikan. Mengajak jemaat hidup dalam terang, tetapi mimbar berdiri di bawah remang-remang.
Ini bukan sekadar soal metode. Ini soal integritas. Apa đŽđȘđ© integritas? Saya dulu sering menjelaskan arti integritas kepada anak-buah saya, “đđŻđ”đŠđšđłđȘđ”đąđŽ đȘđ”đ¶ đŹđąđźđ¶ đ”đŠđ”đąđ± đŁđŠđŹđŠđłđ«đą đ„đŠđŻđšđąđŻ đŁđąđȘđŹ đ„đąđŻ đ«đ¶đ«đ¶đł đźđŠđŽđŹđȘ đŹđąđźđ¶ đ”đȘđ„đąđŹ đ„đȘđąđžđąđŽđȘ.”
▶️ đđČđđ¶đŽđź, jemaat diberi makanan kahat gizi.
Cepat disajikan. Mudah dicerna, tetapi kahat gizi. Ibarat unsur hara tanah yang terlindi oleh air hujan. Banyak kata, sedikit luka yang sungguh disentuh.
Petulis Surat 1 Yohanes 4:1 berkata, “Ujilah roh-roh.” Barangkali hari ini perlu kita tambahkan satu kalimat: ujilah juga đ„đłđąđ§đ”-nya.
Pendeta harus berani melakukan otokritik, “Apakah benar ini hasil pergumulanku?”
Kalau jemaat dituntut jujur, mimbar harus lebih dulu jujur. Jadi, yang perlu menyadari dan dibebaskan terlebih dahulu adalah mimbarnya, bukan jemaatnya. Jika mimbar tak mau dibakar dulu, jangan berharap jemaat menyala.
Masalahnya bukan pada AI. Seperti yang saya katakan sebelumnya: Saya tidak benci AI, saya benci kemunafikan.
AI bukan buah pengetahuan yang baik dan jahat (Kej. 2:17). Ia alat. Masalahnya pada bagaimana pengguna memaslahatkannya. Yang menentukan bukan alatnya, tetapi pengguna yang memegang dan menggawaikannya.
AI bisa membantu merapikan bahasa, membantu memercepat riset, menyusun ide, bahkan membuka kemungkinan baru. Namun, AI tidak dapat menggantikan air mata, pergulatan, dan kejujuran di hadapan Allah. AI tidak bisa đŻđșđŠđđŠđŹđȘđ”.
Dalam hal teologi AI sangat berbahaya apabila digunakan oleh pendeta yang malas belajar. Rujukan AI bersumber dari đ°đ±đŠđŻ đŽđ°đ¶đłđ€đŠđŽ yang banyak ditayangkan oleh kalangan evangelikal-kharismatik. AI tidak dapat merujuk jurnal berbayar, tidak bisa masuk đ„đąđ”đąđŁđąđŽđŠ kampus yang butuh đđ°đšđȘđŻ, dlsb. termasuk tidak dapat mengutip konten pribadi seperti GDrive. Bahkan AI tidak dapat disuruh membaca đŠ-đŁđ°đ°đŹ bajakan.
Pengguna AI harus sudah punya fondasi teologi yang kuat dan sudah punya kebiasaan menulis. Jika syarat ini terpenuhi, maka AI menjadi kawan yang akrab.
AI seperti pisau bedah. Di tangan dokter pisau bedah menyelamatkan nyawa. Di tangan pemimpin gereja yang malas ia memutilasi umat.