PENGANTAR
Saya membaca kalimat Surya/Candra sengkala "Roso Manembah Sonya Netra" (2026) di flyer gereja (atau apa namanya yg tepat saya tidak mengerti), mengingatkan saya bahwa ibadah meditasi seperti taize dan Sabtu sunyi memang perlu ada di gereja, membuat saya tertarik untuk memaknainya secara pribadi juga menuliskannya, saya tidak cukup pengetahuan tentang Candra/Surya sengkala (menurut alm eyang Soemardi dulu yang betul katanya Candra sengkala karena Surya sengkala itu disebut saka), cuman pernah sedikit dapat pengetahuan dari alm eyang soemardi dan membaca bbrp buku. Saya pernah juga membaca tulisan alm eyang Sumasno di SMPK1 tentang Candra sengkala, jadi .... Ini pemahaman pribadi yang mungkin tidak cukup wacana, mohon maaf kalau banyak yang meleset dari makna sebenarnya, frasa yang kental dengan nuansa filosofi Jawa atau Kejawen, yang menggabungkan bahasa Jawa Krama dan Kawi, pada flyer di hut 32 GKJ SIDOMUKTI. Membuat gelitik tersendiri untuk menulisnya. Roso (Rasa): Perasaan, intuisi, batin, atau pemahaman mendalam.
Manembah (Manembah): Menyembah, menghormat, berbakti, atau berserah diri secara total kepada Tuhan/Yang Maha Kuasa.
Sonya (Sunya): Sunyi, sepi, hampa, atau kosong (biasanya merujuk pada keheningan batin).
Netra (Netra): Mata, pandangan, atau penglihatan. "Roso Manembah Sonya Netra" berarti "Rasa berserah diri/penyembahan dalam keheningan pandangan batin".
Ini merujuk pada konsep spiritual di mana seseorang mencapai tingkat tertinggi dalam ibadah atau meditasi, di mana mata fisik tidak lagi memandang dunia, melainkan mata batin (netra) fokus pada keheningan (sonya) untuk menyembah (manembah) Sang Pencipta dengan tulus (roso). Ini adalah wujud ketenangan jiwa dan penyatuan batin dengan Tuhan.
PEMAHAMAN
Roso Manembah Sonya Netra. Dalam tradisi Kejawen Jawa, frasa "Roso Manembah Sonya Netra" menggambarkan puncak spiritualitas: roso (rasa batin mendalam), manembah (penyembahan total), sonya (keheningan hampa), dan netra (pandangan mata batin). Secara keseluruhan, ini berarti "rasa berserah diri dalam keheningan pandangan batin", di mana jiwa menyatu dengan Tuhan melalui meditasi sunyi, melepaskan pandangan duniawi untuk fokus pada Yang Maha Kuasa. Ada tradisi bagi para sesepuh Jawa, ketika mereka mengalami kelelahan dalam hidupnya, agar mereka tidak terseret pada gampang terpancing kemarahan atau emosi dan tidak terpancing melakukan hal yang tidak baik, para sesepuh Jawa melakukan meditasi atau semedi untuk menenangkan pikiran sebelum melanjutkan kembali karyanya, ini seperti apa yang terlihat pada Markus 6:30-32 (TB) Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Konsep ini bukan asing bagi tradisi Alkitabiah. Dalam budaya Ibrani kuno, penyembahan sering melibatkan keheningan batin dan penglihatan rohani, istirahat di tengah kejenuhan atau kelelahan karya ternyata familiar di Alkitab, mirip dengan praktik perenungan di Mazmur. Seperti dalam Mazmur 46:10: "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" (TB). Ayat ini menyerukan sonya—keheningan total—untuk mengenal Tuhan secara roso, di mana hati berserah (manembah) tanpa gangguan dunia. Tradisi Yesus pun memperkuatnya. Dalam kelelahan akan situasi tegang untuk menjemput tugas akhirnya yaitu jalan salib, saat berdoa di Getsemani, Ia menarik diri ke kesunyian: "Matius 26:39... Ia maju sedikit, lalu tersungkur dan berdoa... 'Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.'" Di sini, netra batin Yesus tertuju pada kehendak Bapa, mewujudkan penyembahan tulus dalam hening, bebas dari netra fisik yang melihat penderitaan. Paulus menambahkan dimensi budaya Romawi-Yahudi yang mistik: "Efesus 3:16-17... agar kamu... dikuatkan secara batiniah oleh kuasa Roh-Nya, supaya Kristus by means of faith may dwell in your hearts." Ini paralel dengan roso manembah sonya netra: penguatan batin melalui iman, di mana mata rohani melihat Kristus dalam keheningan hati. Dalam konteks Indonesia, khususnya Jawa, frasa ini bisa menjadi jembatan inkulturasi. Gereja mampu mengadopsi nuansa Kejawen untuk ibadah kontemplatif, seperti meditasi lectio divina atau centering prayer, sambil bertumpu pada Alkitab. Hasilnya? Ketenangan jiwa yang menyatukan tradisi lokal dengan iman Kristen, mengajak kita "berhenti dan menyembah" di tengah hiruk-pikuk karya modern. Dalam tradisi Alkitab, konsep ini bergema kuat di budaya Ibrani, di mana penyembahan bukan sekadar ritual eksternal, melainkan perjumpaan batin sunyi. Ini mirip hakarah (keheningan perenungan) dalam mistikisme Yahudi atau praktik hesychia (kesunyian hati) Kristen Timur. Mazmur penuh dengan panggilan sonya untuk manembah roso. Mazmur 46:10: "Diamlah (raḥapāšû—berhenti/istirahat) dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" (TB). Di sini, keheningan memungkinkan pengenalan Tuhan secara intuitif (roso), melepaskan netra duniawi.
Mazmur 62:1,5: "Hanya kepada Allah saja hatiku diam (dâmรข—sunyi), ya Allah... Hanya kepada Allah saja... tunggulah diam-diam (dâmรข)." Daud menggambarkan sonya netra sebagai sikap pasif aktif: mata batin tertuju Tuhan, jiwa berserah total.Yesaya 30:15: "Demikianlah firman Tuhan, TUHAN, Demikianlah firman Yang Kudus Israel: Dengan berbalik kepada Aku dan diam kamu akan diselamatkan; dalam ketenangan (shaqat) dan dalam kepercayaan (emunah) akanlah kekuatanmu." Ini paralel sempurna: ketenangan batin (sonya) dan iman (roso) menghasilkan kekuatan penyembahan. Yesus mewujudkan konsep ini secara konkret. Markus 1:35: "Pagi-pagi benar, masih gelap, Ia sudah bangun dan pergi ke tempat yang sunyi (eremos—gurun hampa). Di situ Ia berdoa." Sonya netra Yesus di padang sunyi mempersiapkan pelayanan, fokus pada Bapa.
Di Getsemani: Matius 26:39... "Ia maju sedikit, lalu tersungkur dan berdoa... 'Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi.'" Penglihatan batin (netra) mengalahkan rasa takut, lahirkan manembah sempurna.
Paulus memperdalamnya: Efesus 3:16-17... "agar kamu... dikuatkan secara batiniah (esōthen—dari dalam) oleh kuasa Roh-Nya, supaya Kristus oleh iman diam di dalam hati-hati kamu." Ini roso manembah sonya: Kristus mendiami hati sunyi melalui iman. Roma 12:2: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (anakainosis—pembaruan batin), hinggalah kamu dapat menguji, apa kehendak Allah itu." Pembaruan netra batin melepaskan pandangan duniawi. Di Indonesia, terutama Jawa, frasa ini bisa jadi jembatan inkulturasi seperti yang diajarkan Konsili Vatikan II atau sinode Protestan Reformir. Bayangkan liturgi dengan meditasi sonya disertai nyanyian Jawa, bertumpu ayat-ayat ini. Tradisi sสlสk Kejawen (retret sunyi) mirip desert fathers Kristen awal, memperkaya ibadah lokal tanpa kompromi doktrin. Akhirnya, Wahyu 4:8... "siang dan malam mereka tidak berhenti berkata: 'Kudus, kudus, kudus...'" Malaikat di hadirat Takhta abadi dalam sonya manembah, visi netra surgawi. Ini panggilan bagi kita: capai "Roso Manembah Sonya Netra" melalui Firman. "Roso Manembah Sonya Netra" (roso: rasa batin; manembah: berserah total; sonya: keheningan hampa; netra: mata rohani) menggambarkan penyembahan intim dengan Tuhan di keheningan batin. Dalam tradisi Protestan Reformir, ini selaras dengan sola scriptura dan kedaulatan Allah—bukan mistisisme subyektif, tapi perenungan Firman yang menghasilkan manembah tulus, seperti ditekankan John Calvin dalam Institutesn(III.20): ibadah sejati lahir dari hati yang diam di hadirat Allah. Reformator menghargai Mazmur sebagai panduan doa kontemplatif. Mazmur 46:10: "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!" Calvin melihat ini sebagai panggilan sonya untuk mengenal kedaulatan Tuhan, melepaskan netra duniawi demi roso iman. Mazmur 62:1,5: "Hanya kepada Allah saja hatiku diam... tunggulah diam-diam." Ini esensi quietus animus Calvin—keheningan batin yang berserah (manembah), fondasi solusi Reformasi terhadap ibadah ritualistik. Yesaya 30:15: "Dalam ketenangan dan dalam kepercayaan akanlah kekuatanmu." Reformir seperti Puritans menggunakannya untuk meditasi pribadi, menolak "kekerasan eksternal" demi kekuatan rohani dalam sonya netra. Di konteks STFT Jakarta dan Sekolah Tinggi Reformasi Baptis Indonesia, "Roso Manembah Sonya Netra" bisa diinkulturasi via quiet time harian, meditasi lectio continua (bacaan Alkitab berurutan ala Calvin), atau kidung Jawa reformis seperti aransemen "Bagimu Kudus" dalam sonya. Westminster Confession (Ch.21) mendukung: ibadah sederhana, tapi penuh roh batin. Habakuk 2:20 penutup Reformir: "Tetapi TUHAN ada di tempat kudus-Nya: diamlah segenap bumi di hadapan-Nya!" Sonya manembah universal, panggilan gereja Reformir Jawa untuk penyembahan yang murni, rohani, dan budaya relevan.
(07042926)(TUS)