Minggu, 24 Mei 2026

Sudut Pandang berpusat pada Kristus bukan khotbah yang menyenangkan dan tidak bergantung pada jabatan gerejawi

Sudut Pandang berpusat pada Kristus bukan khotbah yang menyenangkan dan tidak bergantung pada jabatan gerejawi

PENGANTAR 
Khotbah itu ada 4 unsur, Pameleh (menegur), Paweling (mengingatkan), Pamulang (mengajar), Panglipur (menghibur), dari dulu saya diajari alm Pdt Brotosemedi, alm Mbah Soemardi, alm pak Prabowo ditekankan khotbah tidak selalu menghasilkan damai sejahtera, kadang malah kegelisahan, khotbah tidak selalu menyenangkan, tapi lebih untuk mempertanyakan diri, bukan saja diri umat, tetapi diri pengkhotbah sendiri.
Dalam dunia pelayanan atau kepemimpinan rohani, ada batas yang sangat tipis namun fatal antara mengarahkan orang kepada Tuhan dan mengarahkan orang pada figur dirinya sendiri atau mengarahkan ke pimpinan gereja. Hati-hati ketika gereja anti kritik dan umat malas bertanya.
PEMAHAMAN 
Ketika seorang pemimpin rohani atau pengajar agama mulai membangun komunitas atau membangun circle atau membangun club bukan persekutuan, bukan gereja, bukan church di mana semua keputusan, kebenaran, dan ketergantungan berpusat hanya pada karisma pribadinya, atau gerak karya bergereja hanya bertumpu pada circle tertentu, atau hanya bertumpu pada umat tertentu  bukan suatu kebersamaan umat, gereja tidak lagi bertumpu pada kebersamaan majelis dan umat tapi bertumpu pada circle umat tertentu dalam gereja, saat itulah esensi iman yang sejati mulai bergeser, mulai dipertanyakan. Persekutuan yang sehat adalah persekutuan yang mendidik anggotanya untuk merdeka, berpikir kritis, dan memiliki hubungan pribadi yang langsung dengan Tuhan, bergerak bersama, duduk sama rendah berdiri sama tinggi,  tak ada yg diidolakan selain Kristus.
Jika pengikutnya hanya bisa "manut" tanpa ruang untuk menguji kebenaran berdasarkan firman Tuhan, umat miskin tanya, pimpinan antikritik maka persekutuan  atau gereja tersebut perlahan-lahan berubah menjadi kelompok / circle / club / komunitas  yang eksklusif, fanatik, dan berbahaya bagi kesehatan mental serta spiritual umatnya. Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil membuat dirinya "semakin kecil" agar figur Tuhan "semakin besar" di mata umatnya. Ada mahasiswa saya yang pernah bertanya, lalu bagaimana dengan pernyataan Paulus: "Ikutilah teladanku" dalam terjemahan lain "Jadilah pengikutku?" Bukankah ini sentralisasi kharismatik seorang pemimpin?
Sekilas, pernyataan Rasul Paulus dalam Alkitab (1 Korintus 11:1) terdengar sangat berani dan egois. Namun, jika kita melihat kalimat tersebut secara utuh, maknanya justru berbanding terbalik dengan sikap narsistik seorang pemimpin kelompok sesat.

"Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." (1 Korintus 11:1)

Ada dua alasan utama mengapa pernyataan Paulus ini justru menjadi standar utama kepemimpinan yang sehat:

1. Adanya syarat dan batas yang jelas (sama seperti aku...) 
Paulus tidak meminta orang mengikutinya secara membabi buta. Kalimatnya mengandung sebuah syarat: Selama saya meneladani Kristus, ikutilah saya. Jika saya melenceng dari Kristus, jangan ikuti saya. Ini adalah bentuk transparansi dan akuntabilitas, bukan penyerahan diri total tanpa syarat kepada manusia.

2. Fungsi sebagai "penunjuk jalan", bukan "tujuan akhir" 
Bagi Paulus, hidupnya hanyalah sebuah cermin atau alat bantu visual bagi orang-orang yang baru belajar mengenal iman. Ketika dia berkata "ikutilah aku", dia sedang memposisikan diri sebagai mentor yang mempraktikkan ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, agar orang lain tahu cara memulainya. Tujuannya tetap satu: membawa orang tersebut kepada Kristus, bukan mengikat mereka pada pribadi Paulus.

Seorang pemimpin yang sehat akan berani berkata seperti Paulus karena hidupnya bisa dipertanggungjawabkan dan bertanggung jawab atas hidupnya, punya sikap mandiri serta tidak didikte orang lain, tidak didikte umat kaya namun ia tidak akan pernah membiarkan umatnya bergantung sepenuhnya pada dirinya, tapi melepaskannya agar meneladan Kristus bukan berpusat pada dirinya. Ada usaha regenerasi. Kemampuan untuk melepaskan dan tidak tergantung pada jabatan gerejawi, tetapi tetap Kristus yg diutamakan, membuat tidak takut dibenci orang, karena Kristus pun menapaki jalan kesunyian untuk tujuan muliaNya.

"Sebab jabatan kami bukanlah untuk mengikat hati manusia kepada diri kami sendiri, melainkan untuk mempertunangkan jiwa-jiwa mereka kepada Kristus."
— Thomas Brooks (1608-1680)
(31052026)(TUS)

Sudut Pandang Penafsiran Alkitab Kontekstual Berdasarkan Ayat Terkait dan Penggunaan Leksionari PENGANTAR Dalam studi teologi biblika, penaf...