Dalam dunia pelayanan atau kepemimpinan rohani, ada batas yang sangat tipis namun fatal antara mengarahkan orang kepada Tuhan dan mengarahkan orang pada figur dirinya sendiri.
Ketika seorang pemimpin rohani atau pengajar agama mulai membangun komunitas di mana semua keputusan, kebenaran, dan ketergantungan berpusat hanya pada karisma pribadinya, saat itulah esensi iman yang sejati mulai bergeser. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mendidik anggotanya untuk merdeka, berpikir kritis, dan memiliki hubungan pribadi yang langsung dengan Tuhan.
Jika pengikutnya hanya bisa "manut" tanpa ruang untuk menguji kebenaran berdasarkan firman Tuhan, maka komunitas tersebut perlahan-lahan berubah menjadi kelompok yang eksklusif, fanatik, dan berbahaya bagi kesehatan mental serta spiritual anggotanya.
Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil membuat dirinya "semakin kecil" agar figur Tuhan "semakin besar" di mata umatnya.
Ada yang pernah bertanya, lalu bagaimana dengan pernyataan Paulus: "Ikutilah teladanku" dalam terjemahan lain "Jadilah pengikutku?"
Sekilas, pernyataan Rasul Paulus dalam Alkitab (1 Korintus 11:1) terdengar sangat berani dan egois. Namun, jika kita melihat kalimat tersebut secara utuh, maknanya justru berbanding terbalik dengan sikap narsistik seorang pemimpin kelompok sesat.
"Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." (1 Korintus 11:1)
Ada dua alasan utama mengapa pernyataan Paulus ini justru menjadi standar utama kepemimpinan yang sehat:
1. Adanya syarat dan batas yang jelas (sama seperti aku...)
Paulus tidak meminta orang mengikutinya secara membabi buta. Kalimatnya mengandung sebuah syarat: Selama saya meneladani Kristus, ikutilah saya. Jika saya melenceng dari Kristus, jangan ikuti saya. Ini adalah bentuk transparansi dan akuntabilitas, bukan penyerahan diri total tanpa syarat kepada manusia.
2. Fungsi sebagai "penunjuk jalan", bukan "tujuan akhir"
Bagi Paulus, hidupnya hanyalah sebuah cermin atau alat bantu visual bagi orang-orang yang baru belajar mengenal iman. Ketika dia berkata "ikutilah aku", dia sedang memposisikan diri sebagai mentor yang mempraktikkan ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, agar orang lain tahu cara memulainya. Tujuannya tetap satu: membawa orang tersebut kepada Kristus, bukan mengikat mereka pada pribadi Paulus.
Seorang pemimpin yang sehat akan berani berkata seperti Paulus karena hidupnya bisa dipertanggungjawabkan, namun ia tidak akan pernah membiarkan umatnya bergantung sepenuhnya pada dirinya.
"Sebab jabatan kami bukanlah untuk mengikat hati manusia kepada diri kami sendiri, melainkan untuk mempertunangkan jiwa-jiwa mereka kepada Kristus."
— Thomas Brooks (1608-1680)