Minggu, 24 Mei 2026

𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔]
4 Juni 2023

𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖!

Minggu lalu umat Kristen merayakan Pentakosta. Hari raya Pentakosta Yahudi pertama sesudah kematian dan kebangkitan Yesus secara tradisi menjadi hari lahir Gereja. Pentakosta, yang sebelumnya merupakan festival atau pesta syukur panen masyarakat Yahudi, oleh Gereja diberi muatan pencurahan Roh Kudus.

Pada waktu itu umat Kristen masih dari bangsa Yahudi. Perbedaannya mereka percaya bahwa Yesus adalah Kristus atau Mesias. Kristen dan Yahudi masih hidup rukun. Kerukunan mula terusik dan berubah dahsyat ketika bangsa Yahudi memberontak terhadap Pemerintah Roma pada sekitar tahun 66 ZB. Umat Kristen cinta bangsa dan budaya Yahudi, tetapi mereka memegang teguh ajaran Yesus untuk mengamalkan kasih. Mereka tidak mau ikut angkat senjata seperti kaum Zelot.

Pada tahun 70 ZB Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah di Yerusalem dan memadamkan pemberontakan. Bagi bangsa Yahudi kehancuran Bait Allah adalah akhir zaman. Mereka terguncang. Kaum Farisi, yang sejak semula menolak Yesus, mengambil alih kepemimpinan agama Yahudi. Mereka menekankan Taurat dan tradisi leluhur sebagai satu-satunya penangkal malapetaka. Umat Kristen diusir dari masyarakat Yahudi dan dikucilkan. 

Umat Kristen kebingungan karena mereka tidak sepaham dengan orang Yahudi pada pihak satu, tetapi mereka berakar kuat dalam Yudaisme pada pihak lain. Mereka menjadi kelompok asing di lingkungan mereka sendiri. Dalam pada itu banyak orang kafir menerima Kristus. Mereka berbeda dari orang-orang Yahudi dan mereka tidak mau menerima gaya hidup Yudaisme karena mereka dari budaya Grika. Umat Kristen dari kalangan Yahudi seperti kehilangan jatidiri. Dalam krisis inilah penulis Injil Matius hendak mengatasinya. Banting stir!

Pengarang Injil Matius membimbing Jemaatnya bahwa Injil bukan untuk orang-orang Yahudi saja, melainkan untuk segala bangsa. Pada mulanya Injil diwartakan kepada orang-orang Yahudi, tetapi ditolak, kemudian Injil diberitakan kepada bangsa lain. Mereka justru menerima. Hal ini dapat dilihat dari pembukaan Injil Matius yang orang-orang Majus datang menyembah Yesus, sedang Raja Herodes malah hendak membunuh Yesus.

Jemaat Matius tampaknya Gereja yang sudah cukup mapan dalam arti mereka sudah terorganisasi cukup rapi dengan liturgi yang teratur. Sebagai contoh Jemaat Matius sudah menggunakan formula baptisan 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 (Mat. 28:19). Bandingkan dengan Jemaat Lukas (Kis. 2:38; 10:48) dan Jemaat bentukan Rasul Paulus di Korintus (1Kor. 6:11) yang masih dibaptis dengan formula 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘒𝘳𝘪𝘴𝘵𝘶𝘴.

Jemaat Matius sudah diorganisasi oleh para pemimpin. Para pemimpin itu bertindak dengan wibawa Tuhan. Namun, tidak semua pemimpin itu terandalkan. Di antara mereka ada yang menjadi 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘰𝘮𝘣𝘢. Sasaran pembaca Injil Matius adalah warga Jemaat Matius yang sudah cukup tua, berumur 40-an, karena merekalah sumber konflik.

Hari ini adalah Minggu pertama sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 28:16-20 yang didahului dengan Kejadian 1:1-2:4a, Mazmur 8, dan 2Korintus 13:11-13.

Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥. Konteks terdekat Matius 28:16-20 adalah pasal 26 -28 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯. Keseluruhan pasal itu berbentuk narasi.

Sebelum masuk ke pembahasan bacaan, baiklah kita meninjau sekilas kisah yang mendahului perikop Minggu ini. Dua perempuan, Maria Magdalena dan Maria yang lain, pergi untuk menengok kubur Yesus. Mereka mengalami gempa dahsyat dan melihat malaikat Tuhan menggulingkan batu besar penutup kubur Yesus. Mereka kemudian masuk ke kubur (berbentuk goa), tetapi tidak ada jenazah Yesus. Di dalam kubur malaikat Tuhan berkata kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵, 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘐𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪. 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢; 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘋𝘪𝘢.” (Mat. 28:5-7).

Dua perempuan itu segera pergi dari kubur itu dengan takut dan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus (Mat. 28:8). Tiba-tiba Yesus-Paska menjumpai mereka dan berkata, “𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶!” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Kata Yesus kepada mereka, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵. 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘬𝘶.” (Mat. 28:9-10).

Bacaan Injil Minggu ini mengisahkan 11 murid Yesus (tentu tanpa Yudas Iskariot) berangkat ke Galilea atas perintah Yesus lewat dua perempuan di atas untuk menjumpai Yesus. Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu (Mat. 28:16-17). Mengapa ragu-ragu? Ada dua tafsir.

Pertama. Ada tafsir yang menyebut tubuh kebangkitan Yesus sama sekaligus berbeda dari tubuh Yesus sebelum kematian seperti dalam kisah penampakan Yesus di Injil Lukas dan Yohanes. Di sana para murid tidak langsung mengenali Yesus. Bahasa Jawanya 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘭𝘪𝘯𝘨. Namun, kalau kita melihat perjumpaan pertama Yesus dengan Maria Magdalena dan Maria yang lain, kedua perempuan ini tidak 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘭𝘪𝘯𝘨 kepada Yesus (Mat. 28:9-10). Jadi, murid-murid yang ragu-ragu tampaknya bukan karena 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘭𝘪𝘯𝘨.

Kedua. Mari kita telisik perkataan Yesus sebelumnya kepada dua perempuan itu “… 𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖-𝙆𝙪 …” (ay. 10). Di sana Yesus tidak menyebut 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘒𝘶, melainkan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶. 

Dalam Injil Matius tampaknya perubahan sebutan dari 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘒𝘶 menjadi 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶 adalah bentuk pengampunan. Para murid merasa gagal dan takut mendampingi Yesus dalam masa sengsara-Nya. Untuk membangkitkan percaya diri para murid dan untuk menunjukkan bahwa Yesus-Paska tidak marah atas kegagalan mereka, Yesus-Paska mengubah sebutan lebih akrab dengan 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢-𝘒𝘶. Tafsir ini didukung dengan perikop sesudahnya. Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi menyuap serdadu-serdadu penjaga kubur Yesus untuk menyebarkan 𝘩𝘰𝘢𝘹 mayat Yesus dicuri oleh murid-murid Yesus (Mat. 28:11-15). Di sini para murid akan menghadapi masalah lebih berat lagi karena mereka akan menjadi tersangka pembuat 𝘩𝘰𝘢𝘹 Yesus bangkit yang mengganggu ketertiban dan ketenteraman Yudea, wilayah jajahan Romawi. Tampaknya Yesus hendak membangkitkan rasa percaya diri para murid. Meskipun Yesus sudah mengubah sebutan kepada murid-murid, tampaknya beberapa murid ragu-ragu dan mengira Yesus masih marah.

Yesus mendekati mereka dan berkata, “𝘒𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪.” (ay. 18). Yesus kemudian memberi tiga perintah (ay. 19-20).

Perintah Yesus, “Pergilah,
1. jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan
2. baptiskanlah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan
3. ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

Ketiga perintah itu adalah satu-kesatuan, yang kemudian dikenal sebagai 𝘈𝘮𝘢𝘯𝘢𝘵 𝘈𝘨𝘶𝘯𝘨 atau 𝘛𝘩𝘦 𝘎𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘊𝘰𝘮𝘮𝘪𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯. Dalam praktik penekanan Amanat Agung hanya pada perintah pertama dan kedua.

Ternyata dalam sejarah misi Gereja purba sampai abad ke-18 ayat ini tidak dijadikan landasan. Teks ini baru dibicarakan secara pejal di Gereja-Gereja berbahasa Jerman pasca-reformasi. Pada abad ke-19 Gereja-Gereja di Inggris baru menyebut dan memahaminya sebagai Amanat Agung. Adalah suatu kebetulan pemahaman ini bertumpangsusun (𝘰𝘷𝘦𝘳𝘭𝘢𝘱) dengan kejayaan kolonialisme Barat. Kejayaan dan semangat kolonialisme itu tidak didasari Amanat Agung. Namun, kita tidak dapat mengelak bahwa ada badan misi Kristen yang membonceng para kolonialis itu terutama kolonialis mapan.

Rupanya para pengemban Amanat Agung itu melupakan perintah Kristus yang justru amat sangat penting, yang ironisnya merupakan bagian langsung tak terpisahkan dari teks Amanat Agung itu sendiri: 𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙆𝙪𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙪. Apa yang diajarkan? Tentu saja seluruh narasi Injil Matius. Konsekuensi logisnya Amanat Agung menjadi tidak esensial.

Kita ambil contoh Matius pasal 5 – 7 yang disebut oleh LAI sebagai 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵. Ajaran dalam tiga pasal itu tentang dasar hidup para pendengar bermasyarakat. Baku bahagia menurut Yesus berbeda sama sekali menurut pemahaman banyak orang. Yang sungguh menggelikan teks Matius 7:12 kerap disingkirkan atau pura-pura dilupakan oleh orang Kristen 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬𝘪 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘐𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮 𝘛𝘢𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢𝘣 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪.

Kisah Yesus memberi makan empat ribu orang (Matius 15:32-39) juga kerap ditenggelamkan oleh kisah Yesus memberi makan lima ribu orang (Matius 14:13-21). Kisah di Matius 15 terjadi di daerah bukan basis Yahudi. Yesus memberi makan mereka. Setelah mereka kenyang, Yesus menyuruh mereka pulang. Orang Inggris bilang, “𝘛𝘩𝘢𝘵’𝘴 𝘪𝘵!” Tidak ada kisah pertobatan. Apabila narasi terus berjalan kita akan berjumpa dengan perikop 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 (Matius 25:31-46). Siapakah yang akan selamat menurut Yesus dalam perikop ini? 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗼𝗹𝗼𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗶 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻, 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝗿𝗴𝗶𝗻𝗮𝗹, 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽 𝗵𝗶𝗻𝗮 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗺𝗮𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝗸𝗮𝘁!

Dalam 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 Yesus juga menekankan menjadi baik bukanlah inti dalam mengikuti-Nya sebagai murid. Berbuat baik juga dikejar oleh orang-orang yang tak mengenal Allah. Yesus sendiri bersikap positif kepada orang-orang yang berbuat baik, meskipun tak mengenal Allah, akan tetapi menjadi murid Yesus jangan diturunkan derajatnya hanya sekadar menjadi baik. Menjadi murid Kristus yang baik tetapi tidak mengaitkan imannya pada permasalahan struktural, hanya berpumpun pada dosa individual, tetapi abai pada dosa struktural di dalam masyarakat, belumlah menghayati hakikat 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵.

Dari penjelasan ringkas di atas perintah 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 bukan semata-mata lewat tuturan kata, namun lewat gaya hidup. Yesus sudah mencontohkan gaya hidup hamba seperti dalam teks Matius 12:15b-21. Bergaya hidup hamba berarti dengan segala kerendahhatian mengamalkan ajaran Kristus dalam narasi Matius secara serbacakup. Kita adalah murid Yesus. Namun yang sering terjadi murid membuat diri lebih terkenal daripada Gurunya. Ironisnya lagi pengajaran pendeta dari mimbar lebih banyak tema doktriner 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩. Secara didaktik ini tidak menopang, melainkan menggemburkan fondasi. Pijakan makin lemah. Umat tetap bodoh dan kekanak-kanakan.


𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔] 4 Juni 2023 𝘼𝙟𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖! Ming...