Rabu, 03 Juni 2026

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

PENGANTAR
Gereja ngomong ekologi modalnya emosi sesaat. Kalau membaca artikel tentang teologi ekologi yang mereka tulis, isinya tidak berbeda dari menengking penyakit. Ujung-ujungnya nyalahin umat, padahal ia nggak tahu apa-apa soal ekologi. Makanya, ketika issue ekologi diangkat oleh lp3s saat paskah, banyak laman pendeta GKJ and GKI sw Jateng yg kisruh protes akan bahan issue itu, banyak juga laman yg berdenging sampai saat ini. Blom move on kali. Menanggapi konflik agraria Papua dalam film Pesta Babi
Kondisi:
Hutan sagu dibabat untuk sawah. Tanah ulayat diambil atas nama “ketahanan pangan”. Yang satu bilang kemajuan, yang lain merasa kehilangan rumah dan identitas. Di tengahnya ada air mata Yasinta Moiwend & Vincen Kwipalo. Kalau kita melirik Alkitab, kita bisa melihat bbrp referensi seperti Mazmur 24:1, “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”
Tanah Papua bukan milik negara, bukan milik korporasi, bukan juga milik suku. Semua tanah adalah milik Tuhan. Kita hanya pengelola. Kalau pengelolaan bikin sesama kehilangan pangan & martabat, kita harus bertanya: ini kehendak Pemilik tanah atau nafsu manusia? Yesaya 5:8, “Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan yang menambahkan ladang demi ladang, sehingga tidak ada tempat lagi bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di negeri!” Allah mengecam kerakusan agraria sejak zaman nabi. “Ketahanan pangan” tidak boleh jadi alasan merampas pangan orang lain. Sagu adalah beras bagi orang Marind. Mengganti sagu dengan padi tanpa persetujuan mereka = menyerobot rumah. Amsal 14:31, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.” Pembangunan yang menginjak yang lemah bukan memuliakan Tuhan, tapi menghina-Nya. Sebab Pencipta orang Marind, Awyu, Muyu, Yei adalah Allah yang sama. Mikha 6:8, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Tiga kata kunci buat pemerintah, korporasi, gereja, & kita: Adil, Setia. Rendah hati. Tidak ada “proyek strategis nasional” yang lebih tinggi dari tiga hal ini.
Film _Pesta Babi_ (2026) karya Dandhy Laksono & Cypri Paju Dale memang banyak bahas program pencetakan sawah di Papua Selatan. Saya mencoba melihat Ini data valid yang diangkat/disinggung di film dari data resmi pemerintah terkait programnya: Data Kementan lengkap: pshttp://p.pertanian.go.id dan juga Liputan http://Konde.co soal film & kronologi proyek 03264239c5eb
MIRE - Merauke Integrated Rice Estate, 2007, Era SBY. Target cetak sawah skala besar. Gagal, MIFEE - Merauke Integrated Food And Energy Estate, 2010
   Era SBY. Target pangan + energi. Gagal, Food Estate Era Jokowi, Program cetak sawah 1,2 juta hektare. Disebut gagal, Proyek Era Prabowo Subianto. Disebut merampas 2,5 juta hektare atau 5x luas Pulau Bali untuk ketahanan pangan & energi. Hutan dibabat jadi ladang tebu untuk gula & bioetanol. Konflik utama di film:

1. Deforestasi besar-besaran hutan sagu → sumber pangan utama masyarakat adat.
2. Tanah ulayat diubah jadi lahan monokultur sawit, tebu, dan sawah untuk biodiesel, bioetanol, & program ketahanan pangan.
3. Tradisi _Pesta Babi_ dipakai sebagai metafora kritik: ritual syukur & persatuan vs eksploitasi tanah adat tanpa persetujuan. 
PEMAHAMAN
Saya hanya pingin mengungkap bahayanya pencetakan sawah di tanah gambut, ini tidak dipikirkan dan membagongkan.
𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵
Kemarin saya menyinggung di laman saya, pencetakan sawah secara ekstensif akan menimbulkan bahaya pelepasan gas metan yang merusak kesehatan ozon. Bagaimana penjelasannya?

Metan (CH4) bersama CO2 dan NO2 masuk ke golongan gas rumahkaca. Namun, gas metan sangat kuat, 28 – 34 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam memerangkap panas (20 – 100 tahun jangka waktu).

Mengapa sawah menghasilkan gas metan?

Sawah selalu tergenang sehingga kondisi menjadi anaerob. Ketika tanah digenangi air, oksigen tidak dapat masuk ke dalam tanah. Akibatnya mikrobia yang hidup di dalam tanah beralih ke metabolisme anaerob.

Mikrobia anaerob menghasilkan metana. Dalam kondisi tanpa oksigen sekelompok mikrobia khusus yang disebut metanogen mengurai bahan organik di tanah seperti: sisa-sisa jerami, akar tanaman yang mati, bahan organik alami tanah. Proses penguraiannya menghasilkan CH₄ (metana) sebagai produk sampingan. Fenomena yang sama seperti gas yang muncul di rawa, karena kondisinya mirip.

Sawah sangat luas sehingga emisi akumulatif besar. Apabila pencetakan sawah dilakukan masif dan ekstensif, maka luas lahan yang tergenang meningkat, jumlah metanogen meningkat, total produksi CH₄ naik dahsyat. Pada skala nasional sawah menjadi satu dari sejumlah sumber gas metan terbesar pada sektor pertanian.

Beberapa hal yang dapat membuat emisi lebih tinggi:
▶️ Jerami dibenamkan (banyak bahan organik untuk diurai)
▶️ Air tergenang tanpa jeda (tanpa fase oksigen, metanogen berkembang terus)
▶️ Pemupukan tertentu (misal urea berlebihan)
▶️ Jenis tanah kaya bahan organik

Pada zaman Orba Indonesia sudah mengalami tragedi pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut di Kalimantan. Projek ini pada akhirnya menjadi bencana. Prof. Tejoyuwono yang kala itu menjadi konsultan utama untuk pemulihan mengatakan bahwa dibutuhkan waktu sedikitnya 100 tahun untuk mengembalikan status lahan sampai nilai marginal, dan itu pun pemulihan lahan gambut hanya memperbaiki yang tersisa, tidak mengembalikan volume yang sudah lenyap.

Mengapa pencetakan sawah sejuta hektar dari lahan gambut itu menjadi tragedi?

Gambut terbentuk dari bahan organik yang menumpuk ribuan tahun dalam kondisi jenuh air sehingga tidak teroksidasi. Ketika dikeringkan, oksigen masuk ke pori-pori tanah, mikrobia menguraikan bahan organik. Dalam proses ini ia melepaskan CO₂ dalam jumlah besar.

gambut → kering → teroksidasi → habis menjadi CO₂

Indonesia menanggung banyak emisi karbon dunia dari proses ini.

Gambut yang mengering menjadi menyusut, memadat, hilang volumenya. Dampaknya
permukaan tanah turun 2–5 cm per tahun (bahkan lebih pada awalnya), daerah menjadi lebih rendah daripada permukaan air, rawan banjir, dan sulit dikembalikan. Ini berarti gambut “hilang” secara fisikal, bukan hanya kimiawi.

Gambut kering menjadi mudah terbakar, merembet ke bawah (𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥 𝘧𝘪𝘳𝘦), dan sulit dipadamkan. Kebakaran gambut mengakibatkan kabut asap lintas negara, kerusakan ekosistem besar, pelepasan CO₂, CO, PM2.5, dan toksin lainnya.

Gambut basah dapat menyimpan air seperti spons, tetapi saat ia dikeringkan pori-porinya rusak. Kapasitas menyimpan air hilang: mudah terbakar, mudah banjir.

Dari tragedi gambut ini sebenarnya Pemerintah punya cermin besar untuk berkaca diri.





Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵

Sudut Pandang 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗲𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵 PENGANTAR Gereja ngomong ekologi modalnya emosi sesaat. Kala...